Jakarta – Bencana alam dan kondisi darurat kerap memberi dampak besar bagi bayi dan balita. Perubahan situasi yang mendadak, hilangnya rutinitas harian, serta tekanan psikologis dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun emosional anak.
Pada banyak kasus, kondisi tersebut terlihat dari munculnya tanda-tanda stres, kemunduran perilaku seperti menjadi lebih rewel atau sulit ditinggal, hingga gangguan tidur. Anak bisa mengalami kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, atau mengalami mimpi buruk. Padahal, tidur memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang serta pemulihan fisik dan mental anak, terutama di masa krisis.
Melansir dari laman ayosehat kemkes, gangguan tidur pada anak pascabencana umumnya dipicu oleh gabungan berbagai faktor, antara lain:
Faktor emosional
Anak dapat merasakan ketakutan, kebingungan, hingga rasa kehilangan akibat perubahan besar di sekitarnya. Pengalaman traumatis, kecemasan saat berpisah dengan orang tua, serta perasaan tidak aman membuat anak sulit merasa rileks sehingga susah terlelap.
Faktor lingkungan
Tempat pengungsian atau hunian sementara sering kali tidak kondusif untuk tidur. Kondisi yang bising, padat, pencahayaan berlebih, suhu yang tidak stabil, serta keterbatasan kebersihan dapat mengurangi kenyamanan anak saat beristirahat.
Faktor fisik
Kelelahan, asupan makan dan minum yang tidak optimal, kondisi tubuh yang kurang fit, hingga gangguan seperti gigitan serangga juga dapat membuat anak sulit mendapatkan tidur yang berkualitas.
Faktor sosial
Anak sangat sensitif terhadap emosi orang dewasa di sekitarnya. Ketika orang tua atau pengasuh tampak cemas, stres, atau sering membicarakan hal-hal traumatis, kecemasan tersebut dapat menular dan memengaruhi pola tidur anak.
Peran Penting Tidur di Masa Darurat
Dalam situasi darurat, tidur memiliki fungsi yang sangat vital. Tidur membantu memulihkan tubuh dari kelelahan dan tekanan berkepanjangan, mendukung pengaturan emosi, serta menjaga daya tahan tubuh anak tetap optimal.
Tidur yang cukup juga membantu anak memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik. Anak cenderung menjadi lebih tenang, responsif, dan mampu menghadapi perubahan dengan lebih stabil secara emosional.
Cara Menjaga Kualitas Tidur Anak Pascabencana
1. Menumbuhkan rasa aman
Kehadiran orang tua atau pengasuh yang sigap dan penuh empati sangat berpengaruh. Dengarkan keluhan anak, akui perasaannya, dan yakinkan bahwa ia berada dalam kondisi aman. Sentuhan fisik seperti memeluk atau menemani anak hingga tertidur dapat membantu menurunkan ketegangan dan memudahkan anak untuk rileks.
2. Membuat area tidur sederhana namun konsisten
Meski dalam keterbatasan, usahakan anak tidur di tempat yang sama setiap malam, termasuk di pengungsian. Gunakan alas tidur yang familiar, seperti selimut atau tikar yang sama, agar anak merasa lebih nyaman. Jika memungkinkan, ciptakan batas ruang sederhana menggunakan tas, bantal, atau kain untuk memberi kesan ruang pribadi dan mengurangi gangguan cahaya maupun aktivitas sekitar.
3. Menjaga rutinitas sebelum tidur
Rutinitas ringan seperti membersihkan tubuh, berganti pakaian, berdoa, atau membacakan cerita singkat dapat menjadi sinyal bahwa waktu tidur telah tiba. Konsistensi rutinitas ini membantu tubuh dan pikiran anak lebih siap untuk beristirahat, meskipun kondisi sedang tidak ideal.
4. Mengupayakan kenyamanan fisik anak
Sesuaikan pakaian agar anak tidak kedinginan atau kepanasan. Jika mandi sulit dilakukan, bersihkan bagian tubuh penting seperti wajah, leher, ketiak, dan kaki dengan kain atau tisu basah agar anak merasa lebih segar. Hindari memberi makanan berat atau minuman manis menjelang tidur supaya tubuh anak lebih siap untuk beristirahat.
5. Menjaga aktivitas dan jadwal tidur
Ajak anak bergerak dan bermain ringan di siang hari agar energinya tersalurkan. Aktivitas sederhana, seperti berjalan santai di area yang aman, dapat membantu anak tidur lebih nyenyak di malam hari. Beri juga ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi melalui menggambar, bercerita, atau bermain peran. Usahakan jam tidur dan bangun tetap relatif konsisten untuk menjaga ritme biologis anak.
6. Mengelola stres orang tua
Anak, termasuk bayi dan balita, sangat peka terhadap kondisi emosional orang tuanya. Nada bicara, ekspresi wajah, dan sikap orang tua yang tegang dapat membuat anak ikut cemas dan sulit tidur. Karena itu, orang tua disarankan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mendampingi anak, misalnya dengan bernapas dalam dan berbicara dengan suara lembut.
Untuk anak yang lebih besar, batasi paparan terhadap berita atau percakapan yang bernuansa traumatis. Diskusi mengenai kondisi darurat sebaiknya dilakukan jauh dari anak agar tidak menambah beban kecemasannya.

