<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dinkes DKI Jakarta - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/dinkes-dki-jakarta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/dinkes-dki-jakarta/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 May 2026 01:24:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>Dinkes DKI Jakarta - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/dinkes-dki-jakarta/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dinkes DKI Ungkap Lonjakan Kasus Lupus, Perempuan Paling Berisiko</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/12/dinkes-dki-ungkap-lonjakan-kasus-lupus-perempuan-paling-berisiko/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/12/dinkes-dki-ungkap-lonjakan-kasus-lupus-perempuan-paling-berisiko/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2026 01:45:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[BPJS Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[deteksi dini lupus]]></category>
		<category><![CDATA[Dinkes DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[gejala lupus]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Lupus Sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[lupus]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit autoimun]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit lupus]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit seribu wajah]]></category>
		<category><![CDATA[Puskesmas Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[skrining lupus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16794</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya kasus penyakit Lupus di ibu kota. Penyakit autoimun yang kerap dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” itu tercatat mengalami kenaikan jumlah penderita secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, mengatakan penguatan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/12/dinkes-dki-ungkap-lonjakan-kasus-lupus-perempuan-paling-berisiko/">Dinkes DKI Ungkap Lonjakan Kasus Lupus, Perempuan Paling Berisiko</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya kasus penyakit Lupus di ibu kota. Penyakit autoimun yang kerap dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” itu tercatat mengalami kenaikan jumlah penderita secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.</p>
<p>Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, mengatakan penguatan deteksi dini di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menjadi langkah penting untuk menekan risiko keterlambatan penanganan pasien Lupus.</p>
<p>Hal tersebut disampaikan Sri dalam webinar peringatan Hari Lupus Sedunia di Jakarta, Senin (11/5).</p>
<p>Berdasarkan data BPJS Kesehatan, jumlah kasus Lupus yang terdeteksi di rumah sakit maupun FKTP terus mengalami peningkatan. Pada 2023 tercatat sebanyak 192.614 kasus, kemudian naik menjadi 238.954 kasus pada 2024 atau meningkat sekitar 24 persen. Sementara pada 2025, jumlah kasus kembali bertambah menjadi 247.743 pasien.</p>
<p>Sri menilai peningkatan angka tersebut menunjukkan dua hal sekaligus. Di satu sisi, tenaga kesehatan kini semakin mampu mengenali gejala Lupus. Namun di sisi lain, kondisi itu menuntut peningkatan kompetensi tenaga medis di FKTP agar diagnosis dapat dilakukan secara tepat tanpa terjadi under diagnosis maupun over diagnosis.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-16796" src="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/ko-copy.jpg" alt="Dinkes DKI Ungkap Lonjakan Kasus Lupus, Perempuan Paling Berisiko" width="1000" height="800" srcset="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/ko-copy.jpg 1000w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/ko-copy-300x240.jpg 300w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/ko-copy-768x614.jpg 768w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/ko-copy-150x120.jpg 150w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/05/ko-copy-696x557.jpg 696w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Lupus sendiri dikenal sebagai penyakit yang sulit dideteksi karena memiliki gejala yang beragam dan kerap menyerupai penyakit lain. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang terlambat memperoleh penanganan medis yang sesuai.</p>
<p>Menurut Sri, edukasi kepada masyarakat menjadi faktor penting agar warga dapat mengenali gejala awal Lupus dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.</p>
<p>“Penting bagi teman-teman (tenaga kesehatan) melakukan edukasi kepada masyarakat agar masyarakat tahu dan cepat mengakses ke layanan kesehatan,” ujarnya.</p>
<p>Sejumlah studi juga menunjukkan perempuan memiliki risiko lebih tinggi terkena Lupus dibandingkan laki-laki. Risiko pada perempuan bahkan disebut mencapai delapan hingga 13 kali lipat lebih besar.</p>
<p>Karena itu, program skrining yang dijalankan pemerintah saat ini difokuskan pada perempuan usia 18 tahun ke atas. Skrining dilakukan menggunakan kuesioner khusus di FKTP, termasuk Puskesmas melalui Poli Cantin dan Poli Penyakit Tidak Menular (PTM).</p>
<p>Hingga April 2026, Dinkes DKI Jakarta mencatat sebanyak 943 orang telah menjalani skrining Lupus di Puskesmas. Dari jumlah tersebut, sekitar 22,4 persen terindikasi mengidap Lupus dan telah dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan serta penanganan lanjutan.</p>
<p>Dinkes DKI Jakarta berharap seluruh FKTP, tidak hanya Puskesmas, dapat memperkuat deteksi dini secara lebih terarah dan efektif guna mencegah kondisi pasien memburuk sebelum mendapatkan penanganan di rumah sakit.</p>
<p>“Dengan penemuan kasus secara dini, diharapkan kondisi pasien tidak menjadi lebih parah saat dirujuk ke rumah sakit,” tutupnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/12/dinkes-dki-ungkap-lonjakan-kasus-lupus-perempuan-paling-berisiko/">Dinkes DKI Ungkap Lonjakan Kasus Lupus, Perempuan Paling Berisiko</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/12/dinkes-dki-ungkap-lonjakan-kasus-lupus-perempuan-paling-berisiko/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waspada Campak, Dinkes DKI Imbau Jangan Pegang dan Cium Bayi Sembarangan</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/03/11/waspada-campak-dinkes-dki-imbau-jangan-pegang-dan-cium-bayi-sembarangan/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/03/11/waspada-campak-dinkes-dki-imbau-jangan-pegang-dan-cium-bayi-sembarangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2026 04:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Ani Ruspitawati]]></category>
		<category><![CDATA[campak]]></category>
		<category><![CDATA[Dinkes DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[imunisasi anak]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta siaga campak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran 2026]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit menular]]></category>
		<category><![CDATA[vaksinasi campak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15517</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Campak menjelang libur Lebaran. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus positif di Jakarta. Kewaspadaan ditingkatkan menyusul adanya tren kenaikan kasus di sejumlah daerah penyangga ibu kota. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/11/waspada-campak-dinkes-dki-imbau-jangan-pegang-dan-cium-bayi-sembarangan/">Waspada Campak, Dinkes DKI Imbau Jangan Pegang dan Cium Bayi Sembarangan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta </b>&#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Campak menjelang libur Lebaran. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus positif di Jakarta. Kewaspadaan ditingkatkan menyusul adanya tren kenaikan kasus di sejumlah daerah penyangga ibu kota.</p>
<p>Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau potensi penyebaran campak melalui sistem surveilans di berbagai fasilitas kesehatan (faskes).</p>
<p>&#8220;Campak saat ini di Jakarta belum ditemukan ada yang positif. Jadi kami melakukan pemantauan dengan lakukan surveilans. Ada beberapa lokasi faskes yang menjadi lokasi surveilans,&#8221; ujar Ani, Rabu (11/3).</p>
<p>Ia menambahkan, apabila ditemukan pasien yang menunjukkan gejala campak, maka petugas kesehatan akan segera melakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan diagnosisnya.</p>
<p>&#8220;Tapi sejauh ini, untuk domisili di Jakarta belum ada. Tetapi daerah di sekitar Jakarta memang sudah mulai ada,&#8221; tegasnya dikutip dari laman berita jakarta.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Ani menekankan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap penularan campak adalah anak-anak, terutama bayi dan balita, karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum kuat.</p>
<p>Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan anak kecil, terutama selama momen silaturahmi Lebaran yang biasanya melibatkan banyak pertemuan keluarga.</p>
<p>&#8220;Kelompok paling rentan adalah anak-anak. Jadi bayi dan anak-anak yang harus kita jaga benar. Salah satu pesannya adalah jangan suka megang, mencium anak-anak itu, terutama yang masih bayi dan balita, karena daya tahan tubuhnya masih sangat rentan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta akan memperkuat pemantauan kondisi kesehatan masyarakat. Menurut Ani, program imunisasi massal belum dilakukan karena hingga kini belum ditemukan kasus aktif di Jakarta.</p>
<p>Ia juga menduga bahwa potensi kemunculan kembali kasus campak berkaitan dengan dampak pandemi COVID-19, ketika cakupan vaksinasi campak di berbagai daerah belum mencapai target maksimal.</p>
<p>&#8220;Mungkin salah satu penyebabnya karena memang ketika ini masih bawaan ketika Covid, vaksinasi campak memang di banyak daerah belum sampai 100 persen, sehingga masih ada beberapa yang belum tervaksinasi,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/11/waspada-campak-dinkes-dki-imbau-jangan-pegang-dan-cium-bayi-sembarangan/">Waspada Campak, Dinkes DKI Imbau Jangan Pegang dan Cium Bayi Sembarangan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/03/11/waspada-campak-dinkes-dki-imbau-jangan-pegang-dan-cium-bayi-sembarangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
