<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cuaca Indonesia - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/cuaca-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/cuaca-indonesia/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2026 09:40:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>Cuaca Indonesia - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/cuaca-indonesia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BMKG: El Nino Semakin Kuat Kemarau 2026 Bakal Panjang</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 09:40:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[El Niño]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Info BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Musim Kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=18139</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus di hampir separuh wilayah Indonesia. Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino yang kini telah memasuki kategori kuat. Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diklasifikasikan berdasarkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/">BMKG: El Nino Semakin Kuat Kemarau 2026 Bakal Panjang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus di hampir separuh wilayah Indonesia. Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino yang kini telah memasuki kategori kuat.</p>
<p>Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diklasifikasikan berdasarkan tingkat intensitas, mulai dari lemah, moderat, kuat, hingga sangat kuat.</p>
<p>&#8220;Untuk menggambarkan fenomena El Nino, kekuatannya, kami menggunakan intensitas, dari mulai El Nino lemah, El Nino moderat, dan El Nino kuat hingga sangat kuat. Jadi, tidak ada istilah El Nino lain selain itu,&#8221; jelasnya dalam Webinar Kesiapsiagaan Bidang Kesehatan Menghadapi El Nino di Jakarta, Rabu (1/7).</p>
<p>Menurut Fachri, El Nino merupakan salah satu fenomena iklim global yang berpengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia, selain fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Saat ini, El Nino telah aktif dan dampaknya dirasakan di berbagai kawasan dunia.</p>
<p>&#8220;Memang El Nino sudah aktif. Dampaknya bukan cuma di Indonesia, tetapi terjadi secara global di berbagai belahan bumi,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski demikian, dampak El Nino tidak seragam di setiap wilayah. Fachri menjelaskan, sejumlah kawasan seperti Amerika Selatan, Amerika Tengah, Asia Timur, dan Afrika Barat justru berpotensi mengalami peningkatan curah hujan. Sebaliknya, sebagian besar kawasan Asia-Oseania, termasuk Indonesia, diprediksi mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan normal.</p>
<p>&#8220;Sebagian besar Asia-Oseania, termasuk Indonesia, menjadi lebih kering daripada kondisi normalnya. Jadi dampak El Nino tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan lain di muka bumi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>BMKG memantau perkembangan El Nino melalui perubahan suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 yang berada di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Berdasarkan hasil pemantauan hingga dasarian II Juni 2026, indeks ENSO telah mencapai angka positif 1,6 yang menandakan El Nino berada pada kategori kuat.</p>
<p>&#8220;Pada dasarian II Juni 2026, indeks ENSO sudah mencapai positif 1,6, artinya saat ini El Nino sudah terjadi atau berlangsung dengan kategori kuat. Kalau di atas 1,5 berarti sudah masuk kategori kuat,&#8221; jelas Fachri.</p>
<p>Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia bagian barat Indonesia masih berada pada fase netral, meskipun berpotensi berkembang menjadi fase positif dalam beberapa waktu ke depan.</p>
<p>Analisis BMKG menunjukkan curah hujan mulai mengalami penurunan di sebagian besar wilayah Sumatra dan Jawa sejak Mei 2026. Sebaliknya, wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua masih didominasi curah hujan dengan kategori menengah hingga tinggi.</p>
<p>BMKG juga mencatat peningkatan jumlah hari tanpa hujan di sejumlah daerah. Wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) bahkan telah mengalami lebih dari 30 hari berturut-turut tanpa hujan.</p>
<p>Berdasarkan data BMKG, rekor hari tanpa hujan terpanjang mencapai 52 hari yang tercatat di Pos Hujan Keraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.</p>
<p>Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 263 dari 699 Zona Musim atau sekitar 37,6 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Waktu kedatangan musim kemarau bervariasi di setiap daerah. Sebagian wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT telah mengalaminya sejak Mei, sedangkan sejumlah wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua baru mulai memasuki musim kemarau pada periode Juni hingga Juli.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020, sebanyak 308 Zona Musim atau sekitar 39,77 persen wilayah diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari kondisi normal.</p>
<p>&#8220;Nah, dari sini kita bisa melihat bahwa dominan musim kemarau di Indonesia datangnya lebih dulu, lebih maju. Ini tentu akan mengakibatkan durasi musim kemaraunya berbeda,&#8221; kata Fachri.</p>
<p>BMKG memperkirakan sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia akan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Sementara itu, sekitar 12,26 persen wilayah diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli, sedangkan 25,4 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalaminya pada September.</p>
<p>Selain datang lebih awal, musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih lama. Sebanyak 437 Zona Musim atau sekitar 48,7 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi klimatologis normal.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/">BMKG: El Nino Semakin Kuat Kemarau 2026 Bakal Panjang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BMKG Sebut Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang dari Biasanya</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/06/13/bmkg-sebut-musim-kemarau-2026-diprediksi-lebih-panjang-dari-biasanya/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/06/13/bmkg-sebut-musim-kemarau-2026-diprediksi-lebih-panjang-dari-biasanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 07:33:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[LINGKUNGAN HIDUP dan KEHUTANAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Hidrometeorologi]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[curah hujan]]></category>
		<category><![CDATA[El Niño]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[kekeringan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Musim Kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Prediksi Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Puncak Kemarau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=17705</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada periode Juli hingga Agustus 2026. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, seiring meningkatnya potensi terjadinya fenomena El Nino. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa puncak musim kemarau akan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/13/bmkg-sebut-musim-kemarau-2026-diprediksi-lebih-panjang-dari-biasanya/">BMKG Sebut Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang dari Biasanya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada periode Juli hingga Agustus 2026. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, seiring meningkatnya potensi terjadinya fenomena El Nino.</p>
<p>Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa puncak musim kemarau akan terjadi secara bertahap di berbagai daerah mulai Juli hingga September 2026.</p>
<p>Menurut Ardhasena, sebanyak 83 zona musim atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli 2026.</p>
<p>&#8220;Pada Agustus, mayoritas sebanyak 369 zona musim, atau 48,84 persen dari luas daratan Indonesia. Dan September, yaitu sebanyak 169 zona musim, yang mencakup 25,41 persen luas daratan wilayah Indonesia,&#8221; ujar Ardhasena dalam konferensi pers pemaparan perkembangan musim kemarau 2026 di Jakarta, Rabu (10/6/2026).</p>
<p>BMKG memperkirakan wilayah yang mengalami puncak kemarau pada Juli meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan, sebagian kecil Jawa, wilayah selatan Nusa Tenggara Timur, bagian utara Sulawesi Barat, wilayah barat Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, serta Papua bagian timur.</p>
<p>Sementara itu, pada Agustus, puncak musim kemarau diprediksi terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, mayoritas wilayah Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara.</p>
<p>Adapun pada September, puncak kemarau diperkirakan melanda sebagian Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sejumlah wilayah Maluku, serta kawasan Pegunungan Tengah Papua.</p>
<p>Selain memprediksi waktu puncak kemarau, BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.</p>
<p>&#8220;Durasi musim kemarau 2026 ini kita prediksi lebih panjang, jadi masih konsisten dengan informasi yang kami sampaikan pada Maret yang lalu, yaitu sebanyak 437 zona musim yang mencakup 48,77 persen luas daratan wilayah Indonesia,&#8221; kata Ardhasena.</p>
<p>Data BMKG menunjukkan sebanyak 70 zona musim atau sekitar 8,32 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami durasi kemarau yang sama dengan kondisi normal. Sementara itu, hanya 79 zona musim atau sekitar 9,23 persen wilayah yang diperkirakan mengalami musim kemarau lebih singkat.</p>
<p>Secara umum, BMKG menilai musim kemarau 2026 datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis. Curah hujan selama periode kemarau juga diperkirakan berada di bawah normal, sehingga kondisi cuaca cenderung lebih kering dari biasanya.</p>
<p>&#8220;Puncak musim kemarau diprediksi sebagian besar terjadi pada Agustus. Durasi musim kemarau diprediksi lebih panjang dari normal. Sehingga secara total kita melihat konsistensi pesan yang telah kami sampaikan sama dengan prediksi yang kami sampaikan pada Maret yang lalu,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah antisipatif sejak dini.</p>
<p>Di sektor pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, membutuhkan lebih sedikit air, dan memiliki masa tanam yang lebih singkat.</p>
<p>Untuk sektor sumber daya air, pemerintah daerah didorong melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki sistem distribusi air, serta memastikan ketersediaan pasokan air bagi masyarakat.</p>
<p>Sementara di sektor energi, BMKG mengingatkan pentingnya menjaga cadangan air di bendungan guna mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pada sektor lingkungan dan kesehatan, diperlukan sistem respons cepat untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara akibat meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.</p>
<p>BMKG juga menekankan pentingnya kesiapan sektor kehutanan dan kebencanaan dalam menghadapi ancaman kekeringan berkepanjangan maupun potensi karhutla.</p>
<p>Meski demikian, musim kemarau tidak selalu berdampak negatif. BMKG menilai sektor perikanan dan produksi garam berpotensi memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut. Fenomena upwelling yang terjadi selama musim kemarau dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan sekaligus mendukung produktivitas tambak garam.</p>
<p>&#8220;BMKG juga mengimbau masyarakat untuk senantiasa merujuk pada saluran resmi BMKG dalam memperoleh informasi cuaca, iklim, gempa bumi sehingga dapat memanfaatkan informasi yang relevan dan tepat untuk bisa digunakan dalam aktivitas keseharian,&#8221; tutup Ardhasena.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/13/bmkg-sebut-musim-kemarau-2026-diprediksi-lebih-panjang-dari-biasanya/">BMKG Sebut Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang dari Biasanya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/06/13/bmkg-sebut-musim-kemarau-2026-diprediksi-lebih-panjang-dari-biasanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BMKG Ungkap Musim Kemarau Datang, Hujan Lebat Masih Mengintai</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2026 02:04:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gelombang Kelvin]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[La Nina]]></category>
		<category><![CDATA[monsun australia]]></category>
		<category><![CDATA[Musim Kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan Dini BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=17580</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan musim kemarau 2026 akan mulai secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga awal Juni 2026, sekitar 28,6 persen zona musim di Tanah Air telah memasuki periode kemarau, meskipun hujan lebat dan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di beberapa daerah. Berdasar prakiraan cuaca mingguan yang dirilis BMKG, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/">BMKG Ungkap Musim Kemarau Datang, Hujan Lebat Masih Mengintai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan musim kemarau 2026 akan mulai secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga awal Juni 2026, sekitar 28,6 persen zona musim di Tanah Air telah memasuki periode kemarau, meskipun hujan lebat dan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di beberapa daerah.</p>
<p>Berdasar prakiraan cuaca mingguan yang dirilis BMKG, wilayah yang lebih dulu memasuki musim kemarau umumnya berada di kawasan Indonesia bagian selatan. Kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia sehingga mengurangi peluang terbentuknya awan hujan.</p>
<p>BMKG mencatat suhu udara maksimum di atas 35 derajat Celsius terjadi pada periode 1 hingga 3 Juni 2026 di sejumlah daerah. Wilayah tersebut meliputi Sumatra Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua Selatan.</p>
<p>Meski musim kemarau mulai berkembang, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih mengguyur berbagai wilayah, terutama di Indonesia bagian utara. Curah hujan harian tertinggi tercatat di Sumatra Utara mencapai 73,3 milimeter per hari, disusul Papua Tengah 72,8 milimeter per hari, Kalimantan Tengah 61,6 milimeter per hari, Kepulauan Bangka Belitung 60 milimeter per hari, Kalimantan Utara 57,4 milimeter per hari, serta Papua Barat 57,1 milimeter per hari.</p>
<p>BMKG menjelaskan kondisi atmosfer global dan regional saat ini masih mendukung terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.</p>
<p>Di Samudra Pasifik, fenomena La Nina Condition terpantau melalui nilai indeks Nino 3.4 sebesar +0,69 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -16. Kondisi tersebut secara umum berpengaruh terhadap berkurangnya potensi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.</p>
<p>Sementara itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diperkirakan berada pada fase 7 hingga 8 dan masih aktif secara spasial di wilayah Papua bagian tengah hingga timur. Selain itu, gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Indonesia dengan pergerakan dari barat ke timur, sedangkan gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di wilayah utara Pulau Sumatra.</p>
<p>BMKG juga mendeteksi potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik bagian utara Papua. Fenomena ini dapat memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di wilayah Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat Daya, serta perairan sekitarnya yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan memicu cuaca ekstrem.</p>
<p><b>Sejumlah Daerah Masih Berpotensi Diguyur Hujan Lebat</b></p>
<p>Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, BMKG memprakirakan cuaca pada periode 5 hingga 7 Juni 2026 masih didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di berbagai wilayah Indonesia.</p>
<p>Potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dengan status peringatan dini kategori Siaga diperkirakan terjadi di Maluku, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.</p>
<p>Sementara itu, pada periode 8 hingga 11 Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpeluang mengalami hujan ringan hingga lebat. BMKG juga mengeluarkan peringatan dini kategori Siaga untuk wilayah Papua Pegunungan yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang.</p>
<p>BMKG mengimbau masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan agar tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Risiko yang perlu diantisipasi antara lain banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gangguan terhadap aktivitas transportasi.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/">BMKG Ungkap Musim Kemarau Datang, Hujan Lebat Masih Mengintai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Diprediksi Terjadi Agustus</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2026 02:00:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[El Niño]]></category>
		<category><![CDATA[Heatwave]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kekeringan]]></category>
		<category><![CDATA[kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[klimatologi]]></category>
		<category><![CDATA[musim kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[suhu panas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16601</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Saat ini, sebagian besar wilayah masih berada dalam fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa awal musim kemarau berlangsung secara bertahap dan tidak serentak di seluruh wilayah.  [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/">BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Diprediksi Terjadi Agustus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Saat ini, sebagian besar wilayah masih berada dalam fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa awal musim kemarau berlangsung secara bertahap dan tidak serentak di seluruh wilayah.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Mayoritas wilayah Indonesia puncak kemaraunya terjadi pada Agustus. Ada yang lebih awal di Juli, ada juga yang mundur ke September, tetapi sebagian besar berada di Agustus,” ujarnya dalam Podcast Temu Tamu BMKG di Jakarta, Selasa (5/5).</p>
<p>Ardhasena menambahkan, kondisi cuaca yang terasa lebih gerah belakangan ini merupakan bagian dari fase transisi musim. Meski suhu udara meningkat, karakter utama kemarau tahun ini bukan pada panas ekstrem, melainkan tingkat kekeringan yang cenderung lebih tinggi.</p>
<p>“Yang perlu diperhatikan adalah sifat kemaraunya yang lebih kering. Kenaikan suhu relatif masih dalam batas wajar, tidak ekstrem seperti di Eropa atau Asia Timur yang bisa mencapai di atas 45 derajat Celsius,” jelasnya.</p>
<p>Terkait potensi gelombang panas (heatwave), Ardhasena menilai kemungkinan terjadinya fenomena tersebut di Indonesia relatif kecil. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi perairan.</p>
<p>“Wilayah dengan gelombang panas ekstrem biasanya memiliki daratan luas seperti di Australia, Asia Timur, atau Afrika Utara. Di Indonesia, pergerakan udara cenderung naik sehingga sulit terjadi penumpukan panas ekstrem,” ujarnya.</p>
<p>Ia juga menekankan bahwa sistem sirkulasi atmosfer di Indonesia turut menjaga kondisi tersebut. Dominasi pergerakan udara ke atas membuat potensi terbentuknya gelombang panas menjadi tidak signifikan. El Nino merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang terjadi secara periodik setiap 3 hingga 7 tahun.</p>
<p>“Tren kemunculan El Nino tahun ini cukup signifikan. Fenomena ini terjadi akibat perpindahan pusat panas laut dari Pasifik Barat ke Pasifik Tengah dan Timur,” jelasnya.</p>
<p>Perubahan tersebut menyebabkan pusat pembentukan awan dan hujan bergeser ke wilayah Pasifik Tengah hingga Amerika Latin. Dampaknya, Indonesia berpotensi mengalami penurunan curah hujan akibat dominasi pergerakan udara turun.</p>
<p>“Ketika awan dan hujan bergeser ke Pasifik Tengah, wilayah Indonesia justru mengalami penurunan hujan. Inilah yang memperkuat kondisi kemarau menjadi lebih kering,” ungkapnya.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena yang melibatkan interaksi antara laut dan atmosfer dalam skala global.</p>
<p>“Ini fenomena yang ter-couple antara laut dan atmosfer, dengan skala ribuan kilometer dan berdampak ke banyak wilayah dunia,” tambahnya.</p>
<p>Dampak El Nino pun berbeda di setiap kawasan. Di Indonesia dan Australia, fenomena ini cenderung memicu kondisi lebih kering, sementara di wilayah Amerika Latin justru meningkatkan curah hujan. BMKG juga mengimbau kepada masyarakat serta pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan sektor pertanian.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/">BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Diprediksi Terjadi Agustus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Mau Kecolongan, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Hadapi Kemarau</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/05/tak-mau-kecolongan-jateng-siapkan-123-juta-liter-air-hadapi-kemarau/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/05/tak-mau-kecolongan-jateng-siapkan-123-juta-liter-air-hadapi-kemarau/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 00:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[Air Bersih]]></category>
		<category><![CDATA[bencana alam]]></category>
		<category><![CDATA[Bergas Catursasi]]></category>
		<category><![CDATA[BPBD Jateng]]></category>
		<category><![CDATA[BUMD]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[distribusi air]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[kekeringan]]></category>
		<category><![CDATA[kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis Air]]></category>
		<category><![CDATA[Mitigasi Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[musim kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[Swasembada Pangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16560</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semarang &#8211; Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mempersiapkan langkah antisipatif menghadapi musim kemarau 2026. Sebanyak 123 juta liter air bersih telah disiapkan oleh pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota untuk mengatasi potensi kekeringan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan secara menyeluruh. “Tahun 2026 [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/05/tak-mau-kecolongan-jateng-siapkan-123-juta-liter-air-hadapi-kemarau/">Tak Mau Kecolongan, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Hadapi Kemarau</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Semarang</strong> &#8211; Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mempersiapkan langkah antisipatif menghadapi musim kemarau 2026. Sebanyak 123 juta liter air bersih telah disiapkan oleh pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota untuk mengatasi potensi kekeringan.</p>
<p>Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan secara menyeluruh.</p>
<p>“Tahun 2026 ini hasil koordinasi kami dengan BPBD kabupaten/ kota, sudah disiapkan 123 juta liter air. Ada 18 kabupaten/ kota yang diperkirakan akan terdampak. Sudah siap untuk didistribusikan,” ujarnya saat rapat koordinasi Pengendalian Operasional Kegiatan (POK) Triwulan I 2026 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (4/5).</p>
<p>Bergas menjelaskan, meskipun saat ini sejumlah wilayah di Jawa Tengah masih diguyur hujan, musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada Juni, khususnya di Pulau Jawa.</p>
<figure id="attachment_16561" aria-describedby="caption-attachment-16561" style="width: 1200px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-16561" src="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1.jpg" alt="Tak Mau Kecolongan, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Hadapi Kemarau" width="1200" height="800" srcset="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1.jpg 1200w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1-300x200.jpg 300w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1-1024x683.jpg 1024w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1-768x512.jpg 768w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1-150x100.jpg 150w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1-696x464.jpg 696w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260504-WA0078-scaled-1-1068x712.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption id="caption-attachment-16561" class="wp-caption-text">Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat memimpin Rapat koordinasi Pengendalian Operasional Kegiatan (POK) Triwulan I 2026 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (4/5/2026). (katafoto/HO/Humas Jateng)</figcaption></figure>
<p>“Peristiwa di tahun 2026 ini diperkirakan hampir sama seperti di tahun 2024. Di mana pada tahun 2024, BPBD provinsi maupun kabupaten/ kota sudah bisa mendistribusikan 54 juta liter air,” jelasnya.</p>
<p>Ia menambahkan, kesiapan distribusi air bersih juga telah didukung dengan pemetaan sarana dan prasarana, termasuk armada distribusi. Namun demikian, pihaknya masih melakukan kajian terkait kebutuhan anggaran distribusi, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.</p>
<p>Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan kesiapan menghadapi musim kemarau telah dikoordinasikan dengan pemerintah kabupaten/kota, termasuk dalam pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.</p>
<p>Ia menegaskan, pemerintah provinsi juga akan menggandeng sejumlah badan usaha milik daerah (BUMD) untuk memperkuat upaya mitigasi dampak kekeringan.</p>
<p>“Nanti kita koordinasikan lagi, termasuk dengan beberapa BUMD juga kita kondisikan. Ini untuk membantu agar dampak kekeringan bisa dikurangi. Tidak hanya soal kebutuhan air bersih dan air baku, tetapi juga dampaknya pada swasembada pangan,” ujarnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/05/tak-mau-kecolongan-jateng-siapkan-123-juta-liter-air-hadapi-kemarau/">Tak Mau Kecolongan, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Hadapi Kemarau</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/05/tak-mau-kecolongan-jateng-siapkan-123-juta-liter-air-hadapi-kemarau/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2026 10:48:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Angin Kencang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[enso]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[iod]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[MJO]]></category>
		<category><![CDATA[monsun australia]]></category>
		<category><![CDATA[musim kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16247</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Monsun Australia yang kian menguat menjadi sinyal awal peralihan musim di Indonesia. Sejumlah wilayah mulai bergerak menuju fase kemarau secara bertahap, meskipun dalam sepekan ke depan peluang hujan masih tetap ada di berbagai daerah. Dalam prakiraan cuaca mingguan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (24/4) menyampaikan bahwa faktor variabilitas iklim global [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/">Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Monsun Australia yang kian menguat menjadi sinyal awal peralihan musim di Indonesia. Sejumlah wilayah mulai bergerak menuju fase kemarau secara bertahap, meskipun dalam sepekan ke depan peluang hujan masih tetap ada di berbagai daerah.</p>
<p>Dalam prakiraan cuaca mingguan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (24/4) menyampaikan bahwa faktor variabilitas iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam kondisi netral. Artinya, kedua fenomena tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola cuaca di Tanah Air.</p>
<p>Di sisi lain, penguatan Monsun Australia diperkirakan mulai membawa massa udara kering ke Indonesia. Dominasi angin timur juga semakin terasa, menjadi penanda bahwa sebagian wilayah mulai mengalami transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.</p>
<p>Meski begitu, BMKG menegaskan bahwa peluang hujan masih tetap ada karena dipicu dinamika atmosfer lainnya. Madden Julian Oscillation (MJO) saat ini berada di fase 1 dan bergerak melintasi wilayah Aceh, Sumatra Utara, hingga Papua Selatan.</p>
<p>Aktivitas gelombang atmosfer turut berperan dalam pembentukan hujan. Gelombang Kelvin diprediksi aktif di berbagai wilayah seperti Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Sementara Gelombang Rossby Ekuatorial juga terpantau aktif di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan, Maluku, serta Papua bagian tengah hingga selatan.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-16249" src="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1.png" alt="Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi" width="1000" height="532" srcset="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1.png 1000w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-300x160.png 300w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-768x409.png 768w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-150x80.png 150w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-696x370.png 696w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Selain itu, terdeteksi adanya sirkulasi siklonik di perairan barat Aceh yang membentuk zona konvergensi dari Sumatra Utara hingga Aceh. Kondisi ini diperkuat oleh tingkat labilitas atmosfer yang masih tinggi di sejumlah wilayah, seperti Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua.</p>
<p>Untuk periode 24–26 April 2026, cuaca di Indonesia diprakirakan didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Potensi hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.</p>
<p>BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang, khususnya di Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Maluku, dan Papua Selatan.</p>
<p>Memasuki periode 27–30 April 2026, hujan ringan hingga sedang masih berpeluang mendominasi. Namun, potensi hujan lebat tetap perlu diwaspadai di sejumlah wilayah seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.</p>
<p>BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap siaga terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.</p>
<p>Masyarakat juga diimbau untuk terus memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, baik situs web, aplikasi Info BMKG, maupun media sosial @infobmkg, agar aktivitas sehari-hari tetap aman dan terencana.</p>
<p>“Cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem,” imbau BMKG.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/">Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cuaca Ekstrem Belum Usai, BMKG Prediksi Hujan Lebat Berlanjut hingga Awal April</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 15:46:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Angin Kencang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[Info BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[La Nina]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[MJO]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Siklon Narel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15720</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Curah hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia hingga awal April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mencatat dalam beberapa hari terakhir sejumlah daerah mengalami hujan lebat. Prakirawan BMKG, Abdillah, pada Jumat (27/3) menyampaikan bahwa hujan ringan hingga lebat terjadi di berbagai wilayah, termasuk saat periode arus [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/">Cuaca Ekstrem Belum Usai, BMKG Prediksi Hujan Lebat Berlanjut hingga Awal April</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Curah hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia hingga awal April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mencatat dalam beberapa hari terakhir sejumlah daerah mengalami hujan lebat.</p>
<p>Prakirawan BMKG, Abdillah, pada Jumat (27/3) menyampaikan bahwa hujan ringan hingga lebat terjadi di berbagai wilayah, termasuk saat periode arus balik Lebaran pada 23–25 Maret 2026. Curah hujan tertinggi tercatat di Papua Tengah mencapai 119,2 mm per hari.</p>
<p>Data pengamatan menunjukkan intensitas hujan signifikan juga terjadi di wilayah lain, di antaranya Papua 64,6 mm/hari, Jawa Tengah 63 mm/hari, Jawa Barat 53,8 mm/hari, Nusa Tenggara Timur 44,9 mm/hari, Jawa Timur 42 mm/hari, serta Lampung 36 mm/hari.</p>
<p>Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Rossby ekuatorial dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif, terutama di Indonesia bagian timur. Selain itu, adanya pertemuan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah, serta pemanasan kuat pada siang hari, turut mendorong pertumbuhan awan konvektif pemicu hujan.</p>
<p>Khusus wilayah Jabodetabek, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga terjadi dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan tertinggi tercatat di Jakarta Utara sebesar 60 mm/hari, Jakarta Barat 54 mm/hari, Bogor 53,8 mm/hari, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur masing-masing 40 mm/hari, serta Jakarta Pusat 39 mm/hari.</p>
<p>BMKG menjelaskan, dalam sepekan ke depan kondisi cuaca nasional masih dipengaruhi dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal. Hasil analisis menunjukkan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar +14,2 yang menandakan adanya La Niña lemah, sehingga meningkatkan aktivitas konvektif, khususnya di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.</p>
<p>Aktivitas tersebut diperkirakan semakin menguat dengan aktifnya MJO pada 27–28 Maret 2026, yang berdampak pada wilayah Samudera Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Nias, Laut Arafuru, Pulau Buru, sebagian besar Papua, serta perairan utara Papua.</p>
<p>Di sisi lain, keberadaan siklon tropis Narel di Samudra Hindia barat laut Australia juga memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Fenomena ini berpotensi meningkatkan curah hujan sedang hingga lebat di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.</p>
<p>BMKG juga memprakirakan terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat daya Banten, serta Papua bagian selatan, yang semakin memperbesar peluang terjadinya hujan.</p>
<p>Untuk periode 27–29 Maret 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang berpotensi terjadi dengan status siaga di DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Selatan.</p>
<p>Sementara pada periode 30 Maret hingga 2 April 2026, hujan ringan hingga sedang masih akan mendominasi. Meski demikian, potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang dengan status siaga diperkirakan terjadi di Sumatra Barat dan Papua Pegunungan.</p>
<p>BMKG juga mengimbau masyarakat serta para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Kondisi cuaca yang dinamis juga perlu diperhatikan dalam merencanakan perjalanan darat, laut, maupun udara, serta aktivitas luar ruangan seperti ibadah dan wisata.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/">Cuaca Ekstrem Belum Usai, BMKG Prediksi Hujan Lebat Berlanjut hingga Awal April</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Monsun Asia Menguat BMKG Ungkap Cuaca Ekstrem 15–21 Februari</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2026 03:55:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Angin Kencang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan Deras]]></category>
		<category><![CDATA[hujan ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Info Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[Monsun Asia]]></category>
		<category><![CDATA[prakiraan BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15242</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi kenaikan curah hujan yang diperkirakan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada 15–21 Februari 2026. Pergerakan dinamika atmosfer yang aktif mendorong pembentukan awan hujan di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi bagian utara. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/">Monsun Asia Menguat BMKG Ungkap Cuaca Ekstrem 15–21 Februari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi kenaikan curah hujan yang diperkirakan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada 15–21 Februari 2026.</p>
<p>Pergerakan dinamika atmosfer yang aktif mendorong pembentukan awan hujan di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi bagian utara.</p>
<p>Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa analisis terbaru menunjukkan adanya penguatan Monsun Asia yang memicu dominasi angin baratan. Kondisi ini mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah barat dan selatan Indonesia. Situasi tersebut semakin diperkuat oleh aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) di fase Indian Ocean, serta dukungan gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby yang menyebabkan perlambatan serta belokan angin (konvergensi), khususnya di pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.</p>
<p>“Kombinasi faktor tersebut meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang, lebat, hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah sepanjang periode 15-21 Februari 2026,” kata Andri, Minggu (15/2).</p>
<p>Pada 15–16 Februari 2026, potensi cuaca ekstrem diperkirakan terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.</p>
<p>Memasuki 17–18 Februari 2026, ancaman hujan lebat masih berlanjut di Aceh, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara.</p>
<p>Pada 19 Februari 2026, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Pegunungan. Sementara pada 20–21 Februari, potensi hujan masih dominan di Sumatra Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.</p>
<p>Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menekankan pentingnya kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak hidrometeorologi. “Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan serta langkah mitigasi sesuai dengan tingkat risiko dan karakteristik kerentanan wilayah masing-masing,” ujar Ida.</p>
<p>BMKG juga mengingatkan masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan rawan bencana, agar tetap waspada tanpa panik serta menghindari aktivitas di area berisiko seperti bantaran sungai, lereng rawan longsor, dan daerah yang berpotensi banjir atau tergenang.</p>
<p>Pengguna transportasi darat, laut, dan udara—termasuk nelayan serta operator pelayaran dan penerbangan—diimbau untuk selalu memeriksa pembaruan cuaca sebelum beraktivitas demi menjaga keselamatan.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/">Monsun Asia Menguat BMKG Ungkap Cuaca Ekstrem 15–21 Februari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cuaca Tak Bersahabat, Ini Langkah Aman yang Wajib Disiapkan</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/01/25/cuaca-tak-bersahabat-ini-langkah-aman-yang-wajib-disiapkan/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/01/25/cuaca-tak-bersahabat-ini-langkah-aman-yang-wajib-disiapkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2026 15:11:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEUANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[Asuransi Kendaraan]]></category>
		<category><![CDATA[banjir 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[debit sungai]]></category>
		<category><![CDATA[Evakuasi Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[siaga bencana]]></category>
		<category><![CDATA[tips banjir]]></category>
		<category><![CDATA[waspada banjir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14900</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Curah hujan berintensitas tinggi masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Hujan dengan durasi panjang meningkatkan potensi risiko, terutama banjir yang kerap mengganggu aktivitas masyarakat.  Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga ekstrem. BMKG juga memprakirakan hujan dengan intensitas bervariasi akan melanda sejumlah wilayah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/25/cuaca-tak-bersahabat-ini-langkah-aman-yang-wajib-disiapkan/">Cuaca Tak Bersahabat, Ini Langkah Aman yang Wajib Disiapkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta</strong> &#8211; Curah hujan berintensitas tinggi masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Hujan dengan durasi panjang meningkatkan potensi risiko, terutama banjir yang kerap mengganggu aktivitas masyarakat.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga ekstrem. BMKG juga memprakirakan hujan dengan intensitas bervariasi akan melanda sejumlah wilayah Indonesia pada 24 Januari 2026. Peringatan dini ini dibagi ke dalam beberapa tingkat kesiapsiagaan, yakni Waspada untuk hujan sedang hingga lebat, Siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat, serta Awas untuk hujan sangat lebat hingga ekstrem.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, DI Yogyakarta, Bali, sejumlah wilayah Sumatra, Bengkulu, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).</p>
<p>Selain intensitas hujan yang tinggi, meningkatnya debit sungai menjadi salah satu faktor utama pemicu banjir. Masyarakat, khususnya yang bermukim di sekitar bantaran sungai, disarankan untuk secara berkala memantau ketinggian muka air. Pemantauan ini penting agar keputusan evakuasi dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi kenaikan air yang berpotensi membahayakan. Khusus wilayah Jakarta dan sekitarnya, informasi terkini terkait kondisi pintu air dan tinggi muka air sungai dapat diakses melalui situs resmi poskobanjir.dsdadki.web.id.</p>
<p>Untuk tetap siaga menghadapi potensi banjir, berikut sejumlah langkah antisipatif yang dapat dilakukan guna meminimalkan dampak dan menjaga keselamatan:</p>
<p><b>1. Pantau Informasi Resmi</b><br />
Selalu ikuti pembaruan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta informasi lalu lintas dan evakuasi di sekitar tempat tinggal. Simpan nomor darurat berikut sebagai langkah antisipasi:</p>
<ul>
<li>Ambulans: 119</li>
<li>Pemadam Kebakaran: 113</li>
<li>SAR/BASARNAS: 115</li>
<li>Posko Bencana Alam: 129</li>
<li>BNPB: 117</li>
<li>Garda Akses 24 Jam: 1500112 atau WhatsApp 08950 1 500 112</li>
</ul>
<p><b>2. Siapkan Tas Darurat</b><br />
Sediakan tas darurat berisi perlengkapan penting yang dapat digunakan saat evakuasi, seperti air minum, makanan tahan lama, perlengkapan mandi, pakaian hangat, selimut, obat-obatan dan P3K, senter, serta dokumen penting yang disimpan dalam wadah kedap air.</p>
<p><b>3. Amankan Rumah</b><br />
Amankan perabot rumah tangga, terutama barang di luar ruangan atau yang berkaitan dengan instalasi listrik, ke tempat yang lebih aman dan tinggi. Langkah ini bertujuan mencegah barang terbawa arus serta tidak menghambat jalur evakuasi. Selain itu, matikan aliran listrik, air, dan gas untuk menghindari korsleting dan risiko kecelakaan lainnya.</p>
<p><b>4. Kenali Jalur Evakuasi</b><br />
Pahami rute evakuasi dan lokasi pengungsian yang telah ditetapkan agar dapat bergerak cepat dan terarah saat kondisi darurat terjadi, sehingga keselamatan diri dan keluarga lebih terjamin.</p>
<p><b>5. Evakuasi Kendaraan</b><br />
Jika memungkinkan, segera pindahkan kendaraan ke lokasi yang lebih tinggi dan aman. Apabila tidak sempat, cabut kabel aki untuk mencegah korsleting, pastikan pintu kendaraan tertutup rapat, dan keluarkan barang berharga dari dalam kabin. Penutupan knalpot dan saluran udara mesin juga dapat membantu mengurangi risiko kerusakan akibat genangan air.</p>
<p>Apabila air sudah terlanjur tinggi dan langkah-langkah di atas tidak dapat dilakukan, prioritaskan evakuasi diri dan keluarga. Jika kendaraan terendam banjir, tetap tenang dan lakukan beberapa langkah berikut untuk meminimalkan risiko kerusakan serta menjaga peluang klaim asuransi:</p>
<p><b>1. Pastikan Posisi Kendaraan Aman</b><br />
Upayakan untuk memindahkan kendaraan ke tempat yang lebih tinggi jika masih memungkinkan. Jika tidak, tutup knalpot agar air tidak masuk ke dalam mesin. Bagi pemilik asuransi Garda Oto, bantuan darurat dapat diakses melalui aplikasi myGarda atau Garda Akses 24 Jam.</p>
<p><b>2. Lepaskan Kabel Negatif Aki</b><br />
Cabut kabel negatif pada aki untuk mencegah korsleting listrik yang dapat merusak komponen kendaraan. Kabel negatif biasanya ditandai dengan simbol minus (–) dan berwarna hitam. Langkah ini sebaiknya dilakukan sebelum kendaraan terendam air.</p>
<p><b>3. Periksa Kondisi Oli</b><br />
Oli mesin perlu dicek karena berpotensi tercampur air banjir. Jika warnanya berubah menjadi putih seperti susu, menandakan oli telah tercampur air dan harus dikuras serta diganti di bengkel resmi.</p>
<p><b>4. Jangan Menyalakan Mesin</b><br />
Jika kendaraan sudah terendam, hindari menyalakan mesin. Mesin yang dinyalakan dalam kondisi terendam dapat mengalami kerusakan serius akibat korsleting dan masuknya air ke dalam komponen mesin.</p>
<p>Hindari melakukan perbaikan mandiri sebelum berkoordinasi dengan pihak asuransi karena dapat berisiko menggagalkan klaim. Hal ini merujuk pada Polis Standar Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia (PSAKBI) Pasal 3 Ayat 4, yang menyatakan bahwa asuransi tidak menjamin kerugian apabila kendaraan dipaksakan beroperasi dalam kondisi tidak laik jalan.</p>
<p>Head of PR, Marcomm, &amp; Event Asuransi Astra, Laurentius Iwan Pranoto mengatakan bahwa kewaspadaan dan kepedulian menjadi perlindungan yang tak ternilai. Dengan saling berbagi informasi, mematuhi imbauan pemerintah, serta melakukan persiapan sejak dini, risiko banjir dapat diminimalkan dan keselamatan orang-orang tercinta tetap terjaga. Keselamatan pelanggan merupakan prioritas utama kami.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Dalam kondisi darurat, pelanggan dapat segera menghubungi Garda Siaga melalui aplikasi myGarda atau Garda Akses 24 Jam. Tim kami siap membantu kapan pun dibutuhkan. Kami berharap langkah-langkah sederhana ini dapat memberikan rasa tenang di tengah situasi yang penuh tantangan,” ujar Iwan Pranoto.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/25/cuaca-tak-bersahabat-ini-langkah-aman-yang-wajib-disiapkan/">Cuaca Tak Bersahabat, Ini Langkah Aman yang Wajib Disiapkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/01/25/cuaca-tak-bersahabat-ini-langkah-aman-yang-wajib-disiapkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Jawa hingga Sulawesi Selatan</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2026 01:29:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Hidrometeorologi]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dasarian II]]></category>
		<category><![CDATA[hujan ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[iklim Januari 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan dini]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[status awas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14696</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempublikasikan analisis iklim Dasarian II Januari 2026, yang mencakup periode 11–20 Januari. Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah daerah diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi, sehingga berpotensi memicu banjir serta bencana hidrometeorologi lainnya. Dalam keterangan resmi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/">Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Jawa hingga Sulawesi Selatan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempublikasikan analisis iklim Dasarian II Januari 2026, yang mencakup periode 11–20 Januari. Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah daerah diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi, sehingga berpotensi memicu banjir serta bencana hidrometeorologi lainnya.</p>
<p>Dalam keterangan resmi yang dirilis Rabu (14/1), BMKG menyampaikan bahwa kondisi hujan pada periode ini bervariasi, mulai dari lebih kering hingga lebih basah dibandingkan rata-rata klimatologis, dengan pola sebaran yang tidak seragam antarwilayah.</p>
<p>Wilayah yang diprediksi mengalami sifat hujan di bawah normal mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, kondisi serupa juga terjadi di sebagian kecil wilayah Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Situasi ini menandakan potensi curah hujan yang relatif lebih rendah dibandingkan kondisi normal.</p>
<p>Sebaliknya, sifat hujan di atas normal atau lebih basah dari biasanya diprakirakan melanda sebagian besar wilayah Sumatra, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya banjir dan genangan, terutama di daerah rawan bencana.</p>
<p>BMKG menjelaskan bahwa pola hujan pada dasarian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dinamika atmosfer, di antaranya masih dominannya angin baratan yang membawa massa udara lembap dari Samudra Hindia. Selain itu, keberadaan belokan angin di wilayah Sumatra bagian utara serta pusat tekanan rendah di kawasan barat Sumatra dan utara Maluku turut mendukung pembentukan awan hujan dengan intensitas tinggi.</p>
<p>Berdasarkan prakiraan intensitas, curah hujan kategori menengah, yakni berkisar antara 50 hingga 150 milimeter per dasarian, berpotensi terjadi di sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Sementara itu, hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi, di atas 150 milimeter per dasarian, diprakirakan melanda sebagian besar wilayah Banten, sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi Selatan.</p>
<p>Seiring dengan kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini hujan lebat. Status awas diberlakukan untuk beberapa kabupaten dan kota di wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Adapun wilayah lain di Pulau Jawa, Sumatra, serta sebagian kawasan Indonesia timur berada dalam kategori siaga dan waspada.</p>
<p>BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi. Sektor pertanian juga diharapkan dapat mengantisipasi dampak kelebihan air di daerah basah serta potensi kekurangan hujan di wilayah yang mengalami kondisi lebih kering. Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan terganggunya aktivitas transportasi darat, laut, maupun udara akibat hujan lebat dan angin kencang.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/">Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Jawa hingga Sulawesi Selatan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
