27.7 C
Jakarta
Jumat, Februari 13, 2026
BerandaKATA EKBISAGRIBISNISMentan Amran Tegas Tidak Boleh Ada Harga Naik, GPM Serentak di 1.546...

Mentan Amran Tegas Tidak Boleh Ada Harga Naik, GPM Serentak di 1.546 titik

Jakarta – Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan pokok strategis agar tetap terjangkau dan wajar bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak secara nasional bersama berbagai mitra, mulai dari pemerintah daerah, BUMN, BUMD hingga sektor swasta.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stabilitas harga hanya bisa dicapai melalui kolaborasi yang solid. Ia kembali mengingatkan para pelaku usaha agar tidak menjual komoditas pangan melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen.

“Ini adalah bentuk kolaborasi kita, kita bekerja. Tahun lalu kita melihat harga pangan cukup relatif stabil. Kalaupun pun terkadang ada kenaikan, (hanya) satu atau dua pangan komoditas strategis. Kami minta dengan segala kerendahan hati agar diturunkan harganya,” ujar Amran saat membuka GPM Serentak di Jakarta, Jumat (13/2).

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat, antara lain Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pangan Kasan, Sekjen Kemendagri Komjen Pol Tomsi Thohir, Sekjen Kemendag Isy Karim, hingga Kepala Satgas Pangan Polri Brigjen Pol Ade Safri. Kehadiran mereka menandai penguatan pelaksanaan GPM secara masif.

Sepanjang Februari hingga hari ini, GPM yang dikoordinasikan Bapanas telah menjangkau 1.218 titik di 497 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Khusus pelaksanaan serentak hari ini, kegiatan digelar di 447 titik yang tersebar di sedikitnya 119 kabupaten/kota.

Melalui GPM, sebanyak 16,2 ribu kilogram komoditas pangan dilepas ke masyarakat dengan harga di bawah pasar. Komoditas tersebut meliputi beras 9,2 ribu kg, cabai rawit merah 460 kg, cabai merah keriting 510 kg, gula 1,2 ribu kg, bawang merah 480 kg, bawang putih 790 kg, daging sapi 1,15 ribu kg, daging ayam 965 kg, telur ayam ras 706 kg, daging kerbau 440 kg, terigu 380 kg, serta minyak goreng 5,6 ribu liter.

Sebelum pelaksanaan hari ini, sejak awal Februari GPM telah digelar di 490 titik dan diperkirakan bertambah 281 titik hingga akhir bulan. Dengan demikian, total GPM selama Februari 2026 diproyeksikan mencapai 1.218 titik.

Jika digabung dengan realisasi Januari 2026 sebanyak 328 titik, maka total GPM Januari–Februari 2026 mencapai 1.546 titik. Angka ini meningkat 69,15 persen dibanding periode yang sama pada 2025 yang tercatat 914 titik.

Amran menegaskan bahwa penguatan GPM merupakan bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar harga pangan tetap terkendali, terutama menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan lainnya.

“Tahun ini kalau ada yang melanggar, tolong seluruh Dirkrimsus Polri se-Indonesia yang hadir pada hari ini. Aku minta tolong, ini perintah panglima tertinggi, Bapak Presiden. Kemarin kami dipanggil, menghadap dan menanyakan kondisi pangan menghadapi bulan suci Ramadan, Hari Nyepi, Imlek, (itu) tidak boleh ada harga naik,” ungkap Amran.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang bermain-main dengan harga pangan.

“Tidak boleh lagi kita main-main. 286 juta penduduk Indonesia, (akan ada) hari raya. Ada Idulfitri, ada Ramadhan, ada Imlek, ada Nyepi. Tolong hargai saudara-saudara kita, karena larinya ke pemerintah. Ikuti aturan, kalau ada yang menjual di atas HET, cari produsennya. Sekali lagi, tolong seluruh perusahaan Indonesia, patuh pada harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyatakan bahwa GPM bukan satu-satunya instrumen stabilisasi harga. Pemerintah juga menjalankan berbagai program intervensi lain yang dikawal oleh Satgas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan.

“Gerakan Pangan Murah ini adalah salah satu solusi dari berbagai solusi. Solusi yang sering kita lakukan adalah Gerakan Pangan Murah memang. Kemudian SPHP atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Beras medium yang dilakukan oleh temen-temen Bulog. Kemudian kita juga melakukan FDP (Fasilitasi Distribusi Pangan),” jelas Ketut.

Menurutnya, berbagai intervensi tersebut bertujuan menjaga keseimbangan harga agar tetap wajar bagi konsumen, sekaligus memberikan keuntungan yang proporsional bagi pelaku usaha.

“Kemudian ini juga adalah salah satu solusi disambung juga pengawasan. Jadi kolaborasi semua strategi yang kita punya kita lakukan, sehingga harapan kita, sekali lagi stoknya bagus maka harganya kita harus wajar. Bukan tidak boleh untung tapi wajar mencari untungnya, supaya masyarakat nyaman dalam rangka melaksanakan ibadah puasa sampai hari raya,” kata Ketut.

Untuk 2026, Bapanas menargetkan sejumlah program intervensi, antara lain SPHP beras sebesar 828 ribu ton, SPHP jagung pakan 242 ribu ton untuk peternak, serta bantuan pangan beras dan minyak goreng pada Februari–Maret bagi lebih dari 33 juta keluarga.

Sepanjang 2026, GPM ditargetkan dapat digelar sebanyak 13.500 kali. Sebagai perbandingan, realisasi GPM sepanjang 2025 tercatat sebanyak 13.321 kali.

Baca Juga

Keren! Pemkab Buleleng Sulap Sampah Plastik Jadi Papan Nama Jalan

Bali - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng, Bali, menghadirkan terobosan...

Cetak Sejarah, Palembang Icon Jadi Pelopor Mal Ramah Lingkungan di Sumsel

Pusat perbelanjaan Palembang Icon, di bawah pengelolaan PT Lippo...

Perjalanan Jauh Tak Lagi Drama, Destinator Bikin Anak Betah di Kabin

Pada kehidupan keluarga mobil kerap menjadi ruang kedua setelah...

PMI Kota Tangerang Jemput Bola, Donor Darah Kini Bisa Dilayani dari Rumah

Tangerang - PMI Kota Tangerang meluncurkan terobosan layanan kemanusiaan...

Kampus UIN Malang Cetak Rekor MURI, Desain Bangunan Berlafaz Ar-Rahim

Malang - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini