<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>diabetes - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/diabetes/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/diabetes/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Aug 2026 02:29:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>diabetes - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/diabetes/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sering Lelah dan Stamina Menurun? Waspadai Sinyal Gangguan Hormon dan Metabolisme</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/08/15/sering-lelah-dan-stamina-menurun-waspadai-sinyal-gangguan-hormon-dan-metabolisme/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/08/15/sering-lelah-dan-stamina-menurun-waspadai-sinyal-gangguan-hormon-dan-metabolisme/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2026 02:29:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[gula darah]]></category>
		<category><![CDATA[hormon]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan testosteron]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Pria]]></category>
		<category><![CDATA[metabolisme]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas]]></category>
		<category><![CDATA[primaya hospital]]></category>
		<category><![CDATA[testosteron]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=19104</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Tubuh terus memberikan berbagai sinyal ketika terjadi perubahan pada kondisi kesehatan. Stamina yang menurun, tubuh lebih cepat lelah, perubahan fungsi seksual, kenaikan berat badan, hingga kadar gula darah yang mulai berubah kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan atau dampak gaya hidup. Namun, perubahan tersebut tidak selalu dapat dianggap wajar. Kondisi itu bisa [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/08/15/sering-lelah-dan-stamina-menurun-waspadai-sinyal-gangguan-hormon-dan-metabolisme/">Sering Lelah dan Stamina Menurun? Waspadai Sinyal Gangguan Hormon dan Metabolisme</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Tubuh terus memberikan berbagai sinyal ketika terjadi perubahan pada kondisi kesehatan. Stamina yang menurun, tubuh lebih cepat lelah, perubahan fungsi seksual, kenaikan berat badan, hingga kadar gula darah yang mulai berubah kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan atau dampak gaya hidup.</p>
<p>Namun, perubahan tersebut tidak selalu dapat dianggap wajar. Kondisi itu bisa menjadi tanda adanya gangguan pada sistem hormon atau metabolisme yang perlu mendapatkan perhatian dan evaluasi medis.</p>
<p>Hal tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 bertema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care”</p>
<p><b>Penurunan Testosteron pada Pria</b></p>
<p>Pada pria, kadar testosteron memang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan penurunan testosteron dan <i>free testosterone</i> semakin terlihat setelah seseorang memasuki usia 50 tahun.</p>
<p>Meski demikian, perubahan hormon yang berlangsung terus-menerus dan disertai keluhan tidak selalu harus dianggap sebagai konsekuensi normal dari penuaan.</p>
<p>Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah <i>late-onset hypogonadism</i> (LOH), yakni kondisi kekurangan testosteron pada pria. Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2,1 persen populasi pria secara umum.</p>
<p>Prevalensi LOH meningkat seiring usia, dari 0,1 persen pada pria berusia 40–49 tahun menjadi 5,1 persen pada kelompok usia 70–79 tahun. Risikonya juga dapat lebih tinggi pada pria yang mengalami obesitas atau <i>metabolic syndrome</i>.</p>
<p>Dokter dari UKRIDA Primaya Hospital, Marshell Tendean, mengatakan pria perlu lebih memperhatikan perubahan kondisi tubuh, terutama jika mulai mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.</p>
<p>“Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh. Kekurangan testosteron bukan sekadar persoalan usia atau fungsi seksual, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan. Karena itu, penting untuk melakukan evaluasi medis secara tepat dan tidak sekadar menganggapnya sebagai proses penuaan,” ujarnya dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (14/08)</p>
<p><b>Diabetes Bisa Berkembang Tanpa Gejala</b></p>
<p>Perubahan pada sistem metabolisme juga perlu mendapat perhatian, salah satunya diabetes. Gangguan metabolisme dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas sehingga seseorang terkadang baru mengetahui kondisinya setelah komplikasi muncul.</p>
<p>Materi Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berkembangnya komplikasi sebelum seseorang mendapatkan penanganan.</p>
<p>Sementara di Indonesia, berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia menempati peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes pada kelompok usia 20–79 tahun. Indonesia juga berada di posisi ketiga untuk jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.</p>
<p>Dokter dari Primaya Hospital Bekasi Barat, Khomimah, menekankan bahwa diabetes tidak seharusnya hanya dilihat dari kadar gula darah.</p>
<p>“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh. Kita perlu bergeser dari pendekatan yang reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak lebih awal,” jelasnya.</p>
<p><b>Pengelolaan Diabetes Harus Menyeluruh</b></p>
<p>Diabetes tipe 2 melibatkan berbagai mekanisme yang berkaitan dengan sejumlah organ dan sistem tubuh. Pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan hingga sistem imun dapat berperan dalam proses terjadinya penyakit tersebut.</p>
<p>Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak cukup diukur hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan laboratorium. Pencegahan komplikasi dan upaya mempertahankan fungsi organ juga menjadi bagian penting dalam penanganannya.</p>
<p>Pendekatan pengelolaan diabetes kini semakin diarahkan dari pola reaktif menuju strategi yang lebih proaktif. Penanganan dilakukan secara komprehensif, dengan mempertimbangkan perlindungan organ, pemanfaatan teknologi, serta kondisi setiap pasien.</p>
<p>Sejumlah faktor dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi penanganan, antara lain kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, serta kebutuhan dan preferensi pasien.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/08/15/sering-lelah-dan-stamina-menurun-waspadai-sinyal-gangguan-hormon-dan-metabolisme/">Sering Lelah dan Stamina Menurun? Waspadai Sinyal Gangguan Hormon dan Metabolisme</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/08/15/sering-lelah-dan-stamina-menurun-waspadai-sinyal-gangguan-hormon-dan-metabolisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sering Bolak-balik ke Toilet? Bisa Jadi Tanda Penyakit Ini</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/18/sering-bolak-balik-ke-toilet-bisa-jadi-tanda-penyakit-ini/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/18/sering-bolak-balik-ke-toilet-bisa-jadi-tanda-penyakit-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 00:39:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Batu Ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[Buang Air Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[ISK]]></category>
		<category><![CDATA[Kandung Kemih]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Pria]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Tips kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16995</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sering buang air kecil merupakan kondisi ketika seseorang merasa ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya. Penyebabnya pun beragam, mulai dari kebiasaan konsumsi cairan hingga gangguan kesehatan tertentu, seperti infeksi saluran kemih (ISK), diabetes, kandung kemih overaktif, hingga kehamilan. Selain itu, penggunaan obat diuretik juga dapat memicu peningkatan frekuensi buang air kecil sebagai efek [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/18/sering-bolak-balik-ke-toilet-bisa-jadi-tanda-penyakit-ini/">Sering Bolak-balik ke Toilet? Bisa Jadi Tanda Penyakit Ini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sering buang air kecil merupakan kondisi ketika seseorang merasa ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya. Penyebabnya pun beragam, mulai dari kebiasaan konsumsi cairan hingga gangguan kesehatan tertentu, seperti infeksi saluran kemih (ISK), diabetes, kandung kemih overaktif, hingga kehamilan. Selain itu, penggunaan obat diuretik juga dapat memicu peningkatan frekuensi buang air kecil sebagai efek samping.</p>
<p>Lalu, apa saja faktor yang memicu kondisi ini dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya. Frekuensi buang air kecil yang meningkat bisa dipicu oleh berbagai kondisi medis. Berikut beberapa penyebab yang paling umum.</p>
<p><b>1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)</b></p>
<p>Infeksi saluran kemih menjadi salah satu penyebab paling sering dari kondisi ini. Gangguan yang dipicu oleh infeksi bakteri tersebut dapat memengaruhi fungsi kandung kemih sehingga sulit menahan urine.</p>
<p>Selain lebih sering buang air kecil, penderita ISK biasanya juga mengalami gejala lain seperti nyeri perut bagian bawah, sensasi panas saat buang air kecil, demam, hingga urine berbau menyengat.</p>
<p><b>2. Batu Ginjal</b></p>
<p>Batu ginjal juga dapat menyebabkan seseorang lebih sering buang air kecil. Kondisi ini terjadi akibat penumpukan zat pembentuk kristal dalam urine yang lama-kelamaan membentuk batu.</p>
<p>Batu tersebut dapat menekan saluran kemih sehingga memicu rasa ingin buang air kecil terus-menerus, meski volume urine yang keluar biasanya hanya sedikit.</p>
<p><b>3. Diabetes</b></p>
<p>Sering buang air kecil termasuk salah satu gejala awal diabetes. Kondisi ini terjadi karena tubuh berusaha mengeluarkan kelebihan gula atau glukosa melalui urine.</p>
<p>Glukosa yang tinggi di dalam tubuh akan menarik lebih banyak cairan, sehingga produksi urine meningkat dan frekuensi buang air kecil menjadi lebih sering.</p>
<p><b>4. Pembengkakan Prostat</b></p>
<p>Pada pria, pembengkakan prostat dapat menjadi penyebab meningkatnya frekuensi buang air kecil. Pembesaran prostat dapat menekan uretra atau saluran kemih sehingga kandung kemih menjadi lebih sensitif.</p>
<p>Akibatnya, kandung kemih mudah berkontraksi meski urine yang tersimpan masih sedikit.</p>
<p><b>5. Konsumsi Obat Diuretik</b></p>
<p>Penggunaan obat diuretik juga dapat memicu sering buang air kecil. Obat ini bekerja membantu tubuh membuang kelebihan garam dan cairan, sehingga produksi urine meningkat.</p>
<p>Diuretik umumnya digunakan untuk membantu mengontrol tekanan darah tinggi atau hipertensi.</p>
<p><b>6. Kehamilan</b></p>
<p>Pada ibu hamil, sering buang air kecil merupakan kondisi yang normal. Selama masa kehamilan, tubuh memproduksi lebih banyak darah untuk mendukung perkembangan janin.</p>
<p>Peningkatan volume darah membuat ginjal bekerja lebih keras sehingga produksi urine bertambah dan ibu hamil menjadi lebih sering buang air kecil.</p>
<p><b>7. Kandung Kemih Overaktif</b></p>
<p>Kandung kemih overaktif atau <i>overactive bladder</i> merupakan kondisi ketika kandung kemih tidak mampu menyimpan urine dalam waktu lama.</p>
<p>Gangguan ini terjadi akibat kesalahan sinyal dari otak yang membuat otot kandung kemih berkontraksi meski kandung kemih belum penuh. Pada beberapa kasus, penderita bahkan dapat mengalami kebocoran urine tanpa disadari.</p>
<p><b>Cara Mengatasi Sering Buang Air Kecil</b></p>
<p>Jika frekuensi buang air kecil meningkat tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi keluhan:</p>
<ul>
<li>Melakukan senam kegel untuk memperkuat otot kandung kemih dan uretra.</li>
<li>Menjaga pola makan dan asupan harian.</li>
<li>Mengonsumsi air putih secukupnya, sekitar dua liter per hari.</li>
<li>Membatasi makanan atau minuman yang mengandung kafein dan pemanis buatan karena dapat memicu keinginan buang air kecil lebih sering.</li>
</ul>
<p><b>Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?</b></p>
<p>Pemeriksaan medis perlu segera dilakukan apabila sering buang air kecil disertai gejala berikut: Terdapat darah dalam urine, nyeri pada punggung bagian bawah, nyeri pinggang, mual dan muntah, keluar cairan abnormal dari penis, demam dan keputihan pada wanita.</p>
<p>Perlu dipahami, informasi ini hanya bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun penanganan langsung dari tenaga medis profesional. Peningkatan frekuensi buang air kecil juga bisa dipengaruhi faktor lain yang tidak disebutkan dalam artikel ini.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/18/sering-bolak-balik-ke-toilet-bisa-jadi-tanda-penyakit-ini/">Sering Bolak-balik ke Toilet? Bisa Jadi Tanda Penyakit Ini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/18/sering-bolak-balik-ke-toilet-bisa-jadi-tanda-penyakit-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Label Nutri-Level Resmi Diluncurkan, Langkah Baru Cegah Obesitas dan Diabetes</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/05/12/label-nutri-level-resmi-diluncurkan-langkah-baru-cegah-obesitas-dan-diabetes/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/05/12/label-nutri-level-resmi-diluncurkan-langkah-baru-cegah-obesitas-dan-diabetes/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2026 16:09:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Gunadi Sadikin]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi Nutrisi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenkes]]></category>
		<category><![CDATA[Label Nutrisi]]></category>
		<category><![CDATA[Lippo Malls Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Minuman Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Nutri-Level]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas]]></category>
		<category><![CDATA[Siloam Hospitals]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pelita Harapan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16807</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat edukasi pelabelan nutrisi Nutri-Level melalui kolaborasi lintas sektor bersama PT Lippo Malls Indonesia (LMI), Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Siloam International Hospitals. Kerja sama ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat agar lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman melalui pemahaman informasi nutrisi. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/12/label-nutri-level-resmi-diluncurkan-langkah-baru-cegah-obesitas-dan-diabetes/">Label Nutri-Level Resmi Diluncurkan, Langkah Baru Cegah Obesitas dan Diabetes</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta</strong> &#8211; Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat edukasi pelabelan nutrisi Nutri-Level melalui kolaborasi lintas sektor bersama PT Lippo Malls Indonesia (LMI), Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Siloam International Hospitals. Kerja sama ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat agar lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman melalui pemahaman informasi nutrisi.</p>
<p>Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Lippo Mall Nusantara, Jakarta, Selasa (12/5). Dalam kesempatan yang sama, LMI dan UPH juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Direktorat Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI terkait implementasi Nutri-Level pada pangan olahan siap saji.</p>
<p>Program edukasi ini memperkenalkan sistem pelabelan nutrisi sederhana menggunakan kategori A hingga D untuk menunjukkan kadar gula, garam, dan lemak pada produk makanan maupun minuman. Melalui label tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah memahami kualitas nutrisi suatu produk sebelum dikonsumsi.</p>
<p>Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan Nutri-Level menjadi salah satu instrumen edukasi publik guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan.</p>
<p>“Pastikan nanti kalau makan dan minum, pilih produk yang sehat, pilih yang A sama B. Kalau D boleh, tapi seminggu sekali saja,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa (12/5/2026), usai peresmian pencantuman label nutrisi Nutri-Level pada produk makanan dan minuman di Indonesia.</p>
<p>“Hari ini kita launching untuk label Nutri-Level,” lanjutnya.</p>
<p>Menurut Menkes, edukasi mengenai informasi nutrisi menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga diabetes tipe 2.</p>
<p>Nutri-Level merupakan sistem label gizi berbasis warna dan huruf A, B, C, hingga D yang dicantumkan pada kemasan maupun menu makanan dan minuman siap saji. Label A berwarna hijau tua menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah. Label B berwarna hijau muda menandakan kadar rendah, label C berwarna kuning mengindikasikan produk perlu dikonsumsi secara bijak, sedangkan label D berwarna merah menunjukkan kandungan tinggi yang perlu dibatasi.</p>
<p>Sebagai bagian dari sosialisasi publik, Lippo Malls Indonesia memanfaatkan jaringan pusat perbelanjaannya yang tersebar di 70 mal di 37 kota dan 18 provinsi untuk memperluas edukasi Nutri-Level kepada masyarakat serta tenant Food and Beverage (F&amp;B).</p>
<p>Dengan lebih dari 16 ribu tenant dan sekitar 200 juta pengunjung setiap tahun, pusat perbelanjaan dinilai menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan literasi nutrisi kepada masyarakat luas.</p>
<p>Di sektor akademik, UPH mendukung implementasi kebijakan melalui pengujian kadar gula pada sampel minuman siap saji dari tenant di Lippo Mall Nusantara. Hasil pengujian tersebut kemudian dikonversi ke dalam kategori Nutri-Level sesuai Kepmenkes Nomor 301 Tahun 2026 sebagai dasar pencantuman informasi nutrisi pada menu maupun kemasan produk.</p>
<p>Sementara itu, Siloam International Hospitals memperkuat edukasi kesehatan melalui jaringan layanan kesehatannya di berbagai wilayah Indonesia dengan pendekatan preventif, khususnya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi dan asupan nutrisi yang seimbang.</p>
<p>President Universitas Pelita Harapan, Stephanie Riady, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bentuk dukungan sektor swasta dalam memperkuat literasi kesehatan masyarakat.</p>
<p>“Kerja sama ini merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya informasi nutrisi. Sebagai ruang publik yang dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat, LMI memiliki peran strategis dalam menghadirkan edukasi kesehatan yang mudah diakses dan relevan bagi masyarakat luas. Sedangkan kolaborasi bersama UPH dan Siloam diharapkan dapat memperkuat implementasi program ini secara menyeluruh, mulai dari edukasi, pengujian, hingga penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat,” ujar Stephanie.</p>
<p>Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat mengenai pola konsumsi sehat sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih sehat dan produktif.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/05/12/label-nutri-level-resmi-diluncurkan-langkah-baru-cegah-obesitas-dan-diabetes/">Label Nutri-Level Resmi Diluncurkan, Langkah Baru Cegah Obesitas dan Diabetes</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/05/12/label-nutri-level-resmi-diluncurkan-langkah-baru-cegah-obesitas-dan-diabetes/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Disangka 22 Ribu Warga Blitar Alami Obesitas, Perempuan Mendominasi</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/04/24/tak-disangka-22-ribu-warga-blitar-alami-obesitas-perempuan-mendominasi/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/04/24/tak-disangka-22-ribu-warga-blitar-alami-obesitas-perempuan-mendominasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 01:15:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Aktivitas Fisik]]></category>
		<category><![CDATA[Blitar]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hipertensi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Kronis]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Makan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16199</guid>

					<description><![CDATA[<p>Blitar &#8211; Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mencatat sekitar 22.000 warga di Kabupaten Blitar mengalami obesitas hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, mayoritas penderita adalah perempuan. Kondisi ini dipicu oleh rendahnya aktivitas fisik serta tingginya asupan kalori harian. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Blitar, Ditya Putranto, menyampaikan bahwa angka obesitas di wilayahnya menjadi perhatian [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/24/tak-disangka-22-ribu-warga-blitar-alami-obesitas-perempuan-mendominasi/">Tak Disangka 22 Ribu Warga Blitar Alami Obesitas, Perempuan Mendominasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Blitar</b> &#8211; Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mencatat sekitar 22.000 warga di Kabupaten Blitar mengalami obesitas hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, mayoritas penderita adalah perempuan. Kondisi ini dipicu oleh rendahnya aktivitas fisik serta tingginya asupan kalori harian.</p>
<p>Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Blitar, Ditya Putranto, menyampaikan bahwa angka obesitas di wilayahnya menjadi perhatian serius, terutama karena dominasi kasus pada perempuan.</p>
<p>“Ada 22.000 warga Blitar mengalami obesitas. Kebanyakan wanita. Hingga kini dari data tercatat wanita yang mendominasi gemuk di Blitar,” kata Ditya Putranto kepada wartawan, Kamis (23/4).</p>
<p>Data tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan di berbagai pos layanan kesehatan. Dari total 72.468 warga yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 22.459 orang teridentifikasi mengalami obesitas sentral.</p>
<p>“Temuan ini tercatat dari total 72.468 orang yang diperiksa setiap melakukan pengecekan kesehatan di seluruh pos di Kabupaten Blitar,” tambahnya.</p>
<p>Ditya menjelaskan, obesitas sentral ditentukan berdasarkan ukuran lingkar perut, yakni lebih dari 90 sentimeter untuk pria dan 80 sentimeter untuk perempuan.</p>
<p>“Peningkatan obesitas ini faktor kurang aktivitas fisik dan terlalu banyak asupan kalori,” ujarnya.</p>
<p>Ia juga mengingatkan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti hipertensi, diabetes melitus, hingga stroke. Pola konsumsi makanan tinggi lemak dan berminyak turut memperburuk kondisi tersebut.</p>
<p>“Olahraga sangat penting untuk membakar kalori dan lemak. Jika tidak diimbangi, maka tahun depan kemungkinan jumlah obesitas bisa meningkat,” katanya.</p>
<p>Untuk menekan angka obesitas, masyarakat diimbau agar rutin beraktivitas fisik, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta mengurangi makanan cepat saji.</p>
<p>Upaya ini diharapkan dapat menekan laju peningkatan obesitas sekaligus mencegah munculnya penyakit kronis di masyarakat.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/24/tak-disangka-22-ribu-warga-blitar-alami-obesitas-perempuan-mendominasi/">Tak Disangka 22 Ribu Warga Blitar Alami Obesitas, Perempuan Mendominasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/04/24/tak-disangka-22-ribu-warga-blitar-alami-obesitas-perempuan-mendominasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lingkar Perut Jadi Penentu Risiko Penyakit, Ini Penjelasan Pakar Gizi UGM</title>
		<link>https://katafoto.id/2025/12/18/lingkar-perut-jadi-penentu-risiko-penyakit-ini-penjelasan-pakar-gizi-ugm/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2025/12/18/lingkar-perut-jadi-penentu-risiko-penyakit-ini-penjelasan-pakar-gizi-ugm/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2025 00:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[gizi]]></category>
		<category><![CDATA[IMT]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[obesitas sentral]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Jantung]]></category>
		<category><![CDATA[perut buncit]]></category>
		<category><![CDATA[sindrom metabolik]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=14325</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yogyakarta &#8211; Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia, status gizi menjadi indikator penting untuk menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh. Dari berbagai kategori status gizi, obesitas termasuk kondisi yang paling berisiko karena tidak sekadar mencerminkan kelebihan berat badan, tetapi juga berkaitan erat dengan munculnya beragam penyakit serius. Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/12/18/lingkar-perut-jadi-penentu-risiko-penyakit-ini-penjelasan-pakar-gizi-ugm/">Lingkar Perut Jadi Penentu Risiko Penyakit, Ini Penjelasan Pakar Gizi UGM</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Yogyakarta</b> &#8211; Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia, status gizi menjadi indikator penting untuk menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh. Dari berbagai kategori status gizi, obesitas termasuk kondisi yang paling berisiko karena tidak sekadar mencerminkan kelebihan berat badan, tetapi juga berkaitan erat dengan munculnya beragam penyakit serius.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, menjelaskan bahwa obesitas tidak selalu memiliki karakter yang sama pada setiap individu. Risiko kesehatan justru sangat dipengaruhi oleh pola penumpukan lemak dalam tubuh, salah satunya ketika lemak menumpuk di area perut atau yang dikenal sebagai obesitas sentral.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Menurut Mirza, pemahaman mengenai obesitas sentral perlu diawali dengan mengenal konsep status gizi. Penilaian status gizi umumnya menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), yakni perbandingan antara berat badan dan tinggi badan. Berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), status gizi dibagi menjadi kurus, normal, kelebihan berat badan (overweight), hingga obesitas. Namun, IMT hanya menggambarkan jumlah lemak tubuh secara keseluruhan, bukan lokasi penumpukannya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Jika mengacu standar WHO, IMT normal berada pada kisaran 18 sampai 23, overweight 23 sampai 25, dan di atas 25 sudah masuk obesitas. Risiko paling tinggi terjadi ketika IMT mencapai angka di atas 30,” ujar Mirza dikutip dari laman ugm,<span class="Apple-converted-space">  </span>Rabu (17/12).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Perbedaan lokasi penumpukan lemak inilah yang membedakan obesitas sentral dengan jenis obesitas lainnya. Oleh karena itu, pengukuran obesitas sentral tidak cukup hanya mengandalkan IMT. Lingkar perut menjadi indikator penting, terutama jika melebihi 90 sentimeter. Pada perempuan, pengaruh hormon estrogen membuat lemak cenderung tersebar ke berbagai area tubuh seperti lengan, paha, pinggul, dada, dan perut. Sebaliknya, pada laki-laki, ketiadaan estrogen membuat lemak lebih mudah menumpuk di bagian perut sehingga obesitas sentral lebih sering terjadi.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berkaitan erat dengan sindrom metabolik, yakni kumpulan gangguan metabolisme akibat penumpukan lemak di perut. Sindrom ini ditandai dengan peningkatan kadar gula darah, tekanan darah tinggi, serta gangguan profil kolesterol. Jika berlangsung dalam jangka panjang, risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan hipertensi akan meningkat.<br />
“Ketika kondisi biokimia dalam darah sudah terganggu, berbagai penyakit tidak menular bisa muncul dan pada akhirnya meningkatkan risiko kematian,” jelasnya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Secara alami, obesitas sentral lebih sering muncul pada usia di atas 40 tahun akibat perubahan hormonal. Faktor hormon berperan besar dalam penumpukan lemak, terutama pada perempuan. Meski demikian, obesitas sentral juga dapat muncul lebih dini akibat pola hidup yang tidak sehat sejak usia muda. Kurangnya aktivitas fisik serta pola makan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi pemicu utama. Asupan berlebih ini akan disimpan tubuh sebagai lemak dan berdampak pada perubahan metabolisme.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dalam upaya mengatasi obesitas, Mirza menekankan bahwa perubahan pola pikir menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum menjalani diet. Penurunan berat badan harus dipahami sebagai proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Setelah itu, pola makan perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan tubuh, dengan membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak serta meningkatkan asupan buah dan sayur.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Mindset yang harus dibangun adalah menjadikan ini sebagai titik balik untuk berubah. Tanpa itu, sebaik apa pun programnya tidak akan berjalan,” tegas Mirza.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Ia menambahkan, pada usia muda, metabolisme yang masih optimal memungkinkan penurunan berat badan berlangsung lebih cepat ketika pola makan dan aktivitas fisik diperbaiki. Namun, memasuki usia di atas 40 tahun, metabolisme cenderung melambat sehingga dibutuhkan strategi tambahan seperti pengaturan waktu makan atau intermittent fasting (IF). Meski demikian, setiap metode harus disesuaikan dengan kondisi individu dan sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/12/18/lingkar-perut-jadi-penentu-risiko-penyakit-ini-penjelasan-pakar-gizi-ugm/">Lingkar Perut Jadi Penentu Risiko Penyakit, Ini Penjelasan Pakar Gizi UGM</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2025/12/18/lingkar-perut-jadi-penentu-risiko-penyakit-ini-penjelasan-pakar-gizi-ugm/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>CKG Halodoc Banjir Peserta, Ribuan Risiko Penyakit Berhasil Terdeteksi Dini</title>
		<link>https://katafoto.id/2025/12/02/ckg-halodoc-banjir-peserta-ribuan-risiko-penyakit-berhasil-terdeteksi-dini/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2025/12/02/ckg-halodoc-banjir-peserta-ribuan-risiko-penyakit-berhasil-terdeteksi-dini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 13:39:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Cek Kesehatan Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Deteksi Dini]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[Halodoc]]></category>
		<category><![CDATA[hipertensi]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[kolesterol]]></category>
		<category><![CDATA[Layanan Kesehatan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[program kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Transformasi Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=13988</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Halodoc, sebagai ekosistem layanan kesehatan digital kembali meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di berbagai komunitas. Sepanjang penyelenggaraannya, lebih dari 4.000 peserta di sejumlah kota besar, sekaligus mendukung agenda transformasi kesehatan nasional yang dicanangkan Kementerian Kesehatan. Program ini menjadi bentuk kontribusi Halodoc dalam mendorong terwujudnya Generasi Sehat, Masa Depan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/12/02/ckg-halodoc-banjir-peserta-ribuan-risiko-penyakit-berhasil-terdeteksi-dini/">CKG Halodoc Banjir Peserta, Ribuan Risiko Penyakit Berhasil Terdeteksi Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Jakarta</b> &#8211; Halodoc, sebagai ekosistem layanan kesehatan digital kembali meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di berbagai komunitas. Sepanjang penyelenggaraannya, lebih dari 4.000 peserta di sejumlah kota besar, sekaligus mendukung agenda transformasi kesehatan nasional yang dicanangkan Kementerian Kesehatan. Program ini menjadi bentuk kontribusi Halodoc dalam mendorong terwujudnya Generasi Sehat, Masa Depan Hebat.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Kesehatan adalah hak setiap orang. Melalui percepatan program CKG, kami ingin menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan akses layanan kesehatan preventif bagi masyarakat. Tingginya partisipasi ini bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan kebutuhan di lapangan dan komitmen kami mendukung visi kesehatan nasional,” ujar Adeline Fiane Hindarto, VP Government Relations and Corporate Affairs Halodoc.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Program ini dirancang sebagai dukungan terhadap pilar pertama transformasi kesehatan Kementerian Kesehatan, yaitu Transformasi Layanan Primer yang mengedepankan edukasi dan pencegahan penyakit. Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan dasar—mulai dari gula darah, tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT), konsultasi kesehatan dengan tenaga profesional, hingga pemberian bantuan berupa obat dan vitamin.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Pelaksanaan kegiatan diperkuat oleh lebih dari 30 mitra strategis, termasuk dinas kesehatan daerah, fasilitas kesehatan, serta perusahaan swasta seperti PT Otto Pharmaceutical Industries dan PT Pertiwi Agung (Landson) yang menyediakan obat-obatan gratis. Tahun ini, penyelenggaraan program diperluas, tidak hanya berfokus di Jakarta, tetapi juga menjangkau warga di Bandung dan Surabaya sebagai upaya pemerataan edukasi kesehatan preventif dan deteksi dini.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Peran tenaga kesehatan dalam program ini turut menjadi kunci keberhasilan. Mereka memastikan setiap peserta mendapatkan pemeriksaan komprehensif, edukasi yang tepat, serta rujukan bila diperlukan. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Banyak risiko kesehatan dapat kami deteksi sejak awal. Hal ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk segera menangani kondisi yang berpotensi berkembang menjadi penyakit serius. Temuan seperti hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, diabetes, hingga rematik perlu segera mendapat perhatian. Karena itu, kami berkomitmen untuk memperluas jangkauan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dari anak-anak hingga lansia,” ujar<span class="Apple-converted-space">  </span>Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/12/02/ckg-halodoc-banjir-peserta-ribuan-risiko-penyakit-berhasil-terdeteksi-dini/">CKG Halodoc Banjir Peserta, Ribuan Risiko Penyakit Berhasil Terdeteksi Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2025/12/02/ckg-halodoc-banjir-peserta-ribuan-risiko-penyakit-berhasil-terdeteksi-dini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gaya Hidup Tak Sehat Bisa Picu Diabetes di Usia Muda, Begini Strategi Pemerintah</title>
		<link>https://katafoto.id/2025/11/10/gaya-hidup-tak-sehat-bisa-picu-diabetes-di-usia-muda-begini-strategi-pemerintah/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2025/11/10/gaya-hidup-tak-sehat-bisa-picu-diabetes-di-usia-muda-begini-strategi-pemerintah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2025 02:06:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[CERDIK]]></category>
		<category><![CDATA[Cukai Minuman Manis]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Germas]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenkes]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Tidak Menular]]></category>
		<category><![CDATA[Wamenkes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=13575</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa pencegahan obesitas dan diabetes harus menjadi prioritas nasional guna menekan lonjakan penyakit tidak menular (PTM) serta pembiayaan kesehatan negara yang terus meningkat. Hal ini disampaikan Prof. Dante dalam Jakarta Diabetes Meeting 2025 yang digelar di Jakarta, Minggu (9/11). Menurutnya, prevalensi obesitas dan diabetes di [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/11/10/gaya-hidup-tak-sehat-bisa-picu-diabetes-di-usia-muda-begini-strategi-pemerintah/">Gaya Hidup Tak Sehat Bisa Picu Diabetes di Usia Muda, Begini Strategi Pemerintah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Jakarta</b> &#8211; Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa pencegahan obesitas dan diabetes harus menjadi prioritas nasional guna menekan lonjakan penyakit tidak menular (PTM) serta pembiayaan kesehatan negara yang terus meningkat. Hal ini disampaikan Prof. Dante dalam Jakarta Diabetes Meeting 2025 yang digelar di Jakarta, Minggu (9/11).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Menurutnya, prevalensi obesitas dan diabetes di Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Saat ini, satu dari empat orang dewasa mengalami obesitas dan satu dari sepuluh orang menderita diabetes. Jika tren ini tidak dikendalikan, usia onset diabetes akan semakin muda — bisa bergeser dari usia 50-an menjadi 30-an tahun akibat tingginya kasus obesitas,” ujar Prof. Dante dikutip dalam keterangan tertulis. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Ia menilai, obesitas bukan sekadar masalah kesehatan pribadi, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar bagi negara.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Pada 2024, biaya pengobatan penyakit kardiovaskular yang terkait obesitas dan diabetes mencapai Rp25 triliun, dengan beban terbesar berasal dari penyakit jantung dan stroke. Artinya, menekan angka obesitas juga berarti menekan beban ekonomi nasional,” jelasnya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Pemerintah, kata Prof. Dante, kini memperkuat langkah promotif dan preventif sejak usia dini. Berdasarkan data Kemenkes, prevalensi diabetes anak meningkat hingga 15,6% pada 2025. Untuk menekan angka tersebut, pemerintah meluncurkan berbagai program seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau lebih dari 51 juta penduduk, kampanye CERDIK dan GERMAS, serta rencana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pengobatan. Diperlukan perubahan gaya hidup menyeluruh — mulai dari pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, pengelolaan stres, hingga menjaga kualitas tidur. Setiap individu juga perlu memiliki rencana perawatan pribadi dan melakukan pemantauan berkala,” imbuhnya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Menutup sambutannya, Prof. Dante menyerukan kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi ancaman obesitas dan diabetes.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita semua harus menjadi bagian dari solusi. Cegah obesitas hari ini untuk menyelamatkan generasi mendatang dari diabetes dan penyakit jantung,” tegasnya.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/11/10/gaya-hidup-tak-sehat-bisa-picu-diabetes-di-usia-muda-begini-strategi-pemerintah/">Gaya Hidup Tak Sehat Bisa Picu Diabetes di Usia Muda, Begini Strategi Pemerintah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2025/11/10/gaya-hidup-tak-sehat-bisa-picu-diabetes-di-usia-muda-begini-strategi-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maria Helena, Pelajar Papua Sulap Biji Pinang Jadi Jamu Penurun Gula Darah</title>
		<link>https://katafoto.id/2025/06/21/maria-helena-pelajar-papua-sulap-biji-pinang-jadi-jamu-penurun-gula-darah/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2025/06/21/maria-helena-pelajar-papua-sulap-biji-pinang-jadi-jamu-penurun-gula-darah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2025 15:52:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[biji pinang]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[inovasi herbal]]></category>
		<category><![CDATA[jamu penurun gula]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan alami]]></category>
		<category><![CDATA[obat tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[pelajar Papua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan Papua]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Genius]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=10406</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tangerang &#8211; Biji pinang yang biasanya dikunyah bersama sirih kini punya potensi baru berkat inovasi seorang siswi asal Papua Selatan. Maria Helena Gesaur, pelajar kelas 12 di Sekolah Genius, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, berhasil mengolah biji buah pinang menjadi jamu herbal yang berpotensi menurunkan kadar gula darah. Maria, yang berasal dari Kabupaten Boven Digoel, Provinsi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/06/21/maria-helena-pelajar-papua-sulap-biji-pinang-jadi-jamu-penurun-gula-darah/">Maria Helena, Pelajar Papua Sulap Biji Pinang Jadi Jamu Penurun Gula Darah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><b>Tangerang</b> &#8211; Biji pinang yang biasanya dikunyah bersama sirih kini punya potensi baru berkat inovasi seorang siswi asal Papua Selatan. Maria Helena Gesaur, pelajar kelas 12 di Sekolah Genius, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, berhasil mengolah biji buah pinang menjadi jamu herbal yang berpotensi menurunkan kadar gula darah.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Maria, yang berasal dari Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, mendapatkan ide ini setelah mengamati tingginya kasus diabetes, terutama di wilayah Indonesia Timur. Bersama dua rekannya, ia mulai meneliti kemungkinan biji pinang digunakan sebagai bahan alami untuk membantu mengatasi penyakit tersebut.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Diabetes cukup banyak terjadi di Indonesia, termasuk di Papua. Kami mencoba mencari solusi dan menemukan jurnal ilmiah yang menyebutkan biji pinang memiliki potensi menurunkan kadar gula darah,” ujar Maria pada Jumat (20/6).</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dilansir dari laman berita satu, penelitian mereka dilakukan selama satu tahun penuh, mulai dari kajian pustaka, proses pembuatan jamu, hingga tahap pengujian. Mereka menguji produk jamu tersebut pada mencit (tikus putih laboratorium), yang secara biologis memiliki kemiripan dengan manusia dalam hal respons metabolisme.</span></p>
<figure id="attachment_10408" aria-describedby="caption-attachment-10408" style="width: 1099px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-10408" src="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2.jpg" alt="Maria Helena, Pelajar Papua Sulap Biji Pinang Jadi Jamu Penurun Gula Darah" width="1099" height="733" srcset="https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2.jpg 1099w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2-300x200.jpg 300w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2-1024x683.jpg 1024w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2-768x512.jpg 768w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2-150x100.jpg 150w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2-696x464.jpg 696w, https://katafoto.id/wp-content/uploads/2025/06/Obat-Herbal2-1068x712.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1099px) 100vw, 1099px" /><figcaption id="caption-attachment-10408" class="wp-caption-text">Maria Helena, pelajar asal Papua Selatan menunjukan jamu penurun gula darah yang diolah dari biji pinang di Sekolah Genius, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. (katafoto/HO/Wawan Kurniawan)</figcaption></figure>
<p class="p1"><span class="s1">Hasil uji coba menunjukkan bahwa jamu dari biji pinang mampu menurunkan kadar glukosa dalam darah mencit. “Kami melihat ada penurunan signifikan kadar gula darah setelah pemberian jamu,” jelas Maria.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Meski hasil awalnya menjanjikan, Maria menekankan bahwa penelitian ini masih memerlukan penyempurnaan. Salah satu temuan mereka adalah bahwa mencit yang sehat juga mengalami penurunan kadar glukosa setelah diberikan jamu, yang menunjukkan kemungkinan adanya faktor lain yang turut memengaruhi hasil.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Dari sini kami menyimpulkan bahwa ada variabel lain yang mungkin memengaruhi efek penurunan gula darah, jadi belum bisa diklaim sepenuhnya berasal dari jamu ini saja. Kami akan lanjutkan penelitian lebih mendalam,” tambahnya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Inovasi yang dilakukan Maria mendapat apresiasi dari Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa. Ia menilai kehadiran Sekolah Genius sangat membantu pengembangan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM) anak-anak Papua.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Sekolah Genius adalah lembaga yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Papua. Diharapkan mereka bisa menjadi agen perubahan, bukan hanya bagi Papua, tetapi juga bagi Indonesia,” ujar Meki.</span></p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2025/06/21/maria-helena-pelajar-papua-sulap-biji-pinang-jadi-jamu-penurun-gula-darah/">Maria Helena, Pelajar Papua Sulap Biji Pinang Jadi Jamu Penurun Gula Darah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2025/06/21/maria-helena-pelajar-papua-sulap-biji-pinang-jadi-jamu-penurun-gula-darah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
