<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kesehatan mental anak - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/kesehatan-mental-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/kesehatan-mental-anak/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Mar 2026 16:04:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>Kesehatan mental anak - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/kesehatan-mental-anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Skrining Kesehatan Temukan Hampir 10 Persen Anak Indonesia Terdeteksi Masalah Kesehatan Mental</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/03/09/skrining-kesehatan-temukan-hampir-10-persen-anak-indonesia-terdeteksi-masalah-kesehatan-mental/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/03/09/skrining-kesehatan-temukan-hampir-10-persen-anak-indonesia-terdeteksi-masalah-kesehatan-mental/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2026 16:04:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[anxiety disorder anak]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Cek Kesehatan Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[depresi pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan jiwa anak Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan mental anak]]></category>
		<category><![CDATA[program kesehatan pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[skrining kesehatan anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15494</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan adanya indikasi gangguan kesehatan mental pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah mengikuti skrining, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mendapati cukup banyak anak yang menunjukkan gejala kecemasan maupun depresi. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/09/skrining-kesehatan-temukan-hampir-10-persen-anak-indonesia-terdeteksi-masalah-kesehatan-mental/">Skrining Kesehatan Temukan Hampir 10 Persen Anak Indonesia Terdeteksi Masalah Kesehatan Mental</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta</strong> &#8211; Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan adanya indikasi gangguan kesehatan mental pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah mengikuti skrining, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mendapati cukup banyak anak yang menunjukkan gejala kecemasan maupun depresi. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3).</p>
<p>Budi menjelaskan bahwa sekitar 4,4 persen atau setara dengan 338 ribu anak terdeteksi memiliki gejala kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen lainnya atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan tanda-tanda depresi (depression disorder).</p>
<p>“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi.</p>
<p>Menurutnya, persoalan kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi berujung pada kasus bunuh diri. Data dari Global School-Based Student Health Survey menunjukkan adanya peningkatan jumlah anak yang pernah mencoba bunuh diri, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.</p>
<p>Menkes menuturkan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pribadi, tetapi juga oleh kondisi lingkungan seperti keluarga, pergaulan, serta sistem pendidikan.</p>
<p>“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik,” katanya.</p>
<p>Menindaklanjuti temuan tersebut, Kemenkes menargetkan perluasan skrining CKG hingga dapat menjangkau 25 juta anak. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa hasil skrining nantinya akan ditindaklanjuti oleh puskesmas di berbagai daerah.</p>
<p>Saat ini pemerintah juga mempercepat upaya pemenuhan tenaga psikolog klinis di puskesmas yang jumlahnya masih terbatas, yakni sekitar 203 orang. Selain itu, pemerintah menyiapkan layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.idguna mendukung penanganan cepat bagi masyarakat yang membutuhkan.</p>
<p>Di sektor pendidikan, Kemenkes turut mendorong peran guru Bimbingan Konseling (BK) dan guru kelas untuk memberikan pendampingan kepada siswa yang terdeteksi memiliki gejala gangguan kesehatan mental.</p>
<p>Upaya deteksi dini ini juga diperkuat melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan kementerian dan lembaga pada Kamis (5/3). Kolaborasi lintas sektor tersebut bertujuan membangun sistem penanganan kesehatan mental anak yang terintegrasi, mulai dari upaya pencegahan (promotif-preventif) hingga pengobatan dan pemulihan (kuratif-rehabilitatif).</p>
<p>Sembilan instansi yang terlibat dalam kerja sama ini meliputi Kemenkes, KemenPPPA, Komdigi, Kemendikdasmen, Kemendukbangga/BKKBN, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, dan Polri.</p>
<p>Melalui SKB tersebut, pemerintah juga memastikan perlindungan terhadap kerahasiaan data pribadi anak guna mencegah stigma. Langkah ini diharapkan dapat menjamin setiap anak memperoleh perlindungan kesehatan mental secara menyeluruh, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/09/skrining-kesehatan-temukan-hampir-10-persen-anak-indonesia-terdeteksi-masalah-kesehatan-mental/">Skrining Kesehatan Temukan Hampir 10 Persen Anak Indonesia Terdeteksi Masalah Kesehatan Mental</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/03/09/skrining-kesehatan-temukan-hampir-10-persen-anak-indonesia-terdeteksi-masalah-kesehatan-mental/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bukan Soal Usia, Ini Bahaya Child Grooming yang Sering Tak Disadari</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2026 10:58:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[child grooming]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan mental anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi remaja]]></category>
		<category><![CDATA[tanda child grooming]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fenomena child grooming merupakan bentuk manipulasi yang umumnya berlangsung secara perlahan, terselubung, dan kerap sulit dikenali pada tahap awal. Polanya sering diawali dari hubungan yang tampak positif dan penuh perhatian, namun secara bertahap memasuki fase yang dikenal sebagai zona abu-abu, saat batas antara kepedulian wajar dan eksploitasi mulai kabur. Psikolog anak dan remaja, Ferlita Sari, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/">Bukan Soal Usia, Ini Bahaya Child Grooming yang Sering Tak Disadari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Fenomena <i>child grooming</i> merupakan bentuk manipulasi yang umumnya berlangsung secara perlahan, terselubung, dan kerap sulit dikenali pada tahap awal. Polanya sering diawali dari hubungan yang tampak positif dan penuh perhatian, namun secara bertahap memasuki fase yang dikenal sebagai <i>zona abu-abu</i>, saat batas antara kepedulian wajar dan eksploitasi mulai kabur.</p>
<p>Psikolog anak dan remaja, Ferlita Sari, menjelaskan bahwa <i>child grooming</i> tidak semata-mata ditentukan oleh perbedaan usia, melainkan berkaitan erat dengan ketimpangan kuasa serta kontrol emosional yang dibangun secara sistematis.</p>
<p>“Pelaku biasanya memposisikan diri sebagai sosok yang dianggap paling memahami, mendukung, dan memberikan rasa aman bagi anak atau remaja,” ujarnya dalam Kelas Orang Tua Bersahaja Kemendukbangga di Jakarta, Rabu (28/1).</p>
<p>Ferlita menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap <i>zona abu-abu</i>. Relasi semacam ini kerap terlihat suportif dan penuh perhatian, namun sebenarnya memunculkan rasa tidak nyaman yang sulit diungkapkan anak.<br />
“Dalam banyak kasus, sinyal awal tersebut sering diabaikan karena dianggap sebagai bentuk kedekatan yang normal,” jelasnya.</p>
<p>Hubungan yang tampak baik tidak selalu berarti aman. Ferlita mencontohkan, relasi mentor dan siswa yang terlalu eksklusif, pujian berlebihan dari figur guru favorit, hingga komunikasi privat antara tokoh publik dan penggemar dapat menjadi celah terjadinya <i>child grooming</i>. Bahkan, hubungan romantis dengan perbedaan usia yang sah secara hukum tetap berpotensi berisiko apabila terdapat ketimpangan pengalaman dan kendali emosional.</p>
<p>Dampak <i>child grooming</i> juga kerap berlanjut meski relasi tersebut telah berakhir. Anak yang menjadi korban dapat mengalami trauma relasional jangka panjang, seperti kebingungan memahami hubungan yang sehat, rasa bersalah, hingga kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain di kemudian hari.</p>
<p>“Orang tua pun dapat terdampak secara psikologis. Trauma sekunder sering muncul dalam bentuk perasaan gagal melindungi anak, kemarahan pada diri sendiri, bahkan konflik dalam rumah tangga. Pada kondisi ini, pendampingan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dianjurkan untuk membantu proses pemulihan keluarga,” saran Ferlita.</p>
<p><b>Kewaspadaan bagi Orang Tua dan Remaja</b></p>
<p>Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, defensif secara berlebihan, atau sangat menjaga privasi gawai karena adanya rahasia tertentu. Sementara itu, remaja juga perlu mengevaluasi relasi yang dijalani, apakah masih memiliki kebebasan untuk berkata “tidak”, atau justru merasa tertekan, takut, dan bergantung secara emosional.</p>
<p>Upaya pencegahan <i>child grooming</i> tidak cukup dilakukan melalui larangan yang kaku, melainkan dengan membangun ikatan emosional yang kuat sejak dini. Orang tua perlu menciptakan ruang yang aman agar anak berani bercerita tanpa rasa takut atau dihakimi.</p>
<p>Dialog terbuka mengenai seksualitas juga penting agar anak memahami batasan tubuh serta konsep relasi yang sehat. Pendampingan digital pun perlu dilakukan secara bijak dengan menyeimbangkan kepercayaan, privasi, dan edukasi mengenai risiko di dunia maya.</p>
<p>Kedekatan emosional yang terjaga akan membantu orang tua mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini, sebelum manipulasi berkembang lebih jauh.<br />
“Relasi yang hangat, aman, dan terbuka menjadi kunci utama untuk melindungi anak dari praktik manipulasi psikologis <i>child grooming</i> yang dapat mengancam masa depan mereka,” pungkas Ferlita.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/">Bukan Soal Usia, Ini Bahaya Child Grooming yang Sering Tak Disadari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tidur Anak Terganggu Pascabencana, Orang Tua Wajib Tahu Solusinya</title>
		<link>https://katafoto.id/2025/12/28/tidur-anak-terganggu-pascabencana-orang-tua-wajib-tahu-solusinya/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2025/12/28/tidur-anak-terganggu-pascabencana-orang-tua-wajib-tahu-solusinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2025 03:36:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Anak pascabencana]]></category>
		<category><![CDATA[Bayi dan balita]]></category>
		<category><![CDATA[bencana alam]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan tidur anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan mental anak]]></category>
		<category><![CDATA[Peran orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[Tidur anak]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14526</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Bencana alam dan kondisi darurat kerap memberi dampak besar bagi bayi dan balita. Perubahan situasi yang mendadak, hilangnya rutinitas harian, serta tekanan psikologis dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun emosional anak. Pada banyak kasus, kondisi tersebut terlihat dari munculnya tanda-tanda stres, kemunduran perilaku seperti menjadi lebih rewel atau sulit ditinggal, hingga gangguan tidur. Anak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/12/28/tidur-anak-terganggu-pascabencana-orang-tua-wajib-tahu-solusinya/">Tidur Anak Terganggu Pascabencana, Orang Tua Wajib Tahu Solusinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Jakarta</b> &#8211; Bencana alam dan kondisi darurat kerap memberi dampak besar bagi bayi dan balita. Perubahan situasi yang mendadak, hilangnya rutinitas harian, serta tekanan psikologis dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun emosional anak.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Pada banyak kasus, kondisi tersebut terlihat dari munculnya tanda-tanda stres, kemunduran perilaku seperti menjadi lebih rewel atau sulit ditinggal, hingga gangguan tidur. Anak bisa mengalami kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, atau mengalami mimpi buruk. Padahal, tidur memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang serta pemulihan fisik dan mental anak, terutama di masa krisis.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Melansir dari laman ayosehat kemkes, gangguan tidur pada anak pascabencana umumnya dipicu oleh gabungan berbagai faktor, antara lain:</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>Faktor emosional</b><br />
Anak dapat merasakan ketakutan, kebingungan, hingga rasa kehilangan akibat perubahan besar di sekitarnya. Pengalaman traumatis, kecemasan saat berpisah dengan orang tua, serta perasaan tidak aman membuat anak sulit merasa rileks sehingga susah terlelap.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>Faktor lingkungan</b><br />
Tempat pengungsian atau hunian sementara sering kali tidak kondusif untuk tidur. Kondisi yang bising, padat, pencahayaan berlebih, suhu yang tidak stabil, serta keterbatasan kebersihan dapat mengurangi kenyamanan anak saat beristirahat.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>Faktor fisik</b><br />
Kelelahan, asupan makan dan minum yang tidak optimal, kondisi tubuh yang kurang fit, hingga gangguan seperti gigitan serangga juga dapat membuat anak sulit mendapatkan tidur yang berkualitas.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>Faktor sosial</b><br />
Anak sangat sensitif terhadap emosi orang dewasa di sekitarnya. Ketika orang tua atau pengasuh tampak cemas, stres, atau sering membicarakan hal-hal traumatis, kecemasan tersebut dapat menular dan memengaruhi pola tidur anak.</span></p>
<p class="p2"><span class="s1"><b>Peran Penting Tidur di Masa Darurat</b></span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dalam situasi darurat, tidur memiliki fungsi yang sangat vital. Tidur membantu memulihkan tubuh dari kelelahan dan tekanan berkepanjangan, mendukung pengaturan emosi, serta menjaga daya tahan tubuh anak tetap optimal.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Tidur yang cukup juga membantu anak memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik. Anak cenderung menjadi lebih tenang, responsif, dan mampu menghadapi perubahan dengan lebih stabil secara emosional.</span></p>
<p class="p2"><span class="s1"><b>Cara Menjaga Kualitas Tidur Anak Pascabencana</b></span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>1. Menumbuhkan rasa aman</b><br />
Kehadiran orang tua atau pengasuh yang sigap dan penuh empati sangat berpengaruh. Dengarkan keluhan anak, akui perasaannya, dan yakinkan bahwa ia berada dalam kondisi aman. Sentuhan fisik seperti memeluk atau menemani anak hingga tertidur dapat membantu menurunkan ketegangan dan memudahkan anak untuk rileks.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>2. Membuat area tidur sederhana namun konsisten</b><br />
Meski dalam keterbatasan, usahakan anak tidur di tempat yang sama setiap malam, termasuk di pengungsian. Gunakan alas tidur yang familiar, seperti selimut atau tikar yang sama, agar anak merasa lebih nyaman. Jika memungkinkan, ciptakan batas ruang sederhana menggunakan tas, bantal, atau kain untuk memberi kesan ruang pribadi dan mengurangi gangguan cahaya maupun aktivitas sekitar.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>3. Menjaga rutinitas sebelum tidur</b><br />
Rutinitas ringan seperti membersihkan tubuh, berganti pakaian, berdoa, atau membacakan cerita singkat dapat menjadi sinyal bahwa waktu tidur telah tiba. Konsistensi rutinitas ini membantu tubuh dan pikiran anak lebih siap untuk beristirahat, meskipun kondisi sedang tidak ideal.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>4. Mengupayakan kenyamanan fisik anak</b><br />
Sesuaikan pakaian agar anak tidak kedinginan atau kepanasan. Jika mandi sulit dilakukan, bersihkan bagian tubuh penting seperti wajah, leher, ketiak, dan kaki dengan kain atau tisu basah agar anak merasa lebih segar. Hindari memberi makanan berat atau minuman manis menjelang tidur supaya tubuh anak lebih siap untuk beristirahat.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>5. Menjaga aktivitas dan jadwal tidur</b><br />
Ajak anak bergerak dan bermain ringan di siang hari agar energinya tersalurkan. Aktivitas sederhana, seperti berjalan santai di area yang aman, dapat membantu anak tidur lebih nyenyak di malam hari. Beri juga ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi melalui menggambar, bercerita, atau bermain peran. Usahakan jam tidur dan bangun tetap relatif konsisten untuk menjaga ritme biologis anak.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>6. Mengelola stres orang tua</b><br />
Anak, termasuk bayi dan balita, sangat peka terhadap kondisi emosional orang tuanya. Nada bicara, ekspresi wajah, dan sikap orang tua yang tegang dapat membuat anak ikut cemas dan sulit tidur. Karena itu, orang tua disarankan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mendampingi anak, misalnya dengan bernapas dalam dan berbicara dengan suara lembut.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Untuk anak yang lebih besar, batasi paparan terhadap berita atau percakapan yang bernuansa traumatis. Diskusi mengenai kondisi darurat sebaiknya dilakukan jauh dari anak agar tidak menambah beban kecemasannya.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/12/28/tidur-anak-terganggu-pascabencana-orang-tua-wajib-tahu-solusinya/">Tidur Anak Terganggu Pascabencana, Orang Tua Wajib Tahu Solusinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2025/12/28/tidur-anak-terganggu-pascabencana-orang-tua-wajib-tahu-solusinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
