25.8 C
Jakarta
Jumat, Januari 9, 2026
BerandaKATA TEKNOTEKNEWSKetika Para Santri Belajar Etika Digital Lewat Wayang Golek

Ketika Para Santri Belajar Etika Digital Lewat Wayang Golek

Yogyakarta – Suasana Pondok Pesantren Assalafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, dipenuhi keceriaan para santri yang bermain congklak, beradu keseimbangan di atas enggrang, hingga menikmati pertunjukan wayang golek. Di tengah suasana penuh tawa itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) hadir dengan misi penting: membentuk generasi santri yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga beretika di dunia maya, melalui kegiatan “Sahabat Tunas: Bersama Menjaga Ruang Digital Ramah Anak.”

Program ini digagas oleh Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kemkomdigi sebagai bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau dikenal dengan PP Tunas. Inisiatif ini bertujuan memperkuat literasi digital anak agar mampu menggunakan teknologi secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Direktur Jenderal KPM Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan bahwa literasi digital tidak sekadar kemampuan teknis menggunakan gawai atau internet.

“Melalui Sahabat Tunas, kami mengajak anak-anak memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Peran orang tua juga sangat penting dalam mendampingi serta mengawasi aktivitas daring anak-anaknya,” ujarnya dalam kegiatan di Yogyakarta, Jumat (7/11).

Fifi menambahkan, pendampingan terhadap anak di dunia digital harus dilakukan secara seimbang. Anak perlu memahami batasan konten yang layak diakses, mampu mengatur waktu antara belajar dan bermain, serta tetap aktif berinteraksi di dunia nyata.

Pesan literasi digital tersebut disampaikan dengan pendekatan budaya yang menarik. Dalang cilik Adimas Alby Elsani Widyaputra menampilkan lakon wayang golek interaktif yang mengangkat tema etika di ruang digital. Melalui tokoh-tokoh pewayangan, Adimas menggambarkan bagaimana PP Tunas menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi anak-anak dari paparan konten berisiko dan perilaku negatif di internet.

Selain pertunjukan wayang, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 siswa SD dan MTs yang turut menampilkan seni silat, permainan tradisional, hingga pameran aplikasi dan gim karya santri. Beragam aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Sahabat Tunas tidak hanya berfokus pada dunia digital, tetapi juga mendorong anak untuk tetap kreatif dan produktif di luar layar.

Baca Juga

Pakar UGM Sebut: Pembukaan Lahan di Hulu DAS Picu Banjir Bandang Sumatra

Yogyakarta - Indikasi pembukaan lahan ditemukan di kawasan hulu...

Ibu Pegang Peran Krusial Keuangan Keluarga, Tapi Rentan Terjebak Pinjol

Jakarta - Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa...

UMK Wajib Tahu, BPJPH Siapkan 1,35 Juta Sertifikat Halal Gratis

Jakarta - Kabar baik datang di awal 2026 bagi...

Kualitas Hidup Warga Meningkat, IPM Kota Tangerang Capai 82,41

Tangerang - Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tangerang menunjukkan...

Jaga Daya Beli, Tarif Listrik Non-Subsidi Triwulan I Tak Berubah

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini