Bali – Pembangunan Masjid Pantai Bali di Kabupaten Jembrana telah selesai dilaksanakan dan bersiap memasuki fase baru sebagai destinasi wisata religi pesisir berbasis masjid.
Peresmian Wisata Religi dan Pusat Manasik Haji Masjid Pantai Bali pada (07/02) dihadiri Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah, Pengurus Dewan Masjid Indonesia Fadian M. Paham, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah RI Provinsi Bali H. Muslimin, Ketua Yayasan DT Peduli Bascharul Asana, serta Pembina Yayasan Masjid Pantai Nusantara I Nyoman Pugeg Aryantha.
Momen ini menjadi penanda penting bagi Masjid Pantai Bali sekaligus komunitas Muslim di Bali dalam upaya menjadikannya sebagai ikon wisata religi pesisir berskala nasional.
Pengembangan Masjid Pantai Bali merupakan kelanjutan dari penyelesaian pembangunan Masjid Raudlatul Jannah yang mendapat dukungan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melalui Program Kemaslahatan. Dalam program tersebut, BPKH berkontribusi pada sekitar 35 persen penyelesaian pembangunan, meliputi pengerjaan fasad, plafon, mihrab, mimbar, railing, sistem tata suara, kusen pintu dan jendela, hingga penyempurnaan fasilitas toilet serta tempat wudu.
Selain itu, BPKH turut mendukung pembangunan sarana manasik haji berupa miniatur Ka’bah, Shafa–Marwa, Maqam Ibrahim, serta miniatur Masjidil Haram. Dukungan ini masuk dalam kategori asnaf pembangunan sarana ibadah.

Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah menegaskan bahwa pembiayaan Program Kemaslahatan tidak bersumber dari pokok dana haji milik jemaah.
“Seluruh pendanaan Program Kemaslahatan ini tidak menggunakan pokok dana haji milik jemaah, melainkan murni dari hasil pengembangan Dana Abadi Umat. Nilai manfaat dari Dana Abadi Umat inilah yang digunakan untuk kemaslahatan umat. Program Kemaslahatan merupakan amanat undang-undang. Kami mengelola Dana Abadi Umat secara transparan dan akuntabel serta memastikan manfaat dana ini kembali kepada umat dalam bentuk nyata, juga untuk mendukung pemulihan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan,” ujar Fadlul.
Pembina Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN) I Nyoman Pugeg Aryantha menjelaskan bahwa pengembangan masjid ini mengusung konsep Smart Masjid berbasis 5E, yakni Edukasi, Ekonomi, Ekologi, Empati, dan Entertain.
Konsep tersebut menempatkan masjid bukan sekadar sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran, pemberdayaan ekonomi umat, pelestarian lingkungan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan budaya lokal. Pendekatan ini selaras dengan pengembangan wisata ramah Muslim di Bali.
Masjid Pantai Bali dirancang dengan pendekatan ekosistem yang menyatu dengan karakter wilayah pesisir. Kawasan ini dilengkapi fasilitas manasik haji dan umrah berupa miniatur Ka’bah, Hajar Aswad, Masjidil Haram, Hijr Ismail, Maqam Ibrahim, Jamarat, serta Shafa–Marwa yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, institusi pendidikan, maupun wisatawan Muslim.
Di area tersebut juga terdapat dua bangunan masjid—masjid lama dan masjid baru—yang menyimpan jejak sejarah dakwah Islam di pesisir Bali. Terletak di tepi laut dengan panorama alam dan pemandangan matahari terbenam, masjid ini menghadirkan suasana ibadah yang khusyuk dan harmonis dengan alam sekitar.
Ke depan, Masjid Pantai Bali diharapkan menjadi contoh pengembangan masjid modern berbasis wisata religi yang tidak hanya memperkuat fungsi ibadah, tetapi juga aspek edukasi, teknologi, budaya, dan harmoni sosial. Kehadiran fasilitas ini diharapkan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

