28.3 C
Jakarta
Jumat, Januari 23, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPBUKU dan HOBIIsu Kesehatan Mental di Balik Novel “Residu yang Bersemayam” Karya Ega Mpokgaga

Isu Kesehatan Mental di Balik Novel “Residu yang Bersemayam” Karya Ega Mpokgaga

Jakarta – Semesta Amigdala yang sebelumnya diperkenalkan melalui buku Perjalanan Merepresi Memori, karya terbaru berjudul Residu yang Bersemayam kembali menegaskan posisi Ega Mpokgaga sebagai penulis yang konsisten mengangkat isu kesehatan mental dalam ranah sastra populer Indonesia.

Melalui novel keduanya ini, Ega tidak hanya menyajikan kelanjutan kisah Ishtar Mahendra Sumoprawiro, tetapi juga melakukan eksplorasi mendalam tentang bagaimana masa lalu meninggalkan jejak emosional dalam kehidupan seseorang.

Istilah residu digunakan Ega untuk menggambarkan emosi yang bertahan dan sulit dilepaskan, mulai dari rasa bersalah, ketakutan, hingga keraguan pada diri sendiri. Hal-hal inilah yang kerap menghalangi seseorang dalam membangun hubungan sehat, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Isu Kesehatan Mental di Balik Novel “Residu yang Bersemayam” Karya Ega Mpokgaga
Penulis Ega Mpokgaga menunjukkan buku Karya terbaru berjudul Residu yang Bersemayam. (katafoto/HO/Muhamad Ihsan)

“Banyak dari kita masih terus berhadapan dengan perasaan yang belum selesai. Dalam buku kedua ini, semesta Amigdala mencoba menunjukkan bagaimana para tokoh berusaha keluar dari kubangan residu yang menghambat perjalanan hidup mereka,” ungkap Ega Mpokgaga dikutip dari laman storybeauty

Cerita dalam Residu yang Bersemayam bergerak dinamis, menyatukan perjalanan fisik dan batin. Ishtar tidak hanya berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi juga menyelami lapisan emosi yang semakin kompleks. Pertemuan dengan berbagai karakter baru pun menjadi pemicu refleksi dan konfrontasi emosional, menggambarkan bahwa proses penyembuhan tidak pernah berlangsung lurus atau mudah.

Meski berbentuk fiksi, Ega menegaskan bahwa ia selalu memasukkan dinamika psikologis yang autentik. Hal ini ia peroleh dari pengalaman pribadi serta pengamatan mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya, sehingga banyak pembaca merasa dekat secara emosional dengan tokoh-tokoh dalam ceritanya.

“Tema besar yang diangkat sangat lekat dengan pengalaman banyak orang. Tak jarang, pembaca merasa seolah sedang bercermin pada kehidupan mereka sendiri saat menyelami kisah ini,” tambahnya.

Saat ini, Residu yang Bersemayam sudah tersedia dalam bentuk fisik dan bisa diperoleh secara daring. Buku ini menjadi jembatan penting sebelum memasuki babak penutup semesta Amigdala melalui novel ketiga yang tengah dipersiapkan.

Baca Juga

Transparansi Polisi Diperkuat, Polres Sumenep Jalani Asistensi LHKPN

Sumenep - Komitmen untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas di...

Promo Isra Miraj Diserbu, Kereta Whoosh Dipadati Penumpang dari Halim

Jakarta - PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat...

Keliling Candi Prambanan Makin Asyik, Ada Golf Car hingga Ninebot

Menikmati kawasan Candi Prambanan tidak melulu harus dilakukan dengan...

Trofi Piala Dunia FIFA 2026 Mendarat di Indonesia

Jakarta - Coca-Cola Indonesia mengajak pecinta sepak bola di...

Bukan Sekadar Estetika, Ini Alasan Baja Jadi Masa Depan Arsitektur Indonesia

Jakarta - Indonesia yang berada di jalur Cincin Api...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini