26.9 C
Jakarta
Selasa, Maret 10, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPBUKU dan HOBIIsu Kesehatan Mental di Balik Novel “Residu yang Bersemayam” Karya Ega Mpokgaga

Isu Kesehatan Mental di Balik Novel “Residu yang Bersemayam” Karya Ega Mpokgaga

Jakarta – Semesta Amigdala yang sebelumnya diperkenalkan melalui buku Perjalanan Merepresi Memori, karya terbaru berjudul Residu yang Bersemayam kembali menegaskan posisi Ega Mpokgaga sebagai penulis yang konsisten mengangkat isu kesehatan mental dalam ranah sastra populer Indonesia.

Melalui novel keduanya ini, Ega tidak hanya menyajikan kelanjutan kisah Ishtar Mahendra Sumoprawiro, tetapi juga melakukan eksplorasi mendalam tentang bagaimana masa lalu meninggalkan jejak emosional dalam kehidupan seseorang.

Istilah residu digunakan Ega untuk menggambarkan emosi yang bertahan dan sulit dilepaskan, mulai dari rasa bersalah, ketakutan, hingga keraguan pada diri sendiri. Hal-hal inilah yang kerap menghalangi seseorang dalam membangun hubungan sehat, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Isu Kesehatan Mental di Balik Novel “Residu yang Bersemayam” Karya Ega Mpokgaga
Penulis Ega Mpokgaga menunjukkan buku Karya terbaru berjudul Residu yang Bersemayam. (katafoto/HO/Muhamad Ihsan)

“Banyak dari kita masih terus berhadapan dengan perasaan yang belum selesai. Dalam buku kedua ini, semesta Amigdala mencoba menunjukkan bagaimana para tokoh berusaha keluar dari kubangan residu yang menghambat perjalanan hidup mereka,” ungkap Ega Mpokgaga dikutip dari laman storybeauty

Cerita dalam Residu yang Bersemayam bergerak dinamis, menyatukan perjalanan fisik dan batin. Ishtar tidak hanya berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi juga menyelami lapisan emosi yang semakin kompleks. Pertemuan dengan berbagai karakter baru pun menjadi pemicu refleksi dan konfrontasi emosional, menggambarkan bahwa proses penyembuhan tidak pernah berlangsung lurus atau mudah.

Meski berbentuk fiksi, Ega menegaskan bahwa ia selalu memasukkan dinamika psikologis yang autentik. Hal ini ia peroleh dari pengalaman pribadi serta pengamatan mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya, sehingga banyak pembaca merasa dekat secara emosional dengan tokoh-tokoh dalam ceritanya.

“Tema besar yang diangkat sangat lekat dengan pengalaman banyak orang. Tak jarang, pembaca merasa seolah sedang bercermin pada kehidupan mereka sendiri saat menyelami kisah ini,” tambahnya.

Saat ini, Residu yang Bersemayam sudah tersedia dalam bentuk fisik dan bisa diperoleh secara daring. Buku ini menjadi jembatan penting sebelum memasuki babak penutup semesta Amigdala melalui novel ketiga yang tengah dipersiapkan.

Baca Juga

Siap Mudik Lebaran? Volkswagen Tawarkan Inspeksi Gratis dan Bengkel Siaga

Jakarta - Mudik lebaran merupakan tradisi tahunan yang memiliki...

Siap Mudik Lewat Laut? 841 Kapal Disiagakan untuk Lebaran 2026

Jakarta - Kementerian Perhubungan menyiapkan sebanyak 841 kapal dengan...

PLN Group Tunjukkan Taring di Malaysia, Proyek Kereta Listrik Rampung Lebih Awal

Jakarta - Subholding PT PLN Nusantara Power (PLN NP)...

Menag Soroti Kualitas Speaker di Masjid, ITS Tawarkan Bantuan Teknologi

Surabaya -  Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti kualitas pengeras...

Kajian Ungkap Dampak Tarif Resiprokal AS terhadap Ekonomi Indonesia

Jakarta - Kebijakan tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini