Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat edukasi pelabelan nutrisi Nutri-Level melalui kolaborasi lintas sektor bersama PT Lippo Malls Indonesia (LMI), Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Siloam International Hospitals. Kerja sama ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat agar lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman melalui pemahaman informasi nutrisi.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Lippo Mall Nusantara, Jakarta, Selasa (12/5). Dalam kesempatan yang sama, LMI dan UPH juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Direktorat Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI terkait implementasi Nutri-Level pada pangan olahan siap saji.
Program edukasi ini memperkenalkan sistem pelabelan nutrisi sederhana menggunakan kategori A hingga D untuk menunjukkan kadar gula, garam, dan lemak pada produk makanan maupun minuman. Melalui label tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah memahami kualitas nutrisi suatu produk sebelum dikonsumsi.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan Nutri-Level menjadi salah satu instrumen edukasi publik guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan.
“Pastikan nanti kalau makan dan minum, pilih produk yang sehat, pilih yang A sama B. Kalau D boleh, tapi seminggu sekali saja,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa (12/5/2026), usai peresmian pencantuman label nutrisi Nutri-Level pada produk makanan dan minuman di Indonesia.
“Hari ini kita launching untuk label Nutri-Level,” lanjutnya.
Menurut Menkes, edukasi mengenai informasi nutrisi menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga diabetes tipe 2.
Nutri-Level merupakan sistem label gizi berbasis warna dan huruf A, B, C, hingga D yang dicantumkan pada kemasan maupun menu makanan dan minuman siap saji. Label A berwarna hijau tua menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah. Label B berwarna hijau muda menandakan kadar rendah, label C berwarna kuning mengindikasikan produk perlu dikonsumsi secara bijak, sedangkan label D berwarna merah menunjukkan kandungan tinggi yang perlu dibatasi.
Sebagai bagian dari sosialisasi publik, Lippo Malls Indonesia memanfaatkan jaringan pusat perbelanjaannya yang tersebar di 70 mal di 37 kota dan 18 provinsi untuk memperluas edukasi Nutri-Level kepada masyarakat serta tenant Food and Beverage (F&B).
Dengan lebih dari 16 ribu tenant dan sekitar 200 juta pengunjung setiap tahun, pusat perbelanjaan dinilai menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan literasi nutrisi kepada masyarakat luas.
Di sektor akademik, UPH mendukung implementasi kebijakan melalui pengujian kadar gula pada sampel minuman siap saji dari tenant di Lippo Mall Nusantara. Hasil pengujian tersebut kemudian dikonversi ke dalam kategori Nutri-Level sesuai Kepmenkes Nomor 301 Tahun 2026 sebagai dasar pencantuman informasi nutrisi pada menu maupun kemasan produk.
Sementara itu, Siloam International Hospitals memperkuat edukasi kesehatan melalui jaringan layanan kesehatannya di berbagai wilayah Indonesia dengan pendekatan preventif, khususnya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi dan asupan nutrisi yang seimbang.
President Universitas Pelita Harapan, Stephanie Riady, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bentuk dukungan sektor swasta dalam memperkuat literasi kesehatan masyarakat.
“Kerja sama ini merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya informasi nutrisi. Sebagai ruang publik yang dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat, LMI memiliki peran strategis dalam menghadirkan edukasi kesehatan yang mudah diakses dan relevan bagi masyarakat luas. Sedangkan kolaborasi bersama UPH dan Siloam diharapkan dapat memperkuat implementasi program ini secara menyeluruh, mulai dari edukasi, pengujian, hingga penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat,” ujar Stephanie.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat mengenai pola konsumsi sehat sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih sehat dan produktif.

