<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>orang tua - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/orang-tua/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/orang-tua/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 May 2026 14:44:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>orang tua - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/orang-tua/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Orang Tua Mulai Rasakan Dampak PP Tunas, Tapi Masih Ada Celah Serius</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 23:00:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[anak dan internet]]></category>
		<category><![CDATA[Evident Institute]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[pengawasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[platform digital]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Verifikasi Usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16553</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Mayoritas orang tua di kawasan perkotaan mulai merasakan kehadiran negara dalam melindungi anak dari paparan konten negatif di media sosial. Hal ini terlihat seiring penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Temuan tersebut merujuk pada riset Evident Institute terkait kebijakan pembatasan usia penggunaan media sosial bagi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/">Orang Tua Mulai Rasakan Dampak PP Tunas, Tapi Masih Ada Celah Serius</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Mayoritas orang tua di kawasan perkotaan mulai merasakan kehadiran negara dalam melindungi anak dari paparan konten negatif di media sosial. Hal ini terlihat seiring penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).</p>
<p>Temuan tersebut merujuk pada riset Evident Institute terkait kebijakan pembatasan usia penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang mulai berlaku sejak 28 Maret 2026. Dalam regulasi itu, platform digital diwajibkan membatasi akses anak, dengan tenggat evaluasi mandiri hingga 6 Juni 2026.</p>
<p>Direktur Eksekutif Evident Institute, Rinatania Anggraeni Fajriani, menilai kebijakan ini mencerminkan komitmen negara dalam aspek tata kelola publik untuk melindungi anak. Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan teknis agar implementasi berjalan optimal.</p>
<p>“Regulasi yang sudah diterapkan harus didukung kemampuan teknis yang memadai agar benar-benar mampu melindungi anak dari konten negatif di ruang digital,” ujar Anggraeni dalam keterangan tertulis, Senin (4/5).</p>
<p>Dilansir dari laman berita satu, survei yang melibatkan 1.050 responden dari wilayah urban, mayoritas Jakarta, menunjukkan bahwa orang tua telah melakukan pengawasan aktif, meski masih merasa upaya tersebut belum sepenuhnya efektif. Sebanyak 91 persen responden mengaku membatasi durasi penggunaan gawai anak, sementara 83,6 persen rutin memantau aktivitas digital mereka.</p>
<p>Meski demikian, 59,3 persen responden menilai sistem verifikasi usia saat ini belum efektif. Bahkan, 38 persen menyebut platform digital belum menyediakan mekanisme verifikasi yang jelas.</p>
<p>“Kondisi ini mengindikasikan perlindungan berbasis platform masih lemah dan belum sepenuhnya dirasakan pengguna. Akibatnya, beban pengawasan lebih banyak bertumpu pada orang tua, sementara fitur pengamanan dari platform belum berjalan optimal,” lanjut Anggraeni.</p>
<p>Evident Institute menilai PP Tunas berpotensi menjadi instrumen penting dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Namun, implementasi kebijakan ini dinilai memerlukan langkah lanjutan yang konsisten agar tidak berhenti pada aspek administratif semata.</p>
<p>Tanpa dukungan standar teknis yang jelas, penegakan sanksi terhadap platform, serta peningkatan literasi publik, kebijakan ini berisiko tidak berjalan maksimal. Hal tersebut tercermin dari 24,2 persen responden yang belum mengetahui waktu mulai berlakunya aturan.</p>
<p>Tim peneliti juga mengidentifikasi sejumlah celah dalam implementasi PP Tunas. Pertama, dari sisi teknis, yakni keterbatasan fitur verifikasi usia di platform media sosial yang dinilai belum memadai dan sulit diakses. Kedua, rendahnya tingkat pemahaman publik terhadap detail kebijakan, di mana sebagian besar responden hanya mengetahui secara umum tanpa memahami implementasi secara rinci.</p>
<p>Ketiga, peran institusi pendidikan dinilai belum optimal dalam menyosialisasikan pembatasan usia penggunaan media sosial, meskipun edukasi terkait risiko digital mulai diberikan.</p>
<p>Dalam konteks ini, keterlibatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dinilai krusial untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus memastikan konsistensi penerapan kebijakan.</p>
<p>“Ketiga celah tersebut saling berkaitan dan berpotensi memperlebar jarak antara tujuan regulasi dan praktik di lapangan,” katanya.</p>
<p>Survei ini melibatkan responden dengan mayoritas berdomisili di Jakarta (59,6 persen), didominasi perempuan (67,4 persen), serta kelompok usia 21–30 tahun (40,1 persen). Temuan ini merefleksikan perspektif masyarakat urban yang dekat dengan teknologi digital dan tidak dimaksudkan sebagai gambaran nasional secara keseluruhan.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/">Orang Tua Mulai Rasakan Dampak PP Tunas, Tapi Masih Ada Celah Serius</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bukan Soal Usia, Ini Bahaya Child Grooming yang Sering Tak Disadari</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2026 10:58:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[child grooming]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan mental anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi remaja]]></category>
		<category><![CDATA[tanda child grooming]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fenomena child grooming merupakan bentuk manipulasi yang umumnya berlangsung secara perlahan, terselubung, dan kerap sulit dikenali pada tahap awal. Polanya sering diawali dari hubungan yang tampak positif dan penuh perhatian, namun secara bertahap memasuki fase yang dikenal sebagai zona abu-abu, saat batas antara kepedulian wajar dan eksploitasi mulai kabur. Psikolog anak dan remaja, Ferlita Sari, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/">Bukan Soal Usia, Ini Bahaya Child Grooming yang Sering Tak Disadari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Fenomena <i>child grooming</i> merupakan bentuk manipulasi yang umumnya berlangsung secara perlahan, terselubung, dan kerap sulit dikenali pada tahap awal. Polanya sering diawali dari hubungan yang tampak positif dan penuh perhatian, namun secara bertahap memasuki fase yang dikenal sebagai <i>zona abu-abu</i>, saat batas antara kepedulian wajar dan eksploitasi mulai kabur.</p>
<p>Psikolog anak dan remaja, Ferlita Sari, menjelaskan bahwa <i>child grooming</i> tidak semata-mata ditentukan oleh perbedaan usia, melainkan berkaitan erat dengan ketimpangan kuasa serta kontrol emosional yang dibangun secara sistematis.</p>
<p>“Pelaku biasanya memposisikan diri sebagai sosok yang dianggap paling memahami, mendukung, dan memberikan rasa aman bagi anak atau remaja,” ujarnya dalam Kelas Orang Tua Bersahaja Kemendukbangga di Jakarta, Rabu (28/1).</p>
<p>Ferlita menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap <i>zona abu-abu</i>. Relasi semacam ini kerap terlihat suportif dan penuh perhatian, namun sebenarnya memunculkan rasa tidak nyaman yang sulit diungkapkan anak.<br />
“Dalam banyak kasus, sinyal awal tersebut sering diabaikan karena dianggap sebagai bentuk kedekatan yang normal,” jelasnya.</p>
<p>Hubungan yang tampak baik tidak selalu berarti aman. Ferlita mencontohkan, relasi mentor dan siswa yang terlalu eksklusif, pujian berlebihan dari figur guru favorit, hingga komunikasi privat antara tokoh publik dan penggemar dapat menjadi celah terjadinya <i>child grooming</i>. Bahkan, hubungan romantis dengan perbedaan usia yang sah secara hukum tetap berpotensi berisiko apabila terdapat ketimpangan pengalaman dan kendali emosional.</p>
<p>Dampak <i>child grooming</i> juga kerap berlanjut meski relasi tersebut telah berakhir. Anak yang menjadi korban dapat mengalami trauma relasional jangka panjang, seperti kebingungan memahami hubungan yang sehat, rasa bersalah, hingga kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain di kemudian hari.</p>
<p>“Orang tua pun dapat terdampak secara psikologis. Trauma sekunder sering muncul dalam bentuk perasaan gagal melindungi anak, kemarahan pada diri sendiri, bahkan konflik dalam rumah tangga. Pada kondisi ini, pendampingan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dianjurkan untuk membantu proses pemulihan keluarga,” saran Ferlita.</p>
<p><b>Kewaspadaan bagi Orang Tua dan Remaja</b></p>
<p>Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, defensif secara berlebihan, atau sangat menjaga privasi gawai karena adanya rahasia tertentu. Sementara itu, remaja juga perlu mengevaluasi relasi yang dijalani, apakah masih memiliki kebebasan untuk berkata “tidak”, atau justru merasa tertekan, takut, dan bergantung secara emosional.</p>
<p>Upaya pencegahan <i>child grooming</i> tidak cukup dilakukan melalui larangan yang kaku, melainkan dengan membangun ikatan emosional yang kuat sejak dini. Orang tua perlu menciptakan ruang yang aman agar anak berani bercerita tanpa rasa takut atau dihakimi.</p>
<p>Dialog terbuka mengenai seksualitas juga penting agar anak memahami batasan tubuh serta konsep relasi yang sehat. Pendampingan digital pun perlu dilakukan secara bijak dengan menyeimbangkan kepercayaan, privasi, dan edukasi mengenai risiko di dunia maya.</p>
<p>Kedekatan emosional yang terjaga akan membantu orang tua mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini, sebelum manipulasi berkembang lebih jauh.<br />
“Relasi yang hangat, aman, dan terbuka menjadi kunci utama untuk melindungi anak dari praktik manipulasi psikologis <i>child grooming</i> yang dapat mengancam masa depan mereka,” pungkas Ferlita.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/">Bukan Soal Usia, Ini Bahaya Child Grooming yang Sering Tak Disadari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/01/28/bukan-soal-usia-ini-bahaya-child-grooming-yang-sering-tak-disadari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
