<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Prakiraan Cuaca - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/prakiraan-cuaca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/prakiraan-cuaca/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2026 09:40:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>Prakiraan Cuaca - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/prakiraan-cuaca/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BMKG: El Nino Semakin Kuat Kemarau 2026 Bakal Panjang</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 09:40:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[El Niño]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Info BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Musim Kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=18139</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus di hampir separuh wilayah Indonesia. Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino yang kini telah memasuki kategori kuat. Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diklasifikasikan berdasarkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/">BMKG: El Nino Semakin Kuat Kemarau 2026 Bakal Panjang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus di hampir separuh wilayah Indonesia. Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino yang kini telah memasuki kategori kuat.</p>
<p>Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diklasifikasikan berdasarkan tingkat intensitas, mulai dari lemah, moderat, kuat, hingga sangat kuat.</p>
<p>&#8220;Untuk menggambarkan fenomena El Nino, kekuatannya, kami menggunakan intensitas, dari mulai El Nino lemah, El Nino moderat, dan El Nino kuat hingga sangat kuat. Jadi, tidak ada istilah El Nino lain selain itu,&#8221; jelasnya dalam Webinar Kesiapsiagaan Bidang Kesehatan Menghadapi El Nino di Jakarta, Rabu (1/7).</p>
<p>Menurut Fachri, El Nino merupakan salah satu fenomena iklim global yang berpengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia, selain fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Saat ini, El Nino telah aktif dan dampaknya dirasakan di berbagai kawasan dunia.</p>
<p>&#8220;Memang El Nino sudah aktif. Dampaknya bukan cuma di Indonesia, tetapi terjadi secara global di berbagai belahan bumi,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski demikian, dampak El Nino tidak seragam di setiap wilayah. Fachri menjelaskan, sejumlah kawasan seperti Amerika Selatan, Amerika Tengah, Asia Timur, dan Afrika Barat justru berpotensi mengalami peningkatan curah hujan. Sebaliknya, sebagian besar kawasan Asia-Oseania, termasuk Indonesia, diprediksi mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan normal.</p>
<p>&#8220;Sebagian besar Asia-Oseania, termasuk Indonesia, menjadi lebih kering daripada kondisi normalnya. Jadi dampak El Nino tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan lain di muka bumi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>BMKG memantau perkembangan El Nino melalui perubahan suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 yang berada di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Berdasarkan hasil pemantauan hingga dasarian II Juni 2026, indeks ENSO telah mencapai angka positif 1,6 yang menandakan El Nino berada pada kategori kuat.</p>
<p>&#8220;Pada dasarian II Juni 2026, indeks ENSO sudah mencapai positif 1,6, artinya saat ini El Nino sudah terjadi atau berlangsung dengan kategori kuat. Kalau di atas 1,5 berarti sudah masuk kategori kuat,&#8221; jelas Fachri.</p>
<p>Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia bagian barat Indonesia masih berada pada fase netral, meskipun berpotensi berkembang menjadi fase positif dalam beberapa waktu ke depan.</p>
<p>Analisis BMKG menunjukkan curah hujan mulai mengalami penurunan di sebagian besar wilayah Sumatra dan Jawa sejak Mei 2026. Sebaliknya, wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua masih didominasi curah hujan dengan kategori menengah hingga tinggi.</p>
<p>BMKG juga mencatat peningkatan jumlah hari tanpa hujan di sejumlah daerah. Wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) bahkan telah mengalami lebih dari 30 hari berturut-turut tanpa hujan.</p>
<p>Berdasarkan data BMKG, rekor hari tanpa hujan terpanjang mencapai 52 hari yang tercatat di Pos Hujan Keraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.</p>
<p>Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 263 dari 699 Zona Musim atau sekitar 37,6 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Waktu kedatangan musim kemarau bervariasi di setiap daerah. Sebagian wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT telah mengalaminya sejak Mei, sedangkan sejumlah wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua baru mulai memasuki musim kemarau pada periode Juni hingga Juli.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020, sebanyak 308 Zona Musim atau sekitar 39,77 persen wilayah diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari kondisi normal.</p>
<p>&#8220;Nah, dari sini kita bisa melihat bahwa dominan musim kemarau di Indonesia datangnya lebih dulu, lebih maju. Ini tentu akan mengakibatkan durasi musim kemaraunya berbeda,&#8221; kata Fachri.</p>
<p>BMKG memperkirakan sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia akan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Sementara itu, sekitar 12,26 persen wilayah diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli, sedangkan 25,4 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalaminya pada September.</p>
<p>Selain datang lebih awal, musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih lama. Sebanyak 437 Zona Musim atau sekitar 48,7 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi klimatologis normal.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/">BMKG: El Nino Semakin Kuat Kemarau 2026 Bakal Panjang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/07/03/bmkg-el-nino-semakin-kuat-kemarau-2026-bakal-panjang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BMKG Ungkap Musim Kemarau Datang, Hujan Lebat Masih Mengintai</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2026 02:04:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gelombang Kelvin]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[La Nina]]></category>
		<category><![CDATA[monsun australia]]></category>
		<category><![CDATA[Musim Kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan Dini BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=17580</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan musim kemarau 2026 akan mulai secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga awal Juni 2026, sekitar 28,6 persen zona musim di Tanah Air telah memasuki periode kemarau, meskipun hujan lebat dan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di beberapa daerah. Berdasar prakiraan cuaca mingguan yang dirilis BMKG, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/">BMKG Ungkap Musim Kemarau Datang, Hujan Lebat Masih Mengintai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan musim kemarau 2026 akan mulai secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga awal Juni 2026, sekitar 28,6 persen zona musim di Tanah Air telah memasuki periode kemarau, meskipun hujan lebat dan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di beberapa daerah.</p>
<p>Berdasar prakiraan cuaca mingguan yang dirilis BMKG, wilayah yang lebih dulu memasuki musim kemarau umumnya berada di kawasan Indonesia bagian selatan. Kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia sehingga mengurangi peluang terbentuknya awan hujan.</p>
<p>BMKG mencatat suhu udara maksimum di atas 35 derajat Celsius terjadi pada periode 1 hingga 3 Juni 2026 di sejumlah daerah. Wilayah tersebut meliputi Sumatra Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua Selatan.</p>
<p>Meski musim kemarau mulai berkembang, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih mengguyur berbagai wilayah, terutama di Indonesia bagian utara. Curah hujan harian tertinggi tercatat di Sumatra Utara mencapai 73,3 milimeter per hari, disusul Papua Tengah 72,8 milimeter per hari, Kalimantan Tengah 61,6 milimeter per hari, Kepulauan Bangka Belitung 60 milimeter per hari, Kalimantan Utara 57,4 milimeter per hari, serta Papua Barat 57,1 milimeter per hari.</p>
<p>BMKG menjelaskan kondisi atmosfer global dan regional saat ini masih mendukung terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.</p>
<p>Di Samudra Pasifik, fenomena La Nina Condition terpantau melalui nilai indeks Nino 3.4 sebesar +0,69 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -16. Kondisi tersebut secara umum berpengaruh terhadap berkurangnya potensi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.</p>
<p>Sementara itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diperkirakan berada pada fase 7 hingga 8 dan masih aktif secara spasial di wilayah Papua bagian tengah hingga timur. Selain itu, gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Indonesia dengan pergerakan dari barat ke timur, sedangkan gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di wilayah utara Pulau Sumatra.</p>
<p>BMKG juga mendeteksi potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik bagian utara Papua. Fenomena ini dapat memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di wilayah Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat Daya, serta perairan sekitarnya yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan memicu cuaca ekstrem.</p>
<p><b>Sejumlah Daerah Masih Berpotensi Diguyur Hujan Lebat</b></p>
<p>Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, BMKG memprakirakan cuaca pada periode 5 hingga 7 Juni 2026 masih didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di berbagai wilayah Indonesia.</p>
<p>Potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dengan status peringatan dini kategori Siaga diperkirakan terjadi di Maluku, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.</p>
<p>Sementara itu, pada periode 8 hingga 11 Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpeluang mengalami hujan ringan hingga lebat. BMKG juga mengeluarkan peringatan dini kategori Siaga untuk wilayah Papua Pegunungan yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang.</p>
<p>BMKG mengimbau masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan agar tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Risiko yang perlu diantisipasi antara lain banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gangguan terhadap aktivitas transportasi.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/">BMKG Ungkap Musim Kemarau Datang, Hujan Lebat Masih Mengintai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/06/07/bmkg-ungkap-musim-kemarau-datang-hujan-lebat-masih-mengintai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Diprediksi Terjadi Agustus</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2026 02:00:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[El Niño]]></category>
		<category><![CDATA[Heatwave]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kekeringan]]></category>
		<category><![CDATA[kemarau 2026]]></category>
		<category><![CDATA[klimatologi]]></category>
		<category><![CDATA[musim kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[suhu panas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16601</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Saat ini, sebagian besar wilayah masih berada dalam fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa awal musim kemarau berlangsung secara bertahap dan tidak serentak di seluruh wilayah.  [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/">BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Diprediksi Terjadi Agustus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Saat ini, sebagian besar wilayah masih berada dalam fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa awal musim kemarau berlangsung secara bertahap dan tidak serentak di seluruh wilayah.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Mayoritas wilayah Indonesia puncak kemaraunya terjadi pada Agustus. Ada yang lebih awal di Juli, ada juga yang mundur ke September, tetapi sebagian besar berada di Agustus,” ujarnya dalam Podcast Temu Tamu BMKG di Jakarta, Selasa (5/5).</p>
<p>Ardhasena menambahkan, kondisi cuaca yang terasa lebih gerah belakangan ini merupakan bagian dari fase transisi musim. Meski suhu udara meningkat, karakter utama kemarau tahun ini bukan pada panas ekstrem, melainkan tingkat kekeringan yang cenderung lebih tinggi.</p>
<p>“Yang perlu diperhatikan adalah sifat kemaraunya yang lebih kering. Kenaikan suhu relatif masih dalam batas wajar, tidak ekstrem seperti di Eropa atau Asia Timur yang bisa mencapai di atas 45 derajat Celsius,” jelasnya.</p>
<p>Terkait potensi gelombang panas (heatwave), Ardhasena menilai kemungkinan terjadinya fenomena tersebut di Indonesia relatif kecil. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi perairan.</p>
<p>“Wilayah dengan gelombang panas ekstrem biasanya memiliki daratan luas seperti di Australia, Asia Timur, atau Afrika Utara. Di Indonesia, pergerakan udara cenderung naik sehingga sulit terjadi penumpukan panas ekstrem,” ujarnya.</p>
<p>Ia juga menekankan bahwa sistem sirkulasi atmosfer di Indonesia turut menjaga kondisi tersebut. Dominasi pergerakan udara ke atas membuat potensi terbentuknya gelombang panas menjadi tidak signifikan. El Nino merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang terjadi secara periodik setiap 3 hingga 7 tahun.</p>
<p>“Tren kemunculan El Nino tahun ini cukup signifikan. Fenomena ini terjadi akibat perpindahan pusat panas laut dari Pasifik Barat ke Pasifik Tengah dan Timur,” jelasnya.</p>
<p>Perubahan tersebut menyebabkan pusat pembentukan awan dan hujan bergeser ke wilayah Pasifik Tengah hingga Amerika Latin. Dampaknya, Indonesia berpotensi mengalami penurunan curah hujan akibat dominasi pergerakan udara turun.</p>
<p>“Ketika awan dan hujan bergeser ke Pasifik Tengah, wilayah Indonesia justru mengalami penurunan hujan. Inilah yang memperkuat kondisi kemarau menjadi lebih kering,” ungkapnya.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena yang melibatkan interaksi antara laut dan atmosfer dalam skala global.</p>
<p>“Ini fenomena yang ter-couple antara laut dan atmosfer, dengan skala ribuan kilometer dan berdampak ke banyak wilayah dunia,” tambahnya.</p>
<p>Dampak El Nino pun berbeda di setiap kawasan. Di Indonesia dan Australia, fenomena ini cenderung memicu kondisi lebih kering, sementara di wilayah Amerika Latin justru meningkatkan curah hujan. BMKG juga mengimbau kepada masyarakat serta pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan sektor pertanian.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/">BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Diprediksi Terjadi Agustus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/06/bmkg-ungkap-puncak-kemarau-2026-diprediksi-terjadi-agustus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2026 10:48:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Angin Kencang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[enso]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[iod]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[MJO]]></category>
		<category><![CDATA[monsun australia]]></category>
		<category><![CDATA[musim kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16247</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Monsun Australia yang kian menguat menjadi sinyal awal peralihan musim di Indonesia. Sejumlah wilayah mulai bergerak menuju fase kemarau secara bertahap, meskipun dalam sepekan ke depan peluang hujan masih tetap ada di berbagai daerah. Dalam prakiraan cuaca mingguan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (24/4) menyampaikan bahwa faktor variabilitas iklim global [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/">Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Monsun Australia yang kian menguat menjadi sinyal awal peralihan musim di Indonesia. Sejumlah wilayah mulai bergerak menuju fase kemarau secara bertahap, meskipun dalam sepekan ke depan peluang hujan masih tetap ada di berbagai daerah.</p>
<p>Dalam prakiraan cuaca mingguan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (24/4) menyampaikan bahwa faktor variabilitas iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam kondisi netral. Artinya, kedua fenomena tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola cuaca di Tanah Air.</p>
<p>Di sisi lain, penguatan Monsun Australia diperkirakan mulai membawa massa udara kering ke Indonesia. Dominasi angin timur juga semakin terasa, menjadi penanda bahwa sebagian wilayah mulai mengalami transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.</p>
<p>Meski begitu, BMKG menegaskan bahwa peluang hujan masih tetap ada karena dipicu dinamika atmosfer lainnya. Madden Julian Oscillation (MJO) saat ini berada di fase 1 dan bergerak melintasi wilayah Aceh, Sumatra Utara, hingga Papua Selatan.</p>
<p>Aktivitas gelombang atmosfer turut berperan dalam pembentukan hujan. Gelombang Kelvin diprediksi aktif di berbagai wilayah seperti Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Sementara Gelombang Rossby Ekuatorial juga terpantau aktif di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan, Maluku, serta Papua bagian tengah hingga selatan.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-16249" src="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1.png" alt="Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi" width="1000" height="532" srcset="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1.png 1000w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-300x160.png 300w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-768x409.png 768w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-150x80.png 150w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2026/04/screenshot-1777047721757_1-696x370.png 696w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Selain itu, terdeteksi adanya sirkulasi siklonik di perairan barat Aceh yang membentuk zona konvergensi dari Sumatra Utara hingga Aceh. Kondisi ini diperkuat oleh tingkat labilitas atmosfer yang masih tinggi di sejumlah wilayah, seperti Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua.</p>
<p>Untuk periode 24–26 April 2026, cuaca di Indonesia diprakirakan didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Potensi hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.</p>
<p>BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang, khususnya di Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Maluku, dan Papua Selatan.</p>
<p>Memasuki periode 27–30 April 2026, hujan ringan hingga sedang masih berpeluang mendominasi. Namun, potensi hujan lebat tetap perlu diwaspadai di sejumlah wilayah seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.</p>
<p>BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap siaga terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.</p>
<p>Masyarakat juga diimbau untuk terus memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, baik situs web, aplikasi Info BMKG, maupun media sosial @infobmkg, agar aktivitas sehari-hari tetap aman dan terencana.</p>
<p>“Cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem,” imbau BMKG.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/">Monsun Australia Bawa Udara Kering, Tapi Hujan Lebat Masih Terjadi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/04/25/monsun-australia-bawa-udara-kering-tapi-hujan-lebat-masih-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cuaca Ekstrem Belum Usai, BMKG Prediksi Hujan Lebat Berlanjut hingga Awal April</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 15:46:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Angin Kencang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[Info BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[La Nina]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[MJO]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Siklon Narel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15720</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Curah hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia hingga awal April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mencatat dalam beberapa hari terakhir sejumlah daerah mengalami hujan lebat. Prakirawan BMKG, Abdillah, pada Jumat (27/3) menyampaikan bahwa hujan ringan hingga lebat terjadi di berbagai wilayah, termasuk saat periode arus [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/">Cuaca Ekstrem Belum Usai, BMKG Prediksi Hujan Lebat Berlanjut hingga Awal April</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Curah hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia hingga awal April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mencatat dalam beberapa hari terakhir sejumlah daerah mengalami hujan lebat.</p>
<p>Prakirawan BMKG, Abdillah, pada Jumat (27/3) menyampaikan bahwa hujan ringan hingga lebat terjadi di berbagai wilayah, termasuk saat periode arus balik Lebaran pada 23–25 Maret 2026. Curah hujan tertinggi tercatat di Papua Tengah mencapai 119,2 mm per hari.</p>
<p>Data pengamatan menunjukkan intensitas hujan signifikan juga terjadi di wilayah lain, di antaranya Papua 64,6 mm/hari, Jawa Tengah 63 mm/hari, Jawa Barat 53,8 mm/hari, Nusa Tenggara Timur 44,9 mm/hari, Jawa Timur 42 mm/hari, serta Lampung 36 mm/hari.</p>
<p>Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Rossby ekuatorial dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif, terutama di Indonesia bagian timur. Selain itu, adanya pertemuan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah, serta pemanasan kuat pada siang hari, turut mendorong pertumbuhan awan konvektif pemicu hujan.</p>
<p>Khusus wilayah Jabodetabek, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga terjadi dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan tertinggi tercatat di Jakarta Utara sebesar 60 mm/hari, Jakarta Barat 54 mm/hari, Bogor 53,8 mm/hari, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur masing-masing 40 mm/hari, serta Jakarta Pusat 39 mm/hari.</p>
<p>BMKG menjelaskan, dalam sepekan ke depan kondisi cuaca nasional masih dipengaruhi dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal. Hasil analisis menunjukkan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar +14,2 yang menandakan adanya La Niña lemah, sehingga meningkatkan aktivitas konvektif, khususnya di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.</p>
<p>Aktivitas tersebut diperkirakan semakin menguat dengan aktifnya MJO pada 27–28 Maret 2026, yang berdampak pada wilayah Samudera Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Nias, Laut Arafuru, Pulau Buru, sebagian besar Papua, serta perairan utara Papua.</p>
<p>Di sisi lain, keberadaan siklon tropis Narel di Samudra Hindia barat laut Australia juga memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Fenomena ini berpotensi meningkatkan curah hujan sedang hingga lebat di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.</p>
<p>BMKG juga memprakirakan terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat daya Banten, serta Papua bagian selatan, yang semakin memperbesar peluang terjadinya hujan.</p>
<p>Untuk periode 27–29 Maret 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang berpotensi terjadi dengan status siaga di DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Selatan.</p>
<p>Sementara pada periode 30 Maret hingga 2 April 2026, hujan ringan hingga sedang masih akan mendominasi. Meski demikian, potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang dengan status siaga diperkirakan terjadi di Sumatra Barat dan Papua Pegunungan.</p>
<p>BMKG juga mengimbau masyarakat serta para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Kondisi cuaca yang dinamis juga perlu diperhatikan dalam merencanakan perjalanan darat, laut, maupun udara, serta aktivitas luar ruangan seperti ibadah dan wisata.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/">Cuaca Ekstrem Belum Usai, BMKG Prediksi Hujan Lebat Berlanjut hingga Awal April</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/03/28/cuaca-ekstrem-belum-usai-bmkg-prediksi-hujan-lebat-berlanjut-hingga-awal-april/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Monsun Asia Menguat BMKG Ungkap Cuaca Ekstrem 15–21 Februari</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2026 03:55:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Angin Kencang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan Deras]]></category>
		<category><![CDATA[hujan ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Info Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[Monsun Asia]]></category>
		<category><![CDATA[prakiraan BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15242</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi kenaikan curah hujan yang diperkirakan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada 15–21 Februari 2026. Pergerakan dinamika atmosfer yang aktif mendorong pembentukan awan hujan di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi bagian utara. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/">Monsun Asia Menguat BMKG Ungkap Cuaca Ekstrem 15–21 Februari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi kenaikan curah hujan yang diperkirakan melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada 15–21 Februari 2026.</p>
<p>Pergerakan dinamika atmosfer yang aktif mendorong pembentukan awan hujan di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi bagian utara.</p>
<p>Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa analisis terbaru menunjukkan adanya penguatan Monsun Asia yang memicu dominasi angin baratan. Kondisi ini mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah barat dan selatan Indonesia. Situasi tersebut semakin diperkuat oleh aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) di fase Indian Ocean, serta dukungan gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby yang menyebabkan perlambatan serta belokan angin (konvergensi), khususnya di pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.</p>
<p>“Kombinasi faktor tersebut meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang, lebat, hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah sepanjang periode 15-21 Februari 2026,” kata Andri, Minggu (15/2).</p>
<p>Pada 15–16 Februari 2026, potensi cuaca ekstrem diperkirakan terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.</p>
<p>Memasuki 17–18 Februari 2026, ancaman hujan lebat masih berlanjut di Aceh, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara.</p>
<p>Pada 19 Februari 2026, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Pegunungan. Sementara pada 20–21 Februari, potensi hujan masih dominan di Sumatra Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.</p>
<p>Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menekankan pentingnya kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak hidrometeorologi. “Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan serta langkah mitigasi sesuai dengan tingkat risiko dan karakteristik kerentanan wilayah masing-masing,” ujar Ida.</p>
<p>BMKG juga mengingatkan masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan rawan bencana, agar tetap waspada tanpa panik serta menghindari aktivitas di area berisiko seperti bantaran sungai, lereng rawan longsor, dan daerah yang berpotensi banjir atau tergenang.</p>
<p>Pengguna transportasi darat, laut, dan udara—termasuk nelayan serta operator pelayaran dan penerbangan—diimbau untuk selalu memeriksa pembaruan cuaca sebelum beraktivitas demi menjaga keselamatan.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/">Monsun Asia Menguat BMKG Ungkap Cuaca Ekstrem 15–21 Februari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/02/16/monsun-asia-menguat-bmkg-ungkap-cuaca-ekstrem-15-21-februari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hujan Lebat Kepung Indonesia, BMKG Sebut Monsun Asia Masih Aktif</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/01/31/hujan-lebat-kepung-indonesia-bmkg-sebut-monsun-asia-masih-aktif/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/01/31/hujan-lebat-kepung-indonesia-bmkg-sebut-monsun-asia-masih-aktif/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2026 13:41:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Angin Kencang]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Info Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor]]></category>
		<category><![CDATA[Monsun Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat melanda berbagai wilayah Indonesia selama periode 27–29 Januari 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer global dan regional yang masih aktif, terutama pengaruh Monsun Asia serta angin baratan yang diperkirakan bertahan hingga awal Februari. Prakirawan BMKG, Adelia, menyebutkan curah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/31/hujan-lebat-kepung-indonesia-bmkg-sebut-monsun-asia-masih-aktif/">Hujan Lebat Kepung Indonesia, BMKG Sebut Monsun Asia Masih Aktif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat melanda berbagai wilayah Indonesia selama periode 27–29 Januari 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer global dan regional yang masih aktif, terutama pengaruh Monsun Asia serta angin baratan yang diperkirakan bertahan hingga awal Februari.</p>
<p>Prakirawan BMKG, Adelia, menyebutkan curah hujan tertinggi tercatat di Jawa Barat dengan intensitas mencapai 121,8 mm per hari. Angka ini disusul Sumatra Barat sebesar 108 mm per hari. “Sementara wilayah Aceh, sebagian besar Pulau Jawa, dan Bali mencatat curah hujan berkisar antara 55,6 hingga 88,6 mm per hari,” jelasnya dalam keterangan BMKG yang dikutip InfoPublik, Sabtu (31/1).</p>
<p>BMKG menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem ini berkaitan erat dengan aktivitas Monsun Asia yang membawa aliran udara dingin dari Benua Asia menuju Indonesia. Dampaknya semakin diperkuat oleh fenomena cross equatorial northerly surge (CENS) di Selat Karimata, berupa aliran udara dingin yang melintasi ekuator dan memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan.</p>
<p>Selain itu, keberadaan bibit siklon tropis 98S yang melemah menjadi pusat tekanan rendah turut memengaruhi peningkatan awan konvektif di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan terakhir. Kombinasi berbagai faktor atmosfer tersebut membuat proses pembentukan awan hujan berlangsung lebih intens dan meluas, sehingga memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.</p>
<p>BMKG juga memproyeksikan pengaruh dinamika atmosfer masih akan terasa dalam sepekan ke depan. Secara global, fenomena ENSO terpantau berada pada fase netral. Namun, indikasi La Niña lemah muncul dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar +8,6 dan indeks Nino 3.4 berada di angka -0,79, yang mendukung peningkatan aktivitas konvektif, terutama di wilayah timur Indonesia.</p>
<p>Pada skala regional, Monsun Asia diprediksi tetap aktif hingga dasarian pertama Februari 2026. Fenomena CENS juga masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari mendatang. Di sisi lain, peluang terbentuknya daerah tekanan rendah di Teluk Carpentaria berpotensi memicu konvergensi angin di kawasan selatan Indonesia. “BMKG juga memantau aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin di wilayah Samudra Hindia, Jawa, Nusa Tenggara Timur, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, hingga Papua Selatan, yang turut meningkatkan potensi hujan,” ungkap Adelia.</p>
<p>Pada periode 30 Januari hingga 1 Februari 2026, cuaca di Indonesia secara umum diprakirakan didominasi hujan ringan hingga sedang. Meski demikian, potensi hujan sedang hingga lebat perlu diwaspadai di sejumlah wilayah, meliputi Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, serta Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.</p>
<p>BMKG juga menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Adapun potensi angin kencang diwaspadai di wilayah Nusa Tenggara Timur dan Maluku.</p>
<p><b>Prospek Cuaca 2–5 Februari 2026</b></p>
<p>Memasuki periode 2–5 Februari 2026, hujan ringan hingga sedang masih diperkirakan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, serta Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.</p>
<p>BMKG turut mengeluarkan peringatan siaga hujan lebat hingga sangat lebat untuk Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta mengingatkan potensi angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Timur dan Maluku.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/31/hujan-lebat-kepung-indonesia-bmkg-sebut-monsun-asia-masih-aktif/">Hujan Lebat Kepung Indonesia, BMKG Sebut Monsun Asia Masih Aktif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/01/31/hujan-lebat-kepung-indonesia-bmkg-sebut-monsun-asia-masih-aktif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Jawa hingga Sulawesi Selatan</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2026 01:29:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Hidrometeorologi]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dasarian II]]></category>
		<category><![CDATA[hujan ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[iklim Januari 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan dini]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[status awas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14696</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempublikasikan analisis iklim Dasarian II Januari 2026, yang mencakup periode 11–20 Januari. Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah daerah diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi, sehingga berpotensi memicu banjir serta bencana hidrometeorologi lainnya. Dalam keterangan resmi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/">Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Jawa hingga Sulawesi Selatan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempublikasikan analisis iklim Dasarian II Januari 2026, yang mencakup periode 11–20 Januari. Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah daerah diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi, sehingga berpotensi memicu banjir serta bencana hidrometeorologi lainnya.</p>
<p>Dalam keterangan resmi yang dirilis Rabu (14/1), BMKG menyampaikan bahwa kondisi hujan pada periode ini bervariasi, mulai dari lebih kering hingga lebih basah dibandingkan rata-rata klimatologis, dengan pola sebaran yang tidak seragam antarwilayah.</p>
<p>Wilayah yang diprediksi mengalami sifat hujan di bawah normal mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, kondisi serupa juga terjadi di sebagian kecil wilayah Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Situasi ini menandakan potensi curah hujan yang relatif lebih rendah dibandingkan kondisi normal.</p>
<p>Sebaliknya, sifat hujan di atas normal atau lebih basah dari biasanya diprakirakan melanda sebagian besar wilayah Sumatra, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya banjir dan genangan, terutama di daerah rawan bencana.</p>
<p>BMKG menjelaskan bahwa pola hujan pada dasarian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dinamika atmosfer, di antaranya masih dominannya angin baratan yang membawa massa udara lembap dari Samudra Hindia. Selain itu, keberadaan belokan angin di wilayah Sumatra bagian utara serta pusat tekanan rendah di kawasan barat Sumatra dan utara Maluku turut mendukung pembentukan awan hujan dengan intensitas tinggi.</p>
<p>Berdasarkan prakiraan intensitas, curah hujan kategori menengah, yakni berkisar antara 50 hingga 150 milimeter per dasarian, berpotensi terjadi di sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Sementara itu, hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi, di atas 150 milimeter per dasarian, diprakirakan melanda sebagian besar wilayah Banten, sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi Selatan.</p>
<p>Seiring dengan kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini hujan lebat. Status awas diberlakukan untuk beberapa kabupaten dan kota di wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Adapun wilayah lain di Pulau Jawa, Sumatra, serta sebagian kawasan Indonesia timur berada dalam kategori siaga dan waspada.</p>
<p>BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi. Sektor pertanian juga diharapkan dapat mengantisipasi dampak kelebihan air di daerah basah serta potensi kekurangan hujan di wilayah yang mengalami kondisi lebih kering. Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan terganggunya aktivitas transportasi darat, laut, maupun udara akibat hujan lebat dan angin kencang.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/">Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Jawa hingga Sulawesi Selatan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/01/15/waspada-bmkg-prediksi-hujan-lebat-landa-jawa-hingga-sulawesi-selatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BMKG Prediksi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Siklon Tropis hingga Februari 2025</title>
		<link>https://katafoto.id/2024/11/24/bmkg-prediksi-hujan-lebat-angin-kencang-dan-siklon-tropis-hingga-februari-2025/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2024/11/24/bmkg-prediksi-hujan-lebat-angin-kencang-dan-siklon-tropis-hingga-februari-2025/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Nov 2024 12:13:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[Bibit Siklon Tropis]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG Puncak Musim Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[El Niño]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomena Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Prediksi Cuaca Ekstrem Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Puncak Hujan 2024/2025]]></category>
		<category><![CDATA[Wilayah Puncak Hujan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://katafoto.id/?p=5554</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim hujan untuk periode 2024/2025 akan berlangsung antara November 2024 hingga Februari 2025. Prediksi ini mencakup berbagai wilayah Indonesia dengan pola cuaca yang beragam. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa puncak hujan diperkirakan dimulai pada November hingga Desember 2024 di sejumlah wilayah, seperti sebagian Sumatera, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2024/11/24/bmkg-prediksi-hujan-lebat-angin-kencang-dan-siklon-tropis-hingga-februari-2025/">BMKG Prediksi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Siklon Tropis hingga Februari 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Jakarta</b> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim hujan untuk periode 2024/2025 akan berlangsung antara November 2024 hingga Februari 2025. Prediksi ini mencakup berbagai wilayah Indonesia dengan pola cuaca yang beragam.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa puncak hujan diperkirakan dimulai pada November hingga Desember 2024 di sejumlah wilayah, seperti s</span><span class="s3">ebagian Sumatera, p</span><span class="s3">esisir selatan Pulau Jawa dan </span><span class="s3">Kalimantan.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sedangkan untuk Januari hingga Februari 2025, wilayah yang diprediksi mengalami puncak hujan meliputi:</span></p>
<ul class="ul1">
<li class="li2"><span class="s3">Lampung.</span></li>
<li class="li2"><span class="s3">Jawa bagian utara.</span></li>
<li class="li2"><span class="s3">Sebagian Sulawesi.</span></li>
<li class="li2"><span class="s3">Bali, NTB, dan NTT.</span></li>
<li class="li2"><span class="s3">Sebagian besar Papua,</span></li>
</ul>
<p class="p1"><span class="s1">Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kondisi cuaca dipengaruhi oleh fenomena iklim global seperti ENSO (El Niño-Southern Oscillation) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Hingga pertengahan November 2024, ENSO menunjukkan kecenderungan La Niña lemah, sementara IOD negatif mulai mendekati kondisi netral.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Kondisi ini menyebabkan suhu muka laut di Indonesia lebih hangat dari biasanya, sehingga berpotensi menciptakan gangguan iklim basah yang dapat bertahan hingga awal 2025,” ungkap Ardhasena.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, melaporkan perkembangan dua bibit siklon tropis di Samudra Hindia:</span></p>
<ol class="ol1">
<li class="li2"><b></b><span class="s3">Bibit Siklon Tropis 96S di barat daya Bengkulu.</span></li>
<li class="li2"><b></b><span class="s3">Bibit Siklon Tropis 99B di barat Aceh.</span></li>
</ol>
<p class="p1"><span class="s1">“Kedua bibit siklon ini dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap cuaca dan kondisi perairan di Indonesia bagian barat,” jelasnya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Selain itu, fenomena atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin juga sedang aktif. Fenomena ini meningkatkan risiko cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, kilat, petir, dan angin kencang.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem selama puncak musim hujan. “Tetap pantau informasi terkini dari BMKG untuk mengetahui perkembangan cuaca dan iklim,” tutup Guswanto.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2024/11/24/bmkg-prediksi-hujan-lebat-angin-kencang-dan-siklon-tropis-hingga-februari-2025/">BMKG Prediksi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Siklon Tropis hingga Februari 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2024/11/24/bmkg-prediksi-hujan-lebat-angin-kencang-dan-siklon-tropis-hingga-februari-2025/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antisipasi Cuaca Ekstrem, PHR Gandeng BMKG Perkuat Prakiraan Cuaca</title>
		<link>https://katafoto.id/2024/11/07/antisipasi-cuaca-ekstrem-phr-gandeng-bmkg-perkuat-prakiraan-cuaca/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2024/11/07/antisipasi-cuaca-ekstrem-phr-gandeng-bmkg-perkuat-prakiraan-cuaca/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Nov 2024 11:37:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ENERGI]]></category>
		<category><![CDATA[KATA EKBIS]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja Sama Migas]]></category>
		<category><![CDATA[PHR dan BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Prakiraan Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Wilayah Kerja Rokan]]></category>
		<category><![CDATA[WK Rokan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://katafoto.id/?p=5160</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk pengiriman rutin prakiraan cuaca dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin (4.11) lalu. Kerja sama ini meliputi penyediaan informasi prakiraan cuaca khusus, peringatan dini cuaca, prakiraan hujan dasarian dan bulanan, serta cuaca maritim. Di bidang pengembangan sumber daya manusia, PHR [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2024/11/07/antisipasi-cuaca-ekstrem-phr-gandeng-bmkg-perkuat-prakiraan-cuaca/">Antisipasi Cuaca Ekstrem, PHR Gandeng BMKG Perkuat Prakiraan Cuaca</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Jakarta</b> &#8211; PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk pengiriman rutin prakiraan cuaca dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin (4.11) lalu. Kerja sama ini meliputi penyediaan informasi prakiraan cuaca khusus, peringatan dini cuaca, prakiraan hujan dasarian dan bulanan, serta cuaca maritim. Di bidang pengembangan sumber daya manusia, PHR dan BMKG juga akan mengadakan program peningkatan kompetensi, termasuk bimbingan teknis pemahaman cuaca.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Kolaborasi ini mendukung kelancaran produksi migas PHR di Wilayah Kerja (WK) Rokan, di mana sekitar 30 titik pantau akan diawasi menggunakan radar dan analisis cuaca dari BMKG. Data cuaca akan diperbarui dalam interval 1 jam hingga 3 jam ke depan.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Vice President OE/HES PHR, Tujuan Sanggam Silaen, mengatakan bahwa saat ini PHR menggunakan radar milik BMKG untuk mengumpulkan informasi cuaca. Pada tahun depan, PHR berencana memasang perangkat Automatic Weather Station (AWS) yang terhubung dengan jaringan BMKG untuk mencapai tingkat akurasi prakiraan di atas 95%.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">&#8220;Bagi PHR, kecepatan dan ketepatan prakiraan cuaca sangat penting untuk manajemen operasi di WK Rokan. Misalnya, saat pengeboran sumur, rig bisa fokus di lokasi yang diprediksi tanpa hujan. Jika hujan melanda sebagian besar area, rig akan beroperasi di lokasi dengan intensitas hujan rendah,&#8221; ujar Tujuan Sanggam Silaen dikutip dari keterangan tertulis.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Tujuan Sanggam Silaen menambahkan bahwa, prediksi cuaca membantu PHR dalam mengantisipasi banjir dengan data muka air sungai sehingga pit air yang terproduksi tetap termonitor dan tidak meluap saat hujan lebat.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Pada tahun sebelumnya, rig dan kegiatan produksi sering terhambat oleh cuaca buruk. Dengan informasi cuaca yang akurat dari BMKG, PHR dapat mengatur jadwal Major Capital Project—proyek prioritas PHR—dengan lebih efisien.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menambahkan bahwa dinamika cuaca di area produksi membutuhkan arus informasi cepat dan akurat. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Kolaborasi ini akan memungkinkan prakiraan cuaca dan peringatan dini yang tepat, sehingga mendukung aktivitas produksi di WK Rokan,&#8221; ungkap Dwikorita.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2024/11/07/antisipasi-cuaca-ekstrem-phr-gandeng-bmkg-perkuat-prakiraan-cuaca/">Antisipasi Cuaca Ekstrem, PHR Gandeng BMKG Perkuat Prakiraan Cuaca</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2024/11/07/antisipasi-cuaca-ekstrem-phr-gandeng-bmkg-perkuat-prakiraan-cuaca/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
