Padang – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengimbau masyarakat agar tidak memanfaatkan air yang menggenang di dalam lubang tanah atau sinkhole yang muncul di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Air tersebut dinilai tidak memenuhi standar kelayakan untuk dikonsumsi.
Imbauan ini disampaikan Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi bersama Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota dan instansi terkait, Minggu (11/1).
“Dari hasil pengukuran, nilai pH air berada di bawah 6,5. Jadi sebaiknya tidak diminum. Secara umum kondisinya mirip air sungai,” ujar Vasko kepada warga setempat.
Ia menjelaskan, kajian awal yang dilakukan Badan Geologi serta pemeriksaan dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa air di dalam sinkhole mengandung bakteri dalam jumlah cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi secara langsung.
Vasko juga menegaskan bahwa fenomena amblasnya tanah tersebut murni merupakan proses alam dan tidak berkaitan dengan unsur mistis maupun klaim khasiat penyembuhan.
“Tidak benar jika air ini diklaim bisa menyembuhkan penyakit atau bermanfaat untuk kesehatan,” tegasnya.
Selain larangan konsumsi air, Pemprov Sumbar meminta masyarakat mematuhi zona pengamanan di sekitar lokasi kejadian. Untuk sementara, batas aman ditetapkan minimal 50 meter dari bibir lubang, mengingat kondisi tanah masih labil dan berpotensi mengalami amblasan lanjutan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan cepat, kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) secara kimia masih berada dalam ambang batas aman. Namun, tingginya kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) menjadi alasan utama air tersebut tidak layak dikonsumsi tanpa pengolahan. Jika terpaksa digunakan, air harus dimasak terlebih dahulu.
Saat ini, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar bersama Badan Geologi masih melakukan kajian lanjutan. Hasil analisis tersebut akan menjadi dasar rekomendasi teknis yang disampaikan kepada Bupati Limapuluh Kota untuk menentukan langkah pengamanan dan kebijakan selanjutnya.
Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, menyampaikan bahwa Badan Geologi telah melakukan observasi lapangan selama beberapa hari terakhir. Namun, penelitian lanjutan masih membutuhkan peralatan tambahan serta dukungan logistik guna memastikan penyebab amblasan secara komprehensif.
Diketahui, fenomena sinkhole tersebut terjadi secara mendadak pada Minggu (4/1/2025) siang di lahan persawahan milik warga bernama Adrolmios (61). Peristiwa itu diawali dengan suara gemuruh sebelum tanah amblas dan membentuk lubang berisi air dengan kedalaman diperkirakan mencapai 20 meter.
Sebagai langkah pencegahan, aparat kepolisian bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota telah memasang garis pembatas di sekitar lokasi. Pengamanan tetap diberlakukan karena masih terdengar suara dari dalam lubang yang mengindikasikan potensi longsor susulan.

