<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keuangan pribadi - Katafoto.id</title>
	<atom:link href="https://katafoto.id/tag/keuangan-pribadi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://katafoto.id/tag/keuangan-pribadi/</link>
	<description>Berita dan Foto dari Berbagai Sumber Informasi yang Valid</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Sep 2026 05:56:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://katafoto.id/wp-content/uploads/2023/07/cropped-logo-katafoto-persegi-32x32.png</url>
	<title>keuangan pribadi - Katafoto.id</title>
	<link>https://katafoto.id/tag/keuangan-pribadi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jangan Gali Lubang Tutup Lubang, Begini Cara Melunasi Utang Menumpuk</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/09/29/jangan-gali-lubang-tutup-lubang-begini-cara-melunasi-utang-menumpuk/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/09/29/jangan-gali-lubang-tutup-lubang-begini-cara-melunasi-utang-menumpuk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2026 05:56:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEUANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[cara melunasi utang]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Kredit]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[OJK]]></category>
		<category><![CDATA[Paylater]]></category>
		<category><![CDATA[pindar]]></category>
		<category><![CDATA[Pinjaman online]]></category>
		<category><![CDATA[Pinjol]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[utang]]></category>
		<category><![CDATA[utang menumpuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=19702</guid>

					<description><![CDATA[<p>katafoto, Jakarta &#8211; Gaji baru saja diterima, tetapi sebelum tanggal 20 uang sudah menipis. Di sisi lain, tagihan paylater, kartu kredit, cicilan pinjaman, hingga utang kepada teman atau keluarga terus berdatangan. Kondisi tersebut bisa membuat seseorang terjebak dalam pola “gali lubang, tutup lubang”. Utang lama belum selesai, tetapi pinjaman baru kembali diambil untuk membayar tagihan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/09/29/jangan-gali-lubang-tutup-lubang-begini-cara-melunasi-utang-menumpuk/">Jangan Gali Lubang Tutup Lubang, Begini Cara Melunasi Utang Menumpuk</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>katafoto, Jakarta</b> &#8211; Gaji baru saja diterima, tetapi sebelum tanggal 20 uang sudah menipis. Di sisi lain, tagihan paylater, kartu kredit, cicilan pinjaman, hingga utang kepada teman atau keluarga terus berdatangan.</p>
<p>Kondisi tersebut bisa membuat seseorang terjebak dalam pola “gali lubang, tutup lubang”. Utang lama belum selesai, tetapi pinjaman baru kembali diambil untuk membayar tagihan sebelumnya.</p>
<p>Jika kondisi ini mulai terjadi, perencana keuangan menyarankan sejumlah langkah untuk mengurangi jumlah utang secara bertahap tanpa menambah pinjaman baru. Dilansir dari laman<span class="Apple-converted-space">  </span>Liputan6.com, perencana keuangan Safir Senduk dan Andy Nugroho membagikan strategi mengatasi utang menumpuk kepada, Selasa (29/9).</p>
<p><b>Hitung Semua Utang dan Kurangi Jumlah Posnya</b></p>
<p>Safir Senduk menyarankan langkah pertama adalah mencatat seluruh kewajiban yang dimiliki. Jangan hanya menghitung cicilan bank, tetapi juga utang kepada teman atau keluarga, kartu kredit, dan berbagai bentuk pinjaman lainnya.</p>
<p>Setelah semua dicatat, langkah berikutnya adalah mengurangi jumlah pos utang.</p>
<p>Menurut Safir, semakin sedikit jumlah utang yang harus dibayar, semakin mudah seseorang mengendalikan kewajibannya.</p>
<p>“Fokusnya sebetulnya adalah mengurangi jumlah posnya dulu,” ujar Safir.</p>
<p><b>Bayar Minimum, Lalu Tambahkan Anggaran</b></p>
<p>Setelah mengetahui seluruh kewajiban, Safir menyarankan agar setiap pos tetap dibayar sesuai cicilan minimal.</p>
<p>Sebagai contoh, seseorang memiliki 10 pos utang dengan total kewajiban cicilan Rp5 juta per bulan. Jika kondisi keuangan memungkinkan, anggaran pembayaran utang sebaiknya ditambah.</p>
<p>“Jangan Rp 5 juta, budget-kan Rp 7 juta misalnya,” kata Safir.</p>
<p>Dengan tambahan anggaran Rp2 juta, uang tersebut kemudian diarahkan untuk mempercepat pelunasan salah satu utang.</p>
<p>Safir menyarankan tambahan pembayaran diberikan kepada utang dengan sisa saldo paling kecil, bukan utang dengan bunga paling tinggi.</p>
<p>“Bukan bunganya yang paling besar, tapi sisa saldo kewajiban paling kecil,” tegasnya.</p>
<p>Ketika utang dengan saldo terkecil sudah lunas, anggaran yang sebelumnya digunakan untuk membayar utang tersebut dapat dialihkan ke utang berikutnya. Strategi ini dikenal sebagai metode <i>snowball</i>.</p>
<p><b>Jangan Tambah Utang Baru</b></p>
<p>Perencana keuangan Andy Nugroho mengatakan prinsip utama dalam menyelesaikan utang adalah membayar kewajiban secara bertahap sesuai kemampuan. Namun, proses tersebut harus dibarengi dengan pengendalian diri agar tidak kembali menambah utang.</p>
<p>“Jangan membuat utang baru lagi dulu sampai lunas atau maksimal 30 persen dari total utang,” ujarnya.</p>
<p>Menurut Andy, apabila ingin mempercepat pelunasan, terdapat sejumlah alternatif yang dapat dipertimbangkan, salah satunya memanfaatkan aset yang dimiliki.</p>
<p>“Gadaikan atau jual aset untuk menutup utang dengan cepat,” ungkap dia.</p>
<p>Pilihan lainnya adalah meminjam uang kepada saudara atau teman. Namun, langkah tersebut tetap perlu disertai komitmen untuk mencicil hingga kewajiban tersebut lunas.</p>
<p><b>Waspadai Utang dengan Bunga Tinggi</b></p>
<p>Safir mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati sebelum mengambil utang baru, terutama produk pinjaman yang memiliki bunga tinggi.</p>
<p>“Pikir-pikir ulang kalau mengambil utang pada satu dari tiga produk berikut ini: KTA, paylater, sama pinjaman daring,” ujarnya.</p>
<p>Safir juga menjelaskan perbedaan istilah yang sering digunakan masyarakat untuk pinjaman daring.</p>
<p>“Kalau legal namanya pindar, kalau yang ilegal tidak terdaftar di OJK, dia namanya pinjol,” jelas Safir.</p>
<p>Karena itu, masyarakat perlu memastikan legalitas penyedia pinjaman sebelum menggunakan layanan tersebut dan mempertimbangkan kemampuan membayar kembali.</p>
<p><b>Bedakan Utang Produktif dan Konsumtif</b></p>
<p>Selain jumlah dan bunga, penting pula memahami tujuan ketika mengambil utang.</p>
<p>Andy menjelaskan, berdasarkan pengertian umum, utang merupakan kewajiban untuk mengembalikan sesuatu yang telah diterima. Safir menambahkan, utang pada dasarnya merupakan tindakan meminjam sumber daya dari pihak lain, umumnya berupa uang, yang harus dikembalikan dan biasanya disertai bunga.</p>
<p>Andy membedakan utang berdasarkan manfaat yang dihasilkan. Utang produktif digunakan untuk sesuatu yang berpotensi menghasilkan pendapatan lebih besar.</p>
<p>Salah satu contohnya adalah kredit pemilikan rumah (KPR) yang digunakan untuk membeli rumah kemudian disewakan.</p>
<p>Sebaliknya, utang konsumtif digunakan untuk kebutuhan yang tidak menghasilkan pendapatan sehingga pengeluaran justru bertambah.</p>
<p>Safir memberikan batasan yang lebih ketat mengenai utang produktif. Menurutnya, utang baru dapat disebut produktif jika barang atau jasa yang dibiayai secara langsung digunakan untuk menghasilkan uang.</p>
<p>Contohnya adalah membeli kendaraan yang kemudian digunakan untuk bekerja sebagai pengemudi ojek online.</p>
<p>Namun, apabila kendaraan tersebut hanya digunakan untuk keperluan pergi menghadiri rapat, Safir menilainya belum termasuk utang produktif.</p>
<p>“Itu tetap konsumtif juga,” kata Safir, meski penggunaan tersebut masih dapat diterima.</p>
<p>Dengan demikian, langkah penting dalam mengurangi utang bukan hanya memperbesar pembayaran cicilan, tetapi juga menghentikan kebiasaan mengambil utang baru dan mengevaluasi tujuan setiap pinjaman.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/09/29/jangan-gali-lubang-tutup-lubang-begini-cara-melunasi-utang-menumpuk/">Jangan Gali Lubang Tutup Lubang, Begini Cara Melunasi Utang Menumpuk</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/09/29/jangan-gali-lubang-tutup-lubang-begini-cara-melunasi-utang-menumpuk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Sulit Kaya? Bisa Jadi Anda Terjebak Money Scripts Sejak Masa Kanak-Kanak</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/09/02/merasa-sulit-kaya-bisa-jadi-anda-terjebak-money-scripts-sejak-masa-kanak-kanak/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/09/02/merasa-sulit-kaya-bisa-jadi-anda-terjebak-money-scripts-sejak-masa-kanak-kanak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 03:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEUANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[menabung]]></category>
		<category><![CDATA[money scripts]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan uang]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku finansial]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi finansial]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=19433</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Konsep money scripts diperkenalkan oleh Brad dan Ted Klontz, dua terapis finansial yang melakukan riset empiris mengenai hubungan antara keyakinan seseorang terhadap uang dan perilaku finansialnya. Keduanya kemudian mengembangkan alat ukur bernama Money Script Inventory. Instrumen tersebut telah digunakan dalam berbagai penelitian psikologi uang di sejumlah negara. Salah satu hal yang membuat money [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/09/02/merasa-sulit-kaya-bisa-jadi-anda-terjebak-money-scripts-sejak-masa-kanak-kanak/">Merasa Sulit Kaya? Bisa Jadi Anda Terjebak Money Scripts Sejak Masa Kanak-Kanak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta </b>&#8211; Konsep money scripts diperkenalkan oleh Brad dan Ted Klontz, dua terapis finansial yang melakukan riset empiris mengenai hubungan antara keyakinan seseorang terhadap uang dan perilaku finansialnya.</p>
<p>Keduanya kemudian mengembangkan alat ukur bernama Money Script Inventory. Instrumen tersebut telah digunakan dalam berbagai penelitian psikologi uang di sejumlah negara.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat money scripts berbeda dari sekadar rendahnya literasi keuangan adalah sifatnya yang tidak mudah berubah hanya dengan penambahan pengetahuan.</p>
<p>Seseorang mungkin saja memahami cara kerja bunga majemuk, investasi, atau pentingnya menabung. Namun, keyakinan bawah sadar yang terbentuk sejak kecil tetap dapat mendorongnya melakukan tindakan yang bertentangan dengan pengetahuan tersebut.</p>
<p>Klontz dan koleganya mengelompokkan money scripts ke dalam empat pola utama. Masing-masing memiliki keyakinan dasar dan kecenderungan perilaku yang berbeda.</p>
<p><b>1. Money Avoidance</b></p>
<p>Orang dengan pola Money Avoidance cenderung memandang uang sebagai sesuatu yang buruk. Mereka juga dapat memiliki anggapan bahwa orang kaya identik dengan sifat serakah.</p>
<p>Keyakinan tersebut bisa mendorong seseorang menghasilkan uang di bawah kemampuan sebenarnya, kesulitan mempertahankan tabungan, bahkan tanpa sadar menghambat kesuksesan finansialnya sendiri.</p>
<p>Pola ini antara lain dapat berkembang dari lingkungan keluarga yang memberikan kesan negatif terhadap kekayaan atau pengalaman konflik yang berkaitan dengan perbedaan kondisi sosial ekonomi.</p>
<p><b>2. Money Worship</b></p>
<p>Berbeda dengan Money Avoidance, Money Worship muncul ketika seseorang meyakini bahwa uang merupakan solusi untuk hampir semua persoalan.</p>
<p>Masalahnya, berapa pun uang yang dimiliki, jumlah tersebut sering dianggap belum cukup. Akibatnya, seseorang dapat terdorong berbelanja secara berlebihan, mengejar barang-barang yang menunjukkan status sosial, atau bekerja tanpa henti.</p>
<p>Ironisnya, keberhasilan finansial tidak selalu memberikan kepuasan yang diharapkan. Mereka dapat tetap merasa tidak aman atau kosong karena uang ternyata tidak mampu memberikan kebahagiaan seperti yang selama ini dibayangkan.</p>
<p><b>3. Money Status</b></p>
<p>Pada pola Money Status, kondisi finansial dan jumlah kekayaan dianggap sebagai ukuran harga diri.</p>
<p>Orang dengan pola ini cenderung mengaitkan keberhasilan hidup dengan kemampuan menunjukkan status ekonomi. Akibatnya, mereka bisa mengeluarkan uang secara berlebihan untuk barang yang dianggap dapat meningkatkan citra sosial.</p>
<p>Kebiasaan hidup melebihi kemampuan finansial dan menutupi masalah keuangan dari orang lain juga dapat muncul. Alih-alih memperoleh rasa aman dan penghargaan, perilaku tersebut justru berpotensi menciptakan tekanan serta ketidakstabilan keuangan.</p>
<p><b>4. Money Vigilance</b></p>
<p>Sementara itu, Money Vigilance ditandai dengan perhatian yang sangat besar terhadap keamanan finansial di masa depan.</p>
<p>Seseorang dengan pola ini cenderung memiliki kebiasaan menabung dan berhati-hati dalam menggunakan uang. Mereka juga dapat menganggap pembicaraan mengenai uang sebagai sesuatu yang tidak pantas atau memalukan.</p>
<p>Di satu sisi, pola tersebut dapat menghasilkan kebiasaan finansial yang sehat. Namun, jika berlebihan, seseorang bisa terlalu membatasi diri hingga sulit menikmati hasil kerja kerasnya sendiri.</p>
<p>Rasa cemas mengenai kondisi keuangan juga dapat tetap muncul meskipun secara objektif kondisi finansialnya sudah cukup aman.</p>
<p><b>Bagaimana Money Scripts Terbentuk?</b></p>
<p>Pembentukan money scripts dapat terjadi melalui berbagai pengalaman sejak masa kanak-kanak. Salah satu sumber terbesarnya adalah pengamatan terhadap perilaku orangtua.</p>
<p>Anak dapat menyerap cara orangtua berbicara tentang uang, bagaimana anggota keluarga menggunakan uang, hingga bagaimana uang menjadi sumber konflik atau justru dirayakan.</p>
<p>Selain melalui pengamatan, orangtua juga dapat menyampaikan keyakinan finansial secara langsung. Pernyataan yang terus didengar anak dapat tertanam sebagai sebuah kebenaran sebelum mereka memiliki kemampuan untuk mempertanyakannya secara kritis.</p>
<p>Pengalaman hidup juga berperan. Kondisi seperti tumbuh dalam kemiskinan, menghadapi kehilangan pekerjaan, atau mengalami krisis finansial secara tiba-tiba dapat meninggalkan kesan kuat terhadap cara seseorang memandang uang.</p>
<p>Faktor budaya dan lingkungan sosial turut berpengaruh. Nilai yang berasal dari agama, kelompok masyarakat, keluarga, hingga lingkungan tempat seseorang tumbuh dapat membentuk pandangan tertentu mengenai kekayaan, pengeluaran, dan menabung.</p>
<p><b>Bisa Diubah, tetapi Membutuhkan Proses</b></p>
<p>Mengubah money scripts bukan perkara menambah pengetahuan finansial semata. Langkah awal yang penting adalah menyadari bahwa seseorang memiliki pola keyakinan tertentu mengenai uang.</p>
<p>Setelah itu, asal-usul keyakinan tersebut dapat ditelusuri. Seseorang dapat mulai mempertanyakan apakah keyakinan yang selama ini dipegang memang selalu benar dan apa bukti yang mendukungnya.</p>
<p>Pendekatan terapi finansial yang secara khusus menangani <i>money scripts</i> juga dapat membantu, terutama karena persoalan tersebut berkaitan dengan pola pikir dan pengalaman emosional, bukan hanya kemampuan menghitung atau mengelola uang.</p>
<p>Membangun pengalaman baru yang bertentangan dengan keyakinan lama juga dapat menjadi bagian dari proses perubahan. Misalnya, seseorang yang selalu merasa harus menimbun uang untuk mendapatkan rasa aman dapat belajar bahwa menabung sekaligus menggunakan sebagian uang secara sehat tidak otomatis membuat kondisi finansialnya terancam.</p>
<p>Perubahan tersebut membutuhkan waktu. Keyakinan yang telah terbentuk sejak masa kanak-kanak tidak serta-merta hilang dalam satu malam. Pengalaman baru yang dilakukan secara konsisten diperlukan agar pola lama perlahan kehilangan pengaruhnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/09/02/merasa-sulit-kaya-bisa-jadi-anda-terjebak-money-scripts-sejak-masa-kanak-kanak/">Merasa Sulit Kaya? Bisa Jadi Anda Terjebak Money Scripts Sejak Masa Kanak-Kanak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/09/02/merasa-sulit-kaya-bisa-jadi-anda-terjebak-money-scripts-sejak-masa-kanak-kanak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dana Darurat Jadi Kunci Bertahan Saat Krisis, Berapa Nominal yang Harus Disiapkan?</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/07/18/dana-darurat-jadi-kunci-bertahan-saat-krisis-berapa-nominal-yang-harus-disiapkan/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/07/18/dana-darurat-jadi-kunci-bertahan-saat-krisis-berapa-nominal-yang-harus-disiapkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2026 10:25:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEUANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[Biaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[cara menghitung dana darurat]]></category>
		<category><![CDATA[Dana Darurat]]></category>
		<category><![CDATA[finansial keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan darurat]]></category>
		<category><![CDATA[tips menabung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=18520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Di tengah ketidakpastian ekonomi global, memiliki dana darurat menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan keuangan. Dana ini berfungsi sebagai cadangan ketika menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan, hingga kebutuhan mendesak lainnya. Lalu, berapa besar dana darurat yang sebaiknya dimiliki? Sejumlah pakar keuangan internasional umumnya menyarankan dana darurat setara [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/18/dana-darurat-jadi-kunci-bertahan-saat-krisis-berapa-nominal-yang-harus-disiapkan/">Dana Darurat Jadi Kunci Bertahan Saat Krisis, Berapa Nominal yang Harus Disiapkan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Di tengah ketidakpastian ekonomi global, memiliki dana darurat menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan keuangan. Dana ini berfungsi sebagai cadangan ketika menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan, hingga kebutuhan mendesak lainnya.</p>
<p>Lalu, berapa besar dana darurat yang sebaiknya dimiliki?</p>
<p>Sejumlah pakar keuangan internasional umumnya menyarankan dana darurat setara tiga hingga enam bulan biaya hidup. Besaran tersebut dinilai cukup untuk membantu seseorang atau keluarga tetap memenuhi kebutuhan pokok ketika pendapatan terganggu.</p>
<p>Menurut berbagai panduan perencanaan keuangan, dana darurat dalam kisaran tersebut dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk mencari pekerjaan baru atau menyelesaikan persoalan keuangan tanpa harus bergantung pada utang.</p>
<p><b>Besaran Dana Darurat Bergantung pada Kondisi</b></p>
<p>Meski rekomendasi umum berada di kisaran tiga hingga enam bulan pengeluaran, kebutuhan setiap orang tidak selalu sama. Ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan target dana darurat.</p>
<p><b>1. Stabilitas pekerjaan</b></p>
<p>Bagi karyawan dengan pekerjaan yang relatif stabil, dana darurat sebesar tiga bulan biaya hidup umumnya sudah memadai. Sebaliknya, pekerja lepas (freelancer), pelaku usaha, atau mereka yang bekerja di sektor dengan risiko tinggi disarankan memiliki cadangan dana hingga enam bulan atau lebih.</p>
<p><b>2. Kondisi kesehatan dan jumlah tanggungan</b></p>
<p>Seseorang yang memiliki penyakit kronis atau menanggung kebutuhan keluarga, seperti anak maupun orang tua, sebaiknya menyiapkan dana darurat lebih besar. Langkah ini penting untuk mengantisipasi biaya kesehatan maupun kebutuhan mendesak lainnya.</p>
<p><b>3. Beban utang</b></p>
<p>Dana darurat juga menjadi pelindung bagi mereka yang masih memiliki utang, terutama utang berbunga tinggi seperti kartu kredit. Cadangan dana yang cukup dapat mencegah seseorang menambah utang baru saat menghadapi kondisi darurat.</p>
<p><b>4. Akses terhadap fasilitas kredit</b></p>
<p>Memiliki kartu kredit atau fasilitas pinjaman dengan bunga rendah memang dapat menjadi alternatif saat kondisi mendesak. Namun, para ahli mengingatkan bahwa fasilitas kredit sebaiknya hanya menjadi pelengkap, bukan pengganti dana darurat.</p>
<p><b>Ada Ahli yang Menyarankan Hingga 12 Bulan</b></p>
<p>Sejak pandemi COVID-19 dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, sebagian perencana keuangan mulai merekomendasikan dana darurat yang lebih besar.</p>
<p>Beberapa ahli menyarankan cadangan dana setara delapan hingga 12 bulan biaya hidup, terutama bagi pekerja yang pendapatannya tidak tetap atau memiliki risiko kehilangan pekerjaan yang lebih tinggi. Rekomendasi tersebut didasarkan pada pengalaman bahwa proses pemulihan ekonomi maupun pencarian pekerjaan dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan.</p>
<p><b>Cara Menghitung Dana Darurat</b></p>
<p>Langkah pertama adalah menghitung seluruh kebutuhan pokok setiap bulan, meliputi:</p>
<ul>
<li>Biaya tempat tinggal (sewa atau cicilan rumah)</li>
<li>Makanan dan kebutuhan sehari-hari</li>
<li>Transportasi</li>
<li>Listrik, air, internet, dan utilitas lainnya</li>
<li>Premi asuransi</li>
<li>Cicilan atau pembayaran minimum utang</li>
</ul>
<p>Total pengeluaran tersebut kemudian dikalikan sesuai target dana darurat yang ingin dicapai, misalnya tiga, enam, atau 12 bulan.</p>
<p><b>Tips Membangun Dana Darurat</b></p>
<p>Membangun dana darurat tidak harus dimulai dengan nominal besar. Yang terpenting adalah konsisten menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin.</p>
<p>Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:</p>
<ul>
<li>Menetapkan target awal, misalnya Rp7,5 juta hingga Rp15 juta sebagai langkah pertama.</li>
<li>Mengaktifkan transfer otomatis dari rekening gaji ke rekening tabungan setiap bulan.</li>
<li>Mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting agar dana dapat dialihkan ke tabungan.</li>
<li>Memanfaatkan bonus, THR, pengembalian pajak, atau pemasukan tak terduga lainnya untuk mempercepat pencapaian target.</li>
</ul>
<p>Dengan kebiasaan menabung secara disiplin, dana darurat akan terbentuk secara bertahap dan menjadi perlindungan finansial ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.</p>
<p>Dana darurat bukan hanya membantu menjaga kondisi keuangan tetap stabil, tetapi juga memberikan rasa aman dan fleksibilitas dalam mengambil keputusan ketika menghadapi masa-masa sulit.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/07/18/dana-darurat-jadi-kunci-bertahan-saat-krisis-berapa-nominal-yang-harus-disiapkan/">Dana Darurat Jadi Kunci Bertahan Saat Krisis, Berapa Nominal yang Harus Disiapkan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/07/18/dana-darurat-jadi-kunci-bertahan-saat-krisis-berapa-nominal-yang-harus-disiapkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Orang Kaya Memilih Menahan Aset Mewah daripada Menjualnya?</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/06/03/mengapa-orang-kaya-memilih-menahan-aset-mewah-daripada-menjualnya/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/06/03/mengapa-orang-kaya-memilih-menahan-aset-mewah-daripada-menjualnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 16:29:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[EKONOMI dan KINERJA]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Global]]></category>
		<category><![CDATA[Gadai Barang Mewah]]></category>
		<category><![CDATA[investasi 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi Aset Mewah]]></category>
		<category><![CDATA[Jam Tangan Mewah]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Lesca Gadai Premier]]></category>
		<category><![CDATA[Likuiditas]]></category>
		<category><![CDATA[Tas Mewah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=17485</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor dan kalangan High Net Worth Individuals (HNWI) di Indonesia mulai mengubah strategi pengelolaan aset mereka. Fluktuasi pasar keuangan, kebijakan suku bunga yang agresif, serta berbagai risiko geopolitik mendorong mereka mencari instrumen yang mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Dalam situasi tersebut, aset mewah atau luxury goods [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/03/mengapa-orang-kaya-memilih-menahan-aset-mewah-daripada-menjualnya/">Mengapa Orang Kaya Memilih Menahan Aset Mewah daripada Menjualnya?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor dan kalangan High Net Worth Individuals (HNWI) di Indonesia mulai mengubah strategi pengelolaan aset mereka. Fluktuasi pasar keuangan, kebijakan suku bunga yang agresif, serta berbagai risiko geopolitik mendorong mereka mencari instrumen yang mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.</p>
<p>Dalam situasi tersebut, aset mewah atau <i>luxury goods</i> kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai simbol status sosial. Barang-barang bernilai tinggi seperti jam tangan premium dan tas eksklusif mulai dianggap sebagai aset pelindung nilai (<i>safe haven</i>) yang mampu mempertahankan daya beli di tengah gejolak ekonomi.</p>
<p>Direktur PT Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama, mengatakan pihaknya melihat adanya perubahan pola pikir di kalangan nasabah premium dalam beberapa waktu terakhir.</p>
<p>&#8220;Banyak pengusaha dan kolektor yang menyadari bahwa menjual aset mewah mereka saat ini bukanlah langkah yang bijak, karena potensi kenaikan harganya di masa depan sangat tinggi. Namun, di sisi lain, mereka membutuhkan likuiditas cepat untuk menangkap peluang bisnis atau menjaga arus kas,&#8221; ujar Bastian, Selasa (2/6).</p>
<p>Menurutnya, kondisi pasar sepanjang awal 2026 menunjukkan bahwa instrumen investasi konvensional seperti saham dan obligasi mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Sebaliknya, sejumlah aset mewah justru menunjukkan ketahanan yang kuat.</p>
<p>Pasar sekunder jam tangan mewah seperti Patek Philippe dan Rolex, misalnya, masih mencatatkan performa yang stabil. Demikian pula dengan tas eksklusif seperti Hermès Birkin yang dalam beberapa kasus mampu mencatatkan kenaikan nilai melebihi tingkat inflasi. Kondisi tersebut membuat aset mewah semakin diminati sebagai sarana menjaga kekayaan.</p>
<p>Melihat tren tersebut, layanan gadai barang mewah menjadi salah satu solusi yang semakin dilirik. PT Lesca Gadai Premier memanfaatkan peluang tersebut dengan menghadirkan layanan yang memungkinkan pemilik aset memperoleh dana tunai tanpa harus kehilangan kepemilikan atas barang koleksi mereka.</p>
<p>Melalui skema ini, pemilik aset dapat memperoleh likuiditas secara cepat sambil tetap mempertahankan aset yang berpotensi mengalami kenaikan nilai di masa depan.</p>
<p>Bastian menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menjadi pertimbangan utama nasabah premium dalam memilih layanan gadai adalah aspek keamanan yang terjamin. Sertifikasi internasional seperti ISO 9001 untuk Sistem Manajemen Mutu dan ISO 27001 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi menjadi indikator penting dalam membangun kepercayaan nasabah.</p>
<p>Bagi pemilik aset bernilai miliaran rupiah, keamanan penyimpanan menjadi hal yang tidak dapat ditawar. Setiap barang yang dijaminkan disimpan dalam fasilitas brankas dengan pengaturan lingkungan yang dirancang untuk menjaga kondisi fisik aset tetap optimal.</p>
<p>Selain itu, perlindungan terhadap data pribadi dan riwayat transaksi juga menjadi perhatian utama. Sertifikasi keamanan informasi memastikan data nasabah terlindungi dari risiko kebocoran maupun penyalahgunaan informasi, sesuatu yang sangat dihargai oleh kalangan beraset tinggi yang menjunjung tinggi privasi.</p>
<p><b>Appraisal Berbasis Teknologi dan Transparansi</b></p>
<p>Selain keamanan, proses penilaian atau <i>appraisal</i> menjadi salah satu faktor penting dalam layanan gadai aset mewah. Penentuan nilai aset dilakukan melalui proses kurasi dan verifikasi yang memanfaatkan teknologi modern untuk memastikan keaslian serta kondisi barang.</p>
<p>Tim penilai menggunakan berbagai perangkat pendukung dan mengakses database pasar global guna memperoleh estimasi harga yang sesuai dengan nilai pasar terkini (<i>fair market value</i>).</p>
<p>&#8220;Kami tidak hanya melihat fisik barang, tetapi juga nilai investasi jangka panjangnya. Dengan metodologi penilaian yang ilmiah, nasabah mendapatkan plafon pinjaman yang maksimal,&#8221; tambah Bastian.</p>
<p>Untuk memberikan kenyamanan lebih bagi nasabah, perusahaan juga menyediakan layanan transaksi dari rumah atau kantor. Melalui layanan ini, seluruh proses mulai dari penilaian aset hingga pencairan dana dapat dilakukan tanpa harus mengunjungi kantor cabang.</p>
<p>Dengan dukungan tim profesional dan penerapan prosedur keamanan yang ketat, layanan tersebut menjadi pilihan bagi nasabah yang memiliki mobilitas tinggi dan mengutamakan kerahasiaan transaksi.</p>
<p><b>Bidik Ekspansi ke Kota Besar</b></p>
<p>Seiring meningkatnya minat terhadap solusi pembiayaan berbasis aset mewah, PT Lesca Gadai Premier berencana memperluas jangkauan layanannya ke sejumlah kota besar di Indonesia dalam satu hingga dua tahun mendatang.</p>
<p>Beberapa wilayah yang menjadi target ekspansi antara lain Surabaya, Medan, serta sejumlah kota besar lainnya yang dinilai memiliki potensi pasar yang kuat. Langkah ekspansi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat beraset tinggi terhadap layanan keuangan yang fleksibel, aman, dan berbasis pada aset bernilai tinggi.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/06/03/mengapa-orang-kaya-memilih-menahan-aset-mewah-daripada-menjualnya/">Mengapa Orang Kaya Memilih Menahan Aset Mewah daripada Menjualnya?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/06/03/mengapa-orang-kaya-memilih-menahan-aset-mewah-daripada-menjualnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahasia Investasi Emas Anti Rugi, Cocok untuk Pemula</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/04/30/rahasia-investasi-emas-anti-rugi-cocok-untuk-pemula/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/04/30/rahasia-investasi-emas-anti-rugi-cocok-untuk-pemula/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 04:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEUANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[cara investasi]]></category>
		<category><![CDATA[cuan emas]]></category>
		<category><![CDATA[Emas digital]]></category>
		<category><![CDATA[emas pemula]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi aman]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi Emas]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Pegadaian]]></category>
		<category><![CDATA[Tabungan Emas]]></category>
		<category><![CDATA[tips finansial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=16410</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dinamika ekonomi yang terus berubah dan harga kebutuhan cenderung meningkat, memiliki strategi keuangan yang tepat menjadi hal yang semakin penting. Salah satu pilihan yang banyak dilirik masyarakat adalah investasi emas, karena dikenal relatif stabil dan mudah diakses. Bagi pemula, memahami cara berinvestasi emas dengan benar menjadi langkah awal yang krusial agar tidak salah strategi serta [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/30/rahasia-investasi-emas-anti-rugi-cocok-untuk-pemula/">Rahasia Investasi Emas Anti Rugi, Cocok untuk Pemula</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dinamika ekonomi yang terus berubah dan harga kebutuhan cenderung meningkat, memiliki strategi keuangan yang tepat menjadi hal yang semakin penting. Salah satu pilihan yang banyak dilirik masyarakat adalah investasi emas, karena dikenal relatif stabil dan mudah diakses.</p>
<p>Bagi pemula, memahami cara berinvestasi emas dengan benar menjadi langkah awal yang krusial agar tidak salah strategi serta tetap sejalan dengan tujuan keuangan jangka panjang. Berikut panduan yang telah disusun ulang agar lebih mudah dipahami dan relevan untuk media online.</p>
<p><b>Mengapa Investasi Emas Menarik?</b></p>
<p>Dari berbagai instrumen investasi yang tersedia, emas tetap menjadi favorit karena nilainya cenderung stabil dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi. Harga emas umumnya dipengaruhi oleh inflasi dan permintaan global, sehingga sering dijadikan sebagai aset lindung nilai (safe haven).</p>
<p>Selain itu, emas memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Artinya, aset ini mudah dijual kembali kapan saja melalui toko emas, layanan Pegadaian, maupun platform digital resmi.</p>
<p>Kemudahan transaksi tersebut membuat emas cocok bagi investor yang menginginkan instrumen fleksibel dan tidak rumit. Bahkan, saat ini investasi emas bisa dimulai dengan nominal kecil melalui layanan tabungan emas, sehingga lebih ramah bagi pemula.</p>
<p><b>Tips Investasi Emas untuk Pemula</b></p>
<p>Agar investasi berjalan optimal, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:</p>
<p><b>1. Tentukan Tujuan Investasi; </b>tentukan sejak awal apakah investasi ditujukan untuk dana darurat, pendidikan, atau pensiun. Tujuan ini akan membantu menentukan strategi dan jangka waktu.</p>
<p><b>2. Pilih Jenis Emas yang Tepat, </b>emas batangan cocok untuk jangka panjang, sementara emas digital lebih praktis. Perhiasan bisa digunakan, tetapi biasanya memiliki biaya tambahan.</p>
<p><b>3. Beli di Tempat Tepercaya, </b>pastikan membeli emas di lembaga resmi seperti ANTAM atau Pegadaian, serta platform yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan.</p>
<p><b>4. Manfaatkan Tabungan Emas, </b>metode ini memungkinkan pembelian bertahap dengan nominal kecil, sehingga lebih ringan dan konsisten.</p>
<p><b>5. Perhatikan Selisih Harga, </b>selisih harga beli dan jual (buyback) perlu diperhatikan karena berpengaruh pada potensi keuntungan.</p>
<p><b>6. Simpan dengan Aman, </b>gunakan brankas pribadi atau safe deposit box untuk emas fisik, serta sistem keamanan berlapis untuk akun digital.</p>
<p><b>7. Pantau Harga Secara Berkala, </b>mengikuti pergerakan harga membantu menentukan waktu terbaik untuk membeli atau menjual.</p>
<p><b>8. Lakukan Diversifikasi, </b>jangan menaruh seluruh dana di emas. Kombinasikan dengan instrumen lain agar risiko lebih terkelola.</p>
<p><b>9. Hindari Beli Saat Harga Tinggi, </b>membeli saat harga sedang naik berpotensi menekan keuntungan di masa depan.</p>
<p><b>10. Gunakan Dana Dingin, </b>pastikan dana yang digunakan bukan untuk kebutuhan jangka pendek agar investasi tetap stabil.</p>
<p>Investasi emas bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang, terutama jika dilakukan dengan perencanaan matang dan disiplin. Bagi yang ingin memulai dengan cara praktis, layanan Tabungan Emas dari Pegadaian dapat menjadi solusi. Dengan sistem ini, investasi bisa dimulai dari nominal kecil dan dikelola secara digital, sehingga lebih mudah diakses oleh siapa saja.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/30/rahasia-investasi-emas-anti-rugi-cocok-untuk-pemula/">Rahasia Investasi Emas Anti Rugi, Cocok untuk Pemula</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/04/30/rahasia-investasi-emas-anti-rugi-cocok-untuk-pemula/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Sampai Boncos! Ini Batas Aman Utang dan Tabungan Menurut Pakar</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/04/08/jangan-sampai-boncos-ini-batas-aman-utang-dan-tabungan-menurut-pakar/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/04/08/jangan-sampai-boncos-ini-batas-aman-utang-dan-tabungan-menurut-pakar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2026 01:12:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEUANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hemat uang]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[pengeluaran]]></category>
		<category><![CDATA[tips finansial]]></category>
		<category><![CDATA[tips hemat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15817</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yogyakarta &#8211; Pola konsumsi masyarakat umumnya meningkat cukup tinggi menjelang lebaran. Kondisi ini memicu lonjakan pengeluaran, mulai dari kebutuhan mudik hingga tradisi berbagi parsel. Bahkan, kebiasaan belanja kerap berlanjut setelah hari raya, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan keuangan.  Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa tingginya konsumsi tidak lepas dari euforia Lebaran. Ia menyebut, secara [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/08/jangan-sampai-boncos-ini-batas-aman-utang-dan-tabungan-menurut-pakar/">Jangan Sampai Boncos! Ini Batas Aman Utang dan Tabungan Menurut Pakar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yogyakarta</strong> &#8211; Pola konsumsi masyarakat umumnya meningkat cukup tinggi menjelang lebaran. Kondisi ini memicu lonjakan pengeluaran, mulai dari kebutuhan mudik hingga tradisi berbagi parsel. Bahkan, kebiasaan belanja kerap berlanjut setelah hari raya, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan keuangan.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa tingginya konsumsi tidak lepas dari euforia Lebaran. Ia menyebut, secara psikologis kebiasaan belanja bisa terus berlanjut karena suasana kebahagiaan yang masih terbawa. “Sehingga pengeluaran secara tidak tersadari mungkin akan di atas normal,” ujarnya, Selasa (7/4).</p>
<p>Untuk menghindari pemborosan, setiap individu perlu memiliki kesadaran atau semacam “alarm” bahwa masa perayaan telah berakhir. Dengan begitu, pengelolaan keuangan bisa kembali dilakukan secara disiplin dan terencana.</p>
<p>Melansir dari laman ugm, sejumlah riset menunjukkan bahwa porsi ideal untuk tabungan atau investasi berada di kisaran 10–20 persen dari pendapatan bersih (take-home pay). Sementara itu, rasio cicilan utang (debt service ratio), di luar cicilan KPR, sebaiknya tidak melampaui 35 persen dari pendapatan. “Debt service ratio adalah rasio pembayaran cicilan terhadap take-home pay,” jelasnya.</p>
<p>Lebih lanjut, Eddy mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mulai mengenal dan mempraktikkan investasi sejak dini. Hal ini bisa dilakukan melalui pembelajaran manajemen keuangan, teori portofolio, serta memanfaatkan berbagai platform investasi yang tersedia. Dalam praktiknya, analisis dapat dilakukan melalui pendekatan fundamental maupun teknikal.</p>
<p>Selain investasi, ia juga menekankan pentingnya asuransi sebagai bentuk perlindungan finansial. Asuransi kesehatan, kendaraan, dan lainnya berfungsi sebagai mekanisme berbagi risiko (risk sharing), sehingga beban keuangan dapat ditekan ketika terjadi hal tak terduga.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>“Jika ada peristiwa risiko, seseorang ditanggung hingga persentase tertentu, misalnya sampai 80 persen. Jadi, ini merupakan suatu praktik yang lumrah dan penting,” ungkapnya.</p>
<p>Eddy juga mengingatkan bahwa kondisi global saat ini berada dalam situasi penuh ketidakpastian atau dikenal sebagai VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous). Oleh sebab itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam mengelola keuangan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun usaha, dengan memastikan pengeluaran tidak melebihi pendapatan kecuali untuk investasi.</p>
<p>Ia juga menyarankan agar strategi investasi saat ini lebih fleksibel dan tidak semata berorientasi jangka panjang, mengingat perubahan ekonomi dan instrumen investasi yang sangat cepat. Fokus sebaiknya diarahkan pada kebutuhan yang bersifat penting dan strategis. “Pupuk persatuan di dalam komunitas, kurangi perdebatan atau konflik yang tidak konstruktif,” pesannya.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/04/08/jangan-sampai-boncos-ini-batas-aman-utang-dan-tabungan-menurut-pakar/">Jangan Sampai Boncos! Ini Batas Aman Utang dan Tabungan Menurut Pakar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/04/08/jangan-sampai-boncos-ini-batas-aman-utang-dan-tabungan-menurut-pakar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gen Z dan Milenial Wajib Tahu! Ini Cara Biar Pensiun Nggak Susah</title>
		<link>https://katafoto.id/2026/03/26/gen-z-dan-milenial-wajib-tahu-ini-cara-biar-pensiun-nggak-susah/</link>
					<comments>https://katafoto.id/2026/03/26/gen-z-dan-milenial-wajib-tahu-ini-cara-biar-pensiun-nggak-susah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2026 12:25:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEUANGAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bank DBS Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Dana Pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup Hemat]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi pemula]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Milenial]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Reksa Dana]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[tips finansial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://katafoto.id/?p=15702</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Generasi Z dan milenial yang tengah berada di masa produktif kerap memprioritaskan kebutuhan saat ini, mulai dari mengejar passion, meningkatkan penghasilan, hingga menikmati gaya hidup. Namun di tengah itu semua, ada hal krusial yang tak boleh diabaikan sejak dini, yakni pengelolaan keuangan untuk mempersiapkan masa pensiun agar tetap aman dan mandiri secara finansial. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/26/gen-z-dan-milenial-wajib-tahu-ini-cara-biar-pensiun-nggak-susah/">Gen Z dan Milenial Wajib Tahu! Ini Cara Biar Pensiun Nggak Susah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta</b> &#8211; Generasi Z dan milenial yang tengah berada di masa produktif kerap memprioritaskan kebutuhan saat ini, mulai dari mengejar passion, meningkatkan penghasilan, hingga menikmati gaya hidup. Namun di tengah itu semua, ada hal krusial yang tak boleh diabaikan sejak dini, yakni pengelolaan keuangan untuk mempersiapkan masa pensiun agar tetap aman dan mandiri secara finansial.</p>
<p>Persiapan ini menjadi semakin penting seiring proyeksi Indonesia yang akan memasuki fase populasi menua dalam dua dekade mendatang. Artinya, generasi muda perlu mulai merencanakan pensiun lebih awal agar tidak mengalami kesulitan di masa depan.</p>
<p>Sayangnya, perencanaan pensiun belum menjadi fokus utama. Riset Bank DBS Indonesia bertajuk “Ageing Society 2025” menunjukkan bahwa 19 persen responden usia 22–27 tahun (Gen Z) di Asia Tenggara mengaku belum berkomitmen menabung untuk masa tua. Angka yang sama juga ditemukan pada kelompok usia 28–43 tahun (milenial), menandakan rendahnya komitmen terhadap persiapan pensiun di kedua generasi tersebut.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, sekitar 100 juta orang diperkirakan belum memiliki tabungan pensiun pada 2038. Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kebiasaan menabung, dengan rata-rata masyarakat hanya menyisihkan sekitar 3 persen pendapatan—jauh di bawah rekomendasi ideal minimal 10 persen untuk mencapai kemandirian finansial. Tanpa perencanaan matang, risiko kesulitan finansial di masa pensiun pun semakin besar, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga biaya kesehatan.</p>
<p>Agar tidak menyesal di kemudian hari, berikut sejumlah tips dari Bank DBS Indonesia untuk menyiapkan masa pensiun yang lebih aman dan nyaman:</p>
<p><b>Mulai Menabung Sejak Dini</b></p>
<p>Keunggulan terbesar generasi muda adalah waktu. Dengan jangka investasi yang panjang, bahkan dana kecil yang diinvestasikan secara rutin bisa berkembang signifikan berkat efek compounding—yakni keuntungan yang terus bertambah seiring waktu. Sebaliknya, menunda justru membuat target dana pensiun semakin berat.</p>
<p><b>Hitung Kebutuhan Pensiun Secara Menyeluruh</b></p>
<p>Perencanaan pensiun tidak cukup hanya mencakup kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggal. Aktivitas seperti olahraga, traveling, hingga menjaga relasi sosial juga perlu diperhitungkan agar kualitas hidup tetap terjaga.</p>
<p>Untuk mempermudah, tersedia Retirement Goal Calculator dari Bank DBS Indonesia yang membantu menghitung kebutuhan dana pensiun secara lebih komprehensif, termasuk aspek gaya hidup.</p>
<p><b>Susun Anggaran Bulanan yang Realistis</b></p>
<p>Mengelola keuangan dengan disiplin bisa dimulai dari penyusunan anggaran. Metode 50-30-20 dapat menjadi acuan: 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan pribadi, dan 20 persen untuk tabungan serta investasi.</p>
<p><b>Tentukan Strategi Investasi Sesuai Fase Hidup</b></p>
<p>Setiap fase kehidupan membutuhkan strategi investasi yang berbeda. Milenial umumnya dapat menyeimbangkan antara pertumbuhan dan stabilitas, sementara generasi yang lebih muda bisa memulai dari instrumen berisiko rendah seperti obligasi ritel atau reksa dana pendapatan tetap.</p>
<p><b>Pahami Siklus Ekonomi</b></p>
<p>Perencanaan pensiun tidak lepas dari dinamika ekonomi. Memahami siklus ekonomi membantu dalam menentukan strategi investasi yang tepat, baik saat kondisi pasar sedang tumbuh maupun melambat. Evaluasi portofolio secara rutin juga penting agar tetap sesuai dengan target jangka panjang.</p>
<p>Pada akhirnya, mempersiapkan dana pensiun tidak harus rumit. Kunci utamanya adalah konsistensi dan disiplin sejak awal. Generasi muda dapat memulai dari langkah kecil, sambil memanfaatkan berbagai alat bantu perencanaan keuangan yang tersedia.</p>
<p>“Bagi generasi yang baru memulai, instrumen yang terdiversifikasi seperti reksa dana dapat menjadi langkah awal yang relatif mudah karena membantu mengelola risiko sekaligus memberikan potensi imbal hasil yang optimal. Sebagai mitra tepercaya, Bank DBS Indonesia hadir bagi seluruh kelompok usia untuk membantu mempersiapkan dan mengembangkan keuangan jangka panjang. Sebab mempersiapkan masa pensiun bukan sekadar menabung, tetapi memahami strategi sejak dini serta menjalankannya dengan disiplin dan konsisten,” ujar Head of Market Intelligence, Consumer Banking Group, PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry.</p>
<p>Artikel <a href="https://katafoto.id/2026/03/26/gen-z-dan-milenial-wajib-tahu-ini-cara-biar-pensiun-nggak-susah/">Gen Z dan Milenial Wajib Tahu! Ini Cara Biar Pensiun Nggak Susah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://katafoto.id">Katafoto.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://katafoto.id/2026/03/26/gen-z-dan-milenial-wajib-tahu-ini-cara-biar-pensiun-nggak-susah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
