<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PP Tunas - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/pp-tunas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/pp-tunas/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Oct 2026 09:13:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>PP Tunas - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/pp-tunas/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Indonesia dan Malaysia Kompak Batasi Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/10/20/indonesia-dan-malaysia-kompak-batasi-media-sosial-anak-di-bawah-16-tahun/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/10/20/indonesia-dan-malaysia-kompak-batasi-media-sosial-anak-di-bawah-16-tahun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2026 09:13:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TEKNEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Tech Week 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=20040</guid>

					<description><![CDATA[<p>katafoto, Bali &#8211; Perlindungan anak dari risiko dunia digital menjadi perhatian bersama Indonesia dan Malaysia. Kedua negara mendorong pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun serta meminta perusahaan teknologi global memperkuat sistem keamanan untuk mencegah eksploitasi seksual, paparan konten berbahaya, dan dampak negatif algoritma digital. Menteri Komunikasi Malaysia, Ahmad Fahmi Mohamed [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/10/20/indonesia-dan-malaysia-kompak-batasi-media-sosial-anak-di-bawah-16-tahun/">Indonesia dan Malaysia Kompak Batasi Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>katafoto, Bali</b> &#8211; Perlindungan anak dari risiko dunia digital menjadi perhatian bersama Indonesia dan Malaysia. Kedua negara mendorong pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun serta meminta perusahaan teknologi global memperkuat sistem keamanan untuk mencegah eksploitasi seksual, paparan konten berbahaya, dan dampak negatif algoritma digital.</p>
<p>Menteri Komunikasi Malaysia, Ahmad Fahmi Mohamed Fadzil, mengatakan kedua negara memiliki kesamaan kepentingan dalam menghadapi tantangan pengawasan perusahaan teknologi yang melayani ratusan juta hingga miliaran pengguna di berbagai negara.</p>
<p>Pernyataan tersebut disampaikan Fahmi dalam rangkaian Bali Tech Week 2026 di Bali Beach Convention Center, Denpasar, Bali, Selasa (20/10).</p>
<p>“Saya ingin menekankan kepada Anda semua bahwa kedua kementerian kami memiliki hubungan kerja yang baik, bahkan sangat baik, karena kami memiliki tantangan dan kepentingan bersama,” ujar Fahmi.</p>
<p>Menurutnya, pengawasan terhadap perusahaan teknologi global membutuhkan kerja sama lintas negara. Pasalnya, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki nilai pasar yang besar dan jangkauan layanan luas, sementara kehadiran fisik mereka di setiap negara tidak selalu sebanding dengan skala operasionalnya.</p>
<p>Fahmi menilai pemerintah tidak bisa menangani persoalan tersebut secara terpisah. Kolaborasi diperlukan untuk memperkuat komunikasi, dialog, dan penyusunan kebijakan agar platform digital lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan penggunanya.</p>
<p>Ia juga menyinggung hubungan kerja dengan Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Meutya Hafid, serta Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Josephine Teo.</p>
<p>Ketiga negara, kata Fahmi, memiliki kepentingan yang sama dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, meskipun masing-masing menerapkan pendekatan regulasi dan mekanisme perlindungan yang berbeda.</p>
<p><b>Malaysia Terapkan Batas Usia 16 Tahun untuk Media Sosial</b></p>
<p>Fahmi menjelaskan, Malaysia menerapkan batas usia minimum 16 tahun untuk kepemilikan akun media sosial. Pemerintah juga mendorong penguatan sistem verifikasi usia agar ketentuan tersebut dapat diterapkan secara efektif.</p>
<p>Salah satu mekanisme yang dibahas bersama perusahaan teknologi adalah <i>electronic Know Your Customer</i> (e-KYC), yakni proses verifikasi identitas secara elektronik. Sistem ini diharapkan membantu platform memastikan usia pengguna sebelum memberikan akses untuk membuat akun.</p>
<p>Menurut Fahmi, penetapan batas usia tersebut mempertimbangkan tahap perkembangan remaja dan kesiapan mereka dalam menjalankan tanggung jawab pribadi.</p>
<p>Ia mencontohkan aturan di Malaysia yang memperbolehkan seseorang memperoleh izin mengendarai sepeda motor mulai usia 16 tahun. Menurutnya, akses terhadap media sosial juga perlu mempertimbangkan kemampuan anak dalam menghadapi risiko dan bertanggung jawab di lingkungan digital.</p>
<p>Meski demikian, Fahmi menegaskan bahwa kebijakan pembatasan usia bukan berarti pemerintah mengabaikan manfaat internet. Ruang digital tetap memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan, komunikasi, dan pengembangan pengetahuan anak.</p>
<p>Tantangannya adalah memastikan anak dapat memanfaatkan teknologi secara aman sesuai usia dan tingkat kematangannya.</p>
<p><b>Indonesia Dorong Keamanan Digital Sejak Tahap Perancangan</b></p>
<p>Di Indonesia, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid menegaskan bahwa perlindungan masyarakat, terutama anak-anak, menjadi prioritas dalam membangun ekosistem digital yang aman dan bertanggung jawab.</p>
<p>Menurut Meutya, keberhasilan kebijakan perlindungan anak tidak cukup diukur dari jumlah akun yang dinonaktifkan. Pemerintah juga mendorong perusahaan teknologi menerapkan prinsip <i>safety by design</i>, yaitu memasukkan aspek keamanan sejak tahap perancangan produk dan layanan digital.</p>
<p>&#8220;Ujungnya kita bukan mengejar angka-angka deaktivasi saja, tapi bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dunia ini mau kemudian menerapkan <i>safety by design</i>,&#8221; ujar Meutya saat membuka Bali Tech Week 2026 di Senin (19/10).</p>
<p>Prinsip tersebut mencakup pengaturan fitur, sistem rekomendasi konten, serta mekanisme perlindungan yang dirancang untuk mengurangi risiko terhadap anak dan pengguna secara umum.</p>
<p>Indonesia telah memiliki Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.</p>
<p>Melalui aturan pelaksanaannya, pemerintah mulai menerapkan pembatasan akses bagi anak di bawah usia 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi secara bertahap sejak 28 Maret 2026.</p>
<p>Sejumlah perusahaan teknologi telah melaporkan penyesuaian layanan, termasuk penonaktifan akun pengguna yang belum memenuhi persyaratan usia.</p>
<p>Meutya menyebut TikTok telah melaporkan penonaktifan sekitar sembilan juta akun pengguna anak. Namun, ia mengingatkan bahwa upaya perlindungan tidak boleh berhenti pada penutupan akun, melainkan harus diikuti perbaikan sistem keamanan platform secara menyeluruh.</p>
<p>&#8220;Artinya, dari awal desain dari produk ini harus aman bagi anak-anak dan secara umum masyarakat Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/10/20/indonesia-dan-malaysia-kompak-batasi-media-sosial-anak-di-bawah-16-tahun/">Indonesia dan Malaysia Kompak Batasi Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/10/20/indonesia-dan-malaysia-kompak-batasi-media-sosial-anak-di-bawah-16-tahun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Balik Konten Lucu Anak, Ada Potensi Eksploitasi Tersembunyi?</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/10/02/di-balik-konten-lucu-anak-ada-potensi-eksploitasi-tersembunyi/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/10/02/di-balik-konten-lucu-anak-ada-potensi-eksploitasi-tersembunyi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2026 02:37:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TEKNEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Anak di Media Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Eksploitasi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[Privasi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Gadjah Mada]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=19792</guid>

					<description><![CDATA[<p>katafoto, Yogyakarta &#8211; Fenomena orang tua membagikan konten lucu bersama anak di media sosial semakin marak. Di balik unggahan yang terlihat sebagai cara mengabadikan momen tumbuh kembang anak, praktik tersebut ternyata menyimpan potensi eksploitasi digital yang kerap tidak disadari. Kebiasaan membagikan foto, video, informasi, maupun cerita mengenai anak di media sosial dikenal dengan istilah sharenting. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/10/02/di-balik-konten-lucu-anak-ada-potensi-eksploitasi-tersembunyi/">Di Balik Konten Lucu Anak, Ada Potensi Eksploitasi Tersembunyi?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>katafoto, Yogyakarta </b>&#8211; Fenomena orang tua membagikan konten lucu bersama anak di media sosial semakin marak. Di balik unggahan yang terlihat sebagai cara mengabadikan momen tumbuh kembang anak, praktik tersebut ternyata menyimpan potensi eksploitasi digital yang kerap tidak disadari.</p>
<p>Kebiasaan membagikan foto, video, informasi, maupun cerita mengenai anak di media sosial dikenal dengan istilah <i>sharenting</i>. Dalam perkembangannya, konten yang awalnya dibuat untuk berbagi pengalaman keluarga atau hiburan dapat memiliki nilai ekonomi ketika dikaitkan dengan berbagai bentuk monetisasi.</p>
<p>Fenomena tersebut menjadi perhatian lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Teman Tumbuh Program Kreativitas Mahasiswa Riset Humaniora (PKM-RSH).</p>
<p>Mereka mengkaji praktik tersebut melalui penelitian berjudul “Masa Kecil dalam Etalase Digital: Eksploitasi Digital melalui Praktik Monetisasi Konten Anak di Era Sharenting.”</p>
<p>Tim Teman Tumbuh terdiri atas Phedra Annabelle, Laurensius Yuniarta, Shallom Gracia, Giasinta Anra, dan Leonardo. Penelitian dilakukan dengan menganalisis sejumlah konten di TikTok serta mewawancarai pihak-pihak yang berkaitan dengan isu perlindungan anak.</p>
<p>Wawancara juga melibatkan pemangku kebijakan dan pihak yang memiliki pengalaman langsung dalam melihat praktik <i>sharenting</i>. Penelitian tersebut mendapat pendampingan dari Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas.</p>
<p>Ketua Tim Teman Tumbuh, Phedra Annabelle, mengatakan perkembangan platform digital membuat konten yang melibatkan anak tidak hanya menjadi sarana berbagi cerita, tetapi juga berpotensi menghasilkan pendapatan.</p>
<p>Menurutnya, anak dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembuatan konten yang memberikan keuntungan melalui sejumlah mekanisme monetisasi.</p>
<p>“Dalam situasi ini, anak tidak lagi sekadar menjadi sosok yang muncul di dalam video. Anak dapat berubah menjadi bagian dari strategi konten, bahkan menjadi ‘aset digital’ yang membantu menghasilkan keuntungan,” ujar Phedra dikutip dari laman ugm, Rabu (30/9).</p>
<p><b>Tiga Peran Anak dalam Konten yang Dimonetisasi</b></p>
<p>Dari penelitian tersebut, Tim Teman Tumbuh menemukan tiga peran anak yang paling banyak muncul dalam praktik <i>hidden exploitation</i> atau eksploitasi tersembunyi.</p>
<p>Pertama, anak berperan sebagai pengguna atau konsumen produk. Dalam posisi ini, anak menggunakan atau berinteraksi langsung dengan produk yang ditampilkan dalam konten.</p>
<p>Kedua, anak ditempatkan sebagai aktor cilik yang mengikuti alur maupun skenario tertentu sesuai kebutuhan konten.</p>
<p>Ketiga, anak berperan sebagai pemberi testimoni. Pengalaman, ucapan, hingga reaksi anak dapat dimanfaatkan untuk memberikan gambaran bahwa sebuah produk layak digunakan atau dibeli.</p>
<p>Phedra menilai orang tua memang mempunyai peran besar dalam pengasuhan serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan anak. Namun, hal tersebut tidak berarti anak kehilangan hak atas privasinya.</p>
<p>Teknologi digital juga membuat batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik menjadi semakin sulit dipisahkan. Foto atau video yang semula hanya dimaksudkan untuk dibagikan kepada keluarga dapat menyebar lebih luas dan ditonton jutaan orang.</p>
<p>Informasi yang terlihat sederhana saat ini juga berpotensi menjadi bagian dari jejak digital anak dalam jangka panjang.</p>
<p>“Bagi kami, persoalannya bukan tentang melarang orang tua membagikan momen bersama anak, tetapi tentang memastikan apakah hak dan privasi anak tetap diperhatikan dalam prosesnya,” tegasnya.</p>
<p><b>Regulasi Dinilai Belum Spesifik Mengatur Sharenting</b></p>
<p>Phedra mengatakan, dari sisi regulasi di Indonesia, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) belum secara khusus menjelaskan praktik <i>sharenting</i> yang dilakukan orang tua.</p>
<p>Terlebih ketika anak menjadi bagian dari konten yang dibuat sekaligus dimonetisasi.</p>
<p>“Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya membicarakan apa yang dilakukan oleh platform. Ada pula persoalan mengenai bagaimana orang tua sebagai pembuat dan pengendali konten menggunakan data, identitas, serta kehidupan pribadi anak,” tambahnya.</p>
<p>Karena itu, Tim Teman Tumbuh mendorong sejumlah langkah untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Beberapa di antaranya adalah meningkatkan literasi digital bagi orang tua dan anak, memperkuat regulasi, membangun kolaborasi lintas sektor, serta menghadirkan sistem platform yang lebih aman.</p>
<p>“Literasi digital itu bukan cuma soal bisa menggunakan media sosial atau gawai. Orang tua juga perlu paham soal privasi anak, risiko ketika membagikan informasi pribadi, dan bagaimana jejak digital itu bisa berdampak ke anak di kemudian hari,” katanya.</p>
<p>Menurut Phedra, peningkatan literasi saja belum cukup. Perlindungan anak juga membutuhkan regulasi yang lebih kuat, kolaborasi berbagai pihak, serta sistem perlindungan anak dari platform digital.</p>
<p>“Jadi, jangan hanya melihat platform sebagai pihak yang bertanggung jawab, tetapi keluarga juga harus menjadi bagian dari upaya perlindungan anak di ruang digital,” tuturnya.</p>
<p>Tim Teman Tumbuh menilai pembahasan mengenai persoalan ini perlu terus dilakukan. Tujuannya bukan untuk melarang orang tua membagikan cerita maupun momen bersama anak, melainkan mendorong mereka lebih bijak dalam menentukan informasi yang dibagikan, alasan membagikannya, serta pihak yang memperoleh manfaat dari konten tersebut.</p>
<p>Foto, video, maupun cerita yang dianggap biasa ketika anak masih kecil bisa memiliki makna berbeda ketika mereka beranjak dewasa.</p>
<p>“Karena itu, ruang digital juga perlu menjadi ruang yang aman bagi anak, termasuk dalam menjaga privasi dan kehidupan pribadinya,” imbuhnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/10/02/di-balik-konten-lucu-anak-ada-potensi-eksploitasi-tersembunyi/">Di Balik Konten Lucu Anak, Ada Potensi Eksploitasi Tersembunyi?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/10/02/di-balik-konten-lucu-anak-ada-potensi-eksploitasi-tersembunyi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Platform Digital Bisa Didenda 6 Persen Pendapatan Global Jika Langgar PP TUNAS</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/09/14/platform-digital-bisa-didenda-6-persen-pendapatan-global-jika-langgar-pp-tunas/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/09/14/platform-digital-bisa-didenda-6-persen-pendapatan-global-jika-langgar-pp-tunas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 12:53:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TEKNEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Kemkomdigi]]></category>
		<category><![CDATA[Pelindungan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[platform digital]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[ruang digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=19584</guid>

					<description><![CDATA[<p>katafoto, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah menyiapkan skema denda bagi platform digital yang tidak memenuhi ketentuan pelindungan anak sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS. Besaran denda yang disiapkan berbeda berdasarkan skala platform. Untuk platform digital berskala [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/09/14/platform-digital-bisa-didenda-6-persen-pendapatan-global-jika-langgar-pp-tunas/">Platform Digital Bisa Didenda 6 Persen Pendapatan Global Jika Langgar PP TUNAS</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>katafoto, Jakarta</b> – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah menyiapkan skema denda bagi platform digital yang tidak memenuhi ketentuan pelindungan anak sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.</p>
<p>Besaran denda yang disiapkan berbeda berdasarkan skala platform. Untuk platform digital berskala besar atau global, denda dapat mencapai 6 persen dari pendapatan global.</p>
<p>Sementara itu, sanksi bagi Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) privat dalam negeri akan disesuaikan dengan skala usaha. Denda maksimal ditetapkan sebesar Rp1 miliar bagi usaha mikro, Rp5 miliar untuk usaha kecil, dan Rp10 miliar untuk usaha menengah.</p>
<p>Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, pemberian sanksi diperlukan agar kewajiban platform dalam melindungi anak tidak hanya bersifat aturan, tetapi juga memiliki konsekuensi apabila dilanggar.</p>
<p>“Untuk platform digital skala besar atau global, denda yang kami rumuskan sebesar 6 persen dari pendapatan global. Sementara untuk PSE privat dalam negeri, besaran dendanya disesuaikan dengan skala usaha,” ujar Meutya dalam Konferensi Pers Progres Implementasi PP TUNAS di Kantor Kementerian Komdigi, Senin (14/9).</p>
<p><b>Besaran Denda Sudah Dikonsultasikan</b></p>
<p>Meutya menjelaskan, formulasi besaran denda tersebut tidak ditetapkan secara sepihak. Pemerintah telah melakukan konsultasi publik dan sosialisasi dengan PSE privat sebelum rumusan disusun.</p>
<p>Menurut dia, pembahasan juga telah melibatkan sejumlah platform yang masuk dalam kategori berisiko tinggi. Rumusan besaran sanksi kemudian disampaikan kepada Kementerian Keuangan untuk diproses lebih lanjut bersama kementerian dan lembaga terkait.</p>
<p>&#8220;Sebelum formulasi ditetapkan, ini sudah melalui konsultasi publik, sudah melalui penyampaian resmi kepada PSE terutama ke delapan platform (berisiko tinggi) dan juga sudah resmi diserahkan kepada Kementerian Keuangan untuk dibahas dan ditetapkan dalam PP PNBP bersama kementerian terkait,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Adapun delapan platform yang sejak awal dikategorikan memiliki profil risiko tinggi adalah YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigolive, dan Roblox.</p>
<p><b>Denda PSE Dalam Negeri Disesuaikan Skala Usaha</b></p>
<p>Lebih lanjut, Meutya mengatakan pengelompokan skala usaha PSE privat dalam negeri dilakukan dengan mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk PP Nomor 7 Tahun 2021.</p>
<p>Dengan skema tersebut, besaran sanksi tidak disamaratakan bagi seluruh PSE. Kemampuan dan skala usaha menjadi salah satu dasar dalam menentukan nilai denda yang dapat dikenakan.</p>
<p>Penerapan sanksi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat penegakan PP TUNAS. Kemkomdigi menyiapkan instrumen hukum agar setiap platform memiliki kepastian mengenai kewajiban mereka dalam memberikan perlindungan kepada anak di ruang digital.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/09/14/platform-digital-bisa-didenda-6-persen-pendapatan-global-jika-langgar-pp-tunas/">Platform Digital Bisa Didenda 6 Persen Pendapatan Global Jika Langgar PP TUNAS</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/09/14/platform-digital-bisa-didenda-6-persen-pendapatan-global-jika-langgar-pp-tunas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kurangi Kecanduan Gawai, Pemerintah Luncurkan Buku Saku 100 Permainan Tradisional</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/07/25/kurangi-kecanduan-gawai-pemerintah-luncurkan-buku-saku-100-permainan-tradisional/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/07/25/kurangi-kecanduan-gawai-pemerintah-luncurkan-buku-saku-100-permainan-tradisional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2026 15:05:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Buku Saku Generasi Berani Exploring]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Generasi Berani Exploring]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Anak Nasional 2026]]></category>
		<category><![CDATA[kecanduan gawai]]></category>
		<category><![CDATA[Kemkomdigi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[permainan tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=18680</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta – Pemerintah meluncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring sebagai panduan bagi orang tua untuk mengajak anak mengurangi penggunaan gawai dan lebih banyak beraktivitas melalui permainan tradisional maupun aktivitas fisik. Peluncuran buku saku tersebut menjadi bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Program ini digagas Kementerian [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/25/kurangi-kecanduan-gawai-pemerintah-luncurkan-buku-saku-100-permainan-tradisional/">Kurangi Kecanduan Gawai, Pemerintah Luncurkan Buku Saku 100 Permainan Tradisional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> – Pemerintah meluncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring sebagai panduan bagi orang tua untuk mengajak anak mengurangi penggunaan gawai dan lebih banyak beraktivitas melalui permainan tradisional maupun aktivitas fisik.</p>
<p>Peluncuran buku saku tersebut menjadi bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Program ini digagas Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Kementerian Kebudayaan serta sejumlah mitra.</p>
<p>Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengatakan buku saku itu memuat sekitar 100 jenis permainan dan aktivitas yang dapat menjadi pilihan bagi orang tua untuk mengisi waktu anak setelah adanya pembatasan penggunaan gawai.</p>
<p>Menurut Meutya, panduan tersebut disusun agar keluarga memiliki lebih banyak alternatif kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.</p>
<p>&#8220;Ini merupakan pegangan bagi orang tua agar memiliki banyak pilihan aktivitas, baik permainan tradisional maupun permainan sederhana lainnya yang dapat mengurangi risiko anak terpapar kecanduan gawai, konten berbahaya, maupun komunikasi dengan orang yang tidak dikenal,&#8221; ujar Meutya dalam Festival Generasi Berani Exploring yang digelar dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 di Cibis Park, Sabtu (25/7).</p>
<p>Ia menambahkan, isi buku akan terus diperbarui seiring pendataan permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia sehingga koleksi aktivitas di dalamnya semakin beragam.</p>
<p>Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Indonesia memiliki lebih dari 2.500 permainan tradisiona<b>l </b>yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Namun, banyak di antaranya mulai ditinggalkan karena meningkatnya penggunaan perangkat digital oleh anak-anak.</p>
<p>Melalui implementasi PP Tunas, pemerintah ingin menghidupkan kembali permainan tradisional agar menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun komunitas.</p>
<p>&#8220;Kita ingin permainan tradisional kembali dimainkan di rumah, sekolah, maupun komunitas. Selain menyehatkan, permainan ini juga mengandung nilai budaya dan membangun karakter anak,&#8221; kata Fadli.</p>
<p>Ia menjelaskan, promosi permainan tradisional akan dilakukan secara lebih luas melalui museum, situs budaya, kawasan cagar budaya, hingga berbagai platform digital agar semakin dikenal generasi muda.</p>
<p>Meutya menegaskan, peluncuran Buku Saku Generasi Berani Exploring merupakan awal dari gerakan yang akan diperluas ke berbagai daerah melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta.</p>
<p>Distribusi buku akan dilakukan secara bertahap dalam bentuk cetak maupun digital sehingga dapat diakses lebih banyak keluarga di seluruh Indonesia.</p>
<p>&#8220;Gerakan ini akan terus berjalan. Kami akan menentukan daerah-daerah prioritas agar semakin banyak keluarga memperoleh alternatif aktivitas yang sehat bagi anak-anak,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menutup acara, Meutya mengajak anak-anak Indonesia untuk berani mencoba hal baru, tidak takut menghadapi kegagalan, serta terus melestarikan budaya bangsa melalui permainan tradisional.</p>
<p>&#8220;Belajar berani adalah bekal penting untuk menghadapi kehidupan. Jangan takut jatuh, karena setiap kali jatuh kita harus bangkit lagi. Terus maju dan cintai budaya Indonesia, termasuk permainan tradisional yang menjadi bagian dari jati diri bangsa,&#8221; tutupnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/25/kurangi-kecanduan-gawai-pemerintah-luncurkan-buku-saku-100-permainan-tradisional/">Kurangi Kecanduan Gawai, Pemerintah Luncurkan Buku Saku 100 Permainan Tradisional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/07/25/kurangi-kecanduan-gawai-pemerintah-luncurkan-buku-saku-100-permainan-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Mulai Rasakan Dampak PP Tunas, Tapi Masih Ada Celah Serius</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 23:00:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[anak dan internet]]></category>
		<category><![CDATA[Evident Institute]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[pengawasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[platform digital]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Verifikasi Usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16553</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Mayoritas orang tua di kawasan perkotaan mulai merasakan kehadiran negara dalam melindungi anak dari paparan konten negatif di media sosial. Hal ini terlihat seiring penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Temuan tersebut merujuk pada riset Evident Institute terkait kebijakan pembatasan usia penggunaan media sosial bagi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/">Orang Tua Mulai Rasakan Dampak PP Tunas, Tapi Masih Ada Celah Serius</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Mayoritas orang tua di kawasan perkotaan mulai merasakan kehadiran negara dalam melindungi anak dari paparan konten negatif di media sosial. Hal ini terlihat seiring penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).</p>
<p>Temuan tersebut merujuk pada riset Evident Institute terkait kebijakan pembatasan usia penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang mulai berlaku sejak 28 Maret 2026. Dalam regulasi itu, platform digital diwajibkan membatasi akses anak, dengan tenggat evaluasi mandiri hingga 6 Juni 2026.</p>
<p>Direktur Eksekutif Evident Institute, Rinatania Anggraeni Fajriani, menilai kebijakan ini mencerminkan komitmen negara dalam aspek tata kelola publik untuk melindungi anak. Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan teknis agar implementasi berjalan optimal.</p>
<p>“Regulasi yang sudah diterapkan harus didukung kemampuan teknis yang memadai agar benar-benar mampu melindungi anak dari konten negatif di ruang digital,” ujar Anggraeni dalam keterangan tertulis, Senin (4/5).</p>
<p>Dilansir dari laman berita satu, survei yang melibatkan 1.050 responden dari wilayah urban, mayoritas Jakarta, menunjukkan bahwa orang tua telah melakukan pengawasan aktif, meski masih merasa upaya tersebut belum sepenuhnya efektif. Sebanyak 91 persen responden mengaku membatasi durasi penggunaan gawai anak, sementara 83,6 persen rutin memantau aktivitas digital mereka.</p>
<p>Meski demikian, 59,3 persen responden menilai sistem verifikasi usia saat ini belum efektif. Bahkan, 38 persen menyebut platform digital belum menyediakan mekanisme verifikasi yang jelas.</p>
<p>“Kondisi ini mengindikasikan perlindungan berbasis platform masih lemah dan belum sepenuhnya dirasakan pengguna. Akibatnya, beban pengawasan lebih banyak bertumpu pada orang tua, sementara fitur pengamanan dari platform belum berjalan optimal,” lanjut Anggraeni.</p>
<p>Evident Institute menilai PP Tunas berpotensi menjadi instrumen penting dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Namun, implementasi kebijakan ini dinilai memerlukan langkah lanjutan yang konsisten agar tidak berhenti pada aspek administratif semata.</p>
<p>Tanpa dukungan standar teknis yang jelas, penegakan sanksi terhadap platform, serta peningkatan literasi publik, kebijakan ini berisiko tidak berjalan maksimal. Hal tersebut tercermin dari 24,2 persen responden yang belum mengetahui waktu mulai berlakunya aturan.</p>
<p>Tim peneliti juga mengidentifikasi sejumlah celah dalam implementasi PP Tunas. Pertama, dari sisi teknis, yakni keterbatasan fitur verifikasi usia di platform media sosial yang dinilai belum memadai dan sulit diakses. Kedua, rendahnya tingkat pemahaman publik terhadap detail kebijakan, di mana sebagian besar responden hanya mengetahui secara umum tanpa memahami implementasi secara rinci.</p>
<p>Ketiga, peran institusi pendidikan dinilai belum optimal dalam menyosialisasikan pembatasan usia penggunaan media sosial, meskipun edukasi terkait risiko digital mulai diberikan.</p>
<p>Dalam konteks ini, keterlibatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dinilai krusial untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus memastikan konsistensi penerapan kebijakan.</p>
<p>“Ketiga celah tersebut saling berkaitan dan berpotensi memperlebar jarak antara tujuan regulasi dan praktik di lapangan,” katanya.</p>
<p>Survei ini melibatkan responden dengan mayoritas berdomisili di Jakarta (59,6 persen), didominasi perempuan (67,4 persen), serta kelompok usia 21–30 tahun (40,1 persen). Temuan ini merefleksikan perspektif masyarakat urban yang dekat dengan teknologi digital dan tidak dimaksudkan sebagai gambaran nasional secara keseluruhan.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/">Orang Tua Mulai Rasakan Dampak PP Tunas, Tapi Masih Ada Celah Serius</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/05/orang-tua-mulai-rasakan-dampak-pp-tunas-tapi-masih-ada-celah-serius/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Roblox Terapkan Verifikasi Usia dan Pembatasan Fitur untuk Anak</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/04/30/roblox-terapkan-verifikasi-usia-dan-pembatasan-fitur-untuk-anak/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/04/30/roblox-terapkan-verifikasi-usia-dan-pembatasan-fitur-untuk-anak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 14:07:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TEKNEWS]]></category>
		<category><![CDATA[BNPT]]></category>
		<category><![CDATA[Digital Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Game Online]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kemkomdigi]]></category>
		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meutya Hafid]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[Roblox]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16417</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyampaikan apresiasi terhadap langkah platform gim Roblox yang telah menerapkan sistem verifikasi usia bagi pengguna di Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang dikenal sebagai PP Tunas. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/30/roblox-terapkan-verifikasi-usia-dan-pembatasan-fitur-untuk-anak/">Roblox Terapkan Verifikasi Usia dan Pembatasan Fitur untuk Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyampaikan apresiasi terhadap langkah platform gim Roblox yang telah menerapkan sistem verifikasi usia bagi pengguna di Indonesia.</p>
<p>Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang dikenal sebagai PP Tunas.</p>
<p>Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/4), Meutya menegaskan bahwa penerapan kebijakan ini sangat relevan dengan regulasi, mengingat dominasi pengguna anak di platform tersebut. Dari total 45 juta pengguna Roblox di Indonesia, sekitar 23 juta di antaranya merupakan anak-anak berusia di bawah 16 tahun.</p>
<p>&#8220;Roblox telah menghilangkan fitur komunikasi dengan orang tidak dikenal untuk anak dengan usia kurang dari 16 tahun dan 13 tahun. Langkah ini sejalan dengan aspek utama dalam aturan pemerintah, yakni pembatasan komunikasi dengan orang tak dikenal serta pengendalian konten,&#8221; ujar Meutya.</p>
<p>Tak hanya itu, Roblox juga menghadirkan fitur pengaturan waktu layar (screen time) yang bisa dikontrol orang tua untuk membantu membatasi durasi bermain anak dan menekan potensi kecanduan gim.</p>
<p>Meutya mengungkapkan, hingga saat ini pemerintah telah mengantongi komitmen kepatuhan terhadap PP Tunas dari sejumlah platform digital besar, seperti Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, YouTube, dan TikTok.</p>
<p>Upaya perlindungan anak ini juga diperkuat oleh dukungan pemerintah daerah melalui kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. &#8220;Kami sangat terbantu dengan aturan jika anak-anak sekolah tidak membawa gawai ke sekolah,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Eddy Hartono, turut mengapresiasi langkah tegas Kemkomdigi dalam mengimplementasikan PP Tunas. Menurutnya, regulasi tersebut menjadi benteng penting untuk melindungi generasi muda dari paparan radikalisme dan propaganda terorisme di ruang digital.</p>
<p>&#8220;Kami sudah melakukan pencegahan terhadap 112 anak-anak yang terpapar terorisme melalui media sosial,&#8221; ungkap Komjen Eddy.</p>
<p>Ia menambahkan, BNPT akan terus melakukan langkah mitigasi secara berkelanjutan agar anak-anak tidak menjadi target jaringan teroris yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan paham radikal.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/30/roblox-terapkan-verifikasi-usia-dan-pembatasan-fitur-untuk-anak/">Roblox Terapkan Verifikasi Usia dan Pembatasan Fitur untuk Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/04/30/roblox-terapkan-verifikasi-usia-dan-pembatasan-fitur-untuk-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aturan Berlaku, TikTok Tutup 1,7 Juta Akun Anak di Bawah 16 Tahun</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/04/28/aturan-berlaku-tiktok-tutup-17-juta-akun-anak-di-bawah-16-tahun/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/04/28/aturan-berlaku-tiktok-tutup-17-juta-akun-anak-di-bawah-16-tahun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 13:29:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TEKNEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Akun Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Judi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Kemkomdigi]]></category>
		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meutya Hafid]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[TikTok Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Verifikasi Usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16350</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyatakan platform digital TikTok telah menjalankan kebijakan pembatasan akses bagi pengguna di bawah usia 16 tahun dengan menonaktifkan sekitar 1,7 juta akun anak di Indonesia. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menilai langkah tersebut mencerminkan komitmen nyata TikTok dalam menerapkan kebijakan pemerintah secara transparan. &#8220;TikTok menjadi yang pertama [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/28/aturan-berlaku-tiktok-tutup-17-juta-akun-anak-di-bawah-16-tahun/">Aturan Berlaku, TikTok Tutup 1,7 Juta Akun Anak di Bawah 16 Tahun</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyatakan platform digital TikTok telah menjalankan kebijakan pembatasan akses bagi pengguna di bawah usia 16 tahun dengan menonaktifkan sekitar 1,7 juta akun anak di Indonesia.</p>
<p>Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menilai langkah tersebut mencerminkan komitmen nyata TikTok dalam menerapkan kebijakan pemerintah secara transparan.</p>
<p>&#8220;TikTok menjadi yang pertama melaporkan angka penonaktifan dan yang pertama menunjukkan bahwa komitmen dibarengi juga oleh langkah-langkah nyata yang secara transparan disampaikan kepada publik melalui Kemkomdigi,&#8221; ujar Meutya dalam konferensi pers usai pertemuan dengan perwakilan TikTok di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, Selasa (28/4)</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Meutya didampingi sejumlah pejabat, antara lain Dirjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar serta Dirjen Komunikasi Publik dan Media Komdigi Fifi Aleyda Yahya. Turut hadir pula perwakilan TikTok Indonesia, termasuk Head of Public Policy Hilmi Adrianto dan Public Policy Lead-UGC Richard Anggoro.</p>
<p>Ia menjelaskan, hingga 10 April 2026 jumlah akun anak yang telah dinonaktifkan mencapai 780 ribu. Angka tersebut kemudian meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir.</p>
<p>&#8220;Maka per hari ini yang telah dinonaktifkan akun di bawah 16 tahun adalah 1,7 juta akun anak dari platform TikTok sejak 28 Maret 2026,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Selain penonaktifan akun, TikTok juga menyampaikan rencana aksi kepatuhan yang lebih terukur, termasuk penguatan penanganan kejahatan digital seperti judi online.</p>
<p>&#8220;Tadi kita juga tidak hanya membicarakan mengenai penonaktifan akun-akun anak, tapi dari bagaimana juga kejahatan-kejahatan digital seperti judi online bisa terus ditingkatkan penanganannya, khususnya yang ada di platform TikTok,&#8221; kata Meutya.</p>
<p>Menurutnya, sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 pada 28 Maret 2026, Kemkomdigi melihat adanya upaya peningkatan pengawasan melalui sistem verifikasi usia yang lebih ketat. Meski demikian, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan kendala teknis bagi sebagian pengguna.</p>
<p>&#8220;Sehingga jika ada gangguan-gangguan sedikit, tadi disampaikan oleh pihak TikTok bahwa kalau memang ada akun orang dewasa yang tidak sengaja ikut ternonaktifkan maka segera laporkan untuk normalisasi dan akan segera dilakukan penanganan dengan lebih cepat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Meutya menegaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya berlaku bagi TikTok, tetapi juga untuk seluruh Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang beroperasi di Indonesia, sebagai bagian dari kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).</p>
<p>Ia pun mengimbau seluruh platform digital yang telah menyatakan komitmen kepatuhan untuk segera menyampaikan langkah konkret yang telah dilakukan kepada publik melalui Kemkomdigi.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/28/aturan-berlaku-tiktok-tutup-17-juta-akun-anak-di-bawah-16-tahun/">Aturan Berlaku, TikTok Tutup 1,7 Juta Akun Anak di Bawah 16 Tahun</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/04/28/aturan-berlaku-tiktok-tutup-17-juta-akun-anak-di-bawah-16-tahun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Para Santri Belajar Etika Digital Lewat Wayang Golek</title>
		<link>https://katafoto.id/2025/11/08/ketika-para-santri-belajar-etika-digital-lewat-wayang-golek/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2025/11/08/ketika-para-santri-belajar-etika-digital-lewat-wayang-golek/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2025 01:28:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TEKNEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Ramah Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Kemkomdigi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[PP 17 Tahun 2025]]></category>
		<category><![CDATA[PP Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Tunas]]></category>
		<category><![CDATA[Santri Cakap Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang Golek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=13547</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yogyakarta &#8211; Suasana Pondok Pesantren Assalafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, dipenuhi keceriaan para santri yang bermain congklak, beradu keseimbangan di atas enggrang, hingga menikmati pertunjukan wayang golek. Di tengah suasana penuh tawa itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) hadir dengan misi penting: membentuk generasi santri yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga beretika di dunia maya, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/11/08/ketika-para-santri-belajar-etika-digital-lewat-wayang-golek/">Ketika Para Santri Belajar Etika Digital Lewat Wayang Golek</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Yogyakarta</b> &#8211; Suasana Pondok Pesantren Assalafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, dipenuhi keceriaan para santri yang bermain congklak, beradu keseimbangan di atas enggrang, hingga menikmati pertunjukan wayang golek. Di tengah suasana penuh tawa itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) hadir dengan misi penting: membentuk generasi santri yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga beretika di dunia maya, melalui kegiatan “Sahabat Tunas: Bersama Menjaga Ruang Digital Ramah Anak.”</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Program ini digagas oleh Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kemkomdigi sebagai bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau dikenal dengan PP Tunas. Inisiatif ini bertujuan memperkuat literasi digital anak agar mampu menggunakan teknologi secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Direktur Jenderal KPM Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan bahwa literasi digital tidak sekadar kemampuan teknis menggunakan gawai atau internet.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Melalui Sahabat Tunas, kami mengajak anak-anak memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Peran orang tua juga sangat penting dalam mendampingi serta mengawasi aktivitas daring anak-anaknya,” ujarnya dalam kegiatan di Yogyakarta, Jumat (7/11).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Fifi menambahkan, pendampingan terhadap anak di dunia digital harus dilakukan secara seimbang. Anak perlu memahami batasan konten yang layak diakses, mampu mengatur waktu antara belajar dan bermain, serta tetap aktif berinteraksi di dunia nyata.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Pesan literasi digital tersebut disampaikan dengan pendekatan budaya yang menarik. Dalang cilik Adimas Alby Elsani Widyaputra menampilkan lakon wayang golek interaktif yang mengangkat tema etika di ruang digital. Melalui tokoh-tokoh pewayangan, Adimas menggambarkan bagaimana PP Tunas menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi anak-anak dari paparan konten berisiko dan perilaku negatif di internet.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Selain pertunjukan wayang, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 siswa SD dan MTs yang turut menampilkan seni silat, permainan tradisional, hingga pameran aplikasi dan gim karya santri. Beragam aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Sahabat Tunas tidak hanya berfokus pada dunia digital, tetapi juga mendorong anak untuk tetap kreatif dan produktif di luar layar.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/11/08/ketika-para-santri-belajar-etika-digital-lewat-wayang-golek/">Ketika Para Santri Belajar Etika Digital Lewat Wayang Golek</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2025/11/08/ketika-para-santri-belajar-etika-digital-lewat-wayang-golek/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
