katafoto, Aceh – Seekor orangutan bernama Marconi kembali terpantau hidup di habitat Cagar Alam Jantho, Aceh. Pada Jumat pagi, (2/10) tim Post Release Monitoring (PRM) Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho menemukan Marconi bersama anaknya saat melakukan pemantauan di sekitar area Kandang Adaptasi.
Anak Marconi diperkirakan berusia 2–3 tahun dan berjenis kelamin jantan. Kondisi fisiknya terlihat sehat berdasarkan pengamatan tim di lapangan.
Anak orangutan tersebut juga mulai menunjukkan perilaku mandiri. Ia terlihat aktif bergerak dan melatih keterampilannya di atas pohon, meski tetap berada di dekat induknya dan tidak selalu berada dalam pelukan Marconi.
Marconi memiliki perjalanan panjang sebelum kembali hidup di alam liar. Ia menjalani rehabilitasi selama tiga tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP Sibolangit, Sumatera Utara, sejak 2009. Setelah menjalani proses tersebut, Marconi dilepasliarkan di Jantho pada 2011.
Marconi termasuk salah satu orangutan generasi awal yang dilepasliarkan di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho sejak program reintroduksi di kawasan itu dimulai.
Keberadaan Marconi bersama anaknya menjadi catatan penting dalam perjalanan konservasi satwa tersebut. Pada 2017, Marconi sebelumnya telah terpantau melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Masen. Kini, lebih dari satu dekade setelah dilepasliarkan, Marconi kembali terlihat bersama anak keduanya.
Kisah Marconi menjadi pengingat bahwa pelepasliaran bukanlah tahap akhir dalam proses konservasi. Pemantauan setelah pelepasliaran diperlukan untuk mengetahui kemampuan satwa beradaptasi, mencari sumber makanan, bertahan hidup, hingga berkembang biak di habitat aslinya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Setyawan Pudyatmoko, menekankan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi secara konsisten.
“Upaya tersebut mencakup perlindungan habitat, pemantauan satwa liar, serta pengendalian berbagai ancaman yang dapat mengganggu kelestarian ekosistem,” ujarnya dikutip dalam keterangan tertulis, Senin (12/10)
Perjalanan Marconi menunjukkan pentingnya menjaga habitat agar orangutan dapat hidup dan berkembang biak secara alami. Pelestarian satwa tidak dapat dipisahkan dari perlindungan hutan sebagai tempat mereka mencari makan, berlindung, dan membesarkan keturunannya.

