24 C
Jakarta
Jumat, Januari 23, 2026
BerandaKATA EKBISKEUANGANPensiun Tak Lagi Menakutkan, Ini Cara DBS Siapkan Masa Tua dengan Percaya...

Pensiun Tak Lagi Menakutkan, Ini Cara DBS Siapkan Masa Tua dengan Percaya Diri

Jakarta – Fenomena penuaan penduduk kini menjadi tantangan serius di kawasan Asia. Indonesia, yang masih berada pada tahap awal kesiapan menghadapi masa pensiun, dihadapkan pada laju perubahan demografi yang semakin cepat. Menyadari situasi tersebut, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat menyiapkan masa depan sejak dini agar dapat menjalani masa pensiun yang sejahtera, berkualitas, dan penuh makna.

Kebutuhan akan persiapan ini semakin mendesak seiring proyeksi perubahan struktur penduduk Indonesia dalam 20 tahun mendatang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2035, lebih dari 14 persen penduduk Indonesia diperkirakan berusia di atas 60 tahun. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 20 persen atau setara 63 juta jiwa pada 2045.

Tren ini menandai berakhirnya fase bonus demografi dan menguatkan urgensi pembangunan ekosistem, kebijakan, serta infrastruktur yang mampu mendukung proses penuaan secara sehat, inklusif, dan produktif. Dengan dukungan yang tepat, kelompok lanjut usia tetap dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Sejalan dengan visi “Best Bank for a Better World”, DBS Foundation menjadikan isu ageing society sebagai salah satu fokus utamanya. Pendekatan ini dilandasi keyakinan bahwa meningkatnya usia harapan hidup harus dibarengi dengan kualitas hidup yang baik, sehingga setiap individu dapat menjalani masa tua secara bermartabat, berdaya, dan bermakna.

Pensiun Tak Lagi Menakutkan, Ini Cara DBS Siapkan Masa Tua dengan Percaya Diri
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika memberikan sambutan pada peluncuran kampanye “Pensiun Gak Susah” di Jakarta, (19/1/2026). (katafoto/Fery Pradolo)

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menegaskan bahwa perubahan demografi menuntut cara pandang baru dalam mempersiapkan masa depan. Menurutnya, pensiun tidak lagi dapat diposisikan sebagai fase akhir yang baru dipikirkan menjelang usia lanjut, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan. Sebagai bank yang berlandaskan purpose, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendukung masyarakat usia lanjut melalui penyediaan panduan dan wawasan komprehensif untuk perencanaan pensiun yang holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap tahap usia.

Sebagai bagian dari kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculatorsebagai alat bantu awal bagi masyarakat dalam menyusun rencana pensiun secara lebih terarah. Fitur ini dirancang untuk membantu individu memahami proyeksi kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga untuk mempertahankan gaya hidup yang diinginkan saat memasuki usia pensiun. Sejalan dengan semangat “Live more, Bank less”, inisiatif ini mencerminkan komitmen Bank DBS Indonesia dalam menyederhanakan perencanaan keuangan yang kerap terasa rumit, sehingga masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup dan menatap masa depan dengan rasa tenang serta percaya diri.

Founder & CEO sekaligus Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, menyoroti kecenderungan banyak orang yang menunda perencanaan pensiun sambil menunggu kondisi ideal, seperti penghasilan stabil atau tanggungan yang berkurang. Padahal, menurutnya, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan konsistensi.

Pensiun Tak Lagi Menakutkan, Ini Cara DBS Siapkan Masa Tua dengan Percaya Diri
(Ki-Ka) Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo, Lead Financial Trainer QM Financial Ligwina Hananto, dan Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika dalam acara peluncuran kampanye “Pensiun Gak Susah” di Jakarta, (19/1/2026). (katafoto/Fery Pradolo)

Baik dimulai sejak usia 20-an maupun 40-an, keputusan terpenting adalah memulai sekarang dengan strategi yang relevan dan adaptif terhadap kondisi saat ini. Salah satu pendekatan praktis yang dapat diterapkan adalah formula pengelolaan keuangan 10/20/30/40, yakni minimal 10 persen pendapatan dialokasikan untuk tabungan atau investasi, maksimal 20 persen untuk gaya hidup, maksimal 30 persen untuk cicilan, dan sisanya 40 persen untuk kebutuhan rutin.

Silver Economy di Titik Emas

Masa pensiun merupakan fase kehidupan di mana rasa aman, ketenangan, dan kualitas hidup menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, perencanaan yang matang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan dana, tetapi juga pada perlindungan yang memadai di tengah meningkatnya ketidakpastian hidup.

Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menyampaikan bahwa kombinasi investasi yang tepat dan perlindungan melalui asuransi memungkinkan nasabah menjaga daya beli dan aset, sekaligus memperoleh ketenangan pikiran dan kemandirian di usia lanjut. Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun.

Pensiun Tak Lagi Menakutkan, Ini Cara DBS Siapkan Masa Tua dengan Percaya Diri
Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo, Lead Financial Trainer QM Financial Ligwina Hananto, dan Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika dalam sesi diskusi pada acara peluncuran kampanye “Pensiun Gak Susah” di Jakarta, (19/1/2026). (katafoto/Fery Pradolo)

Urgensi perencanaan pensiun juga tercermin dari dinamika global. Temuan dalam laporan CIO Insights bertajuk “Ekonomi Umur Panjang” mencatat bahwa usia harapan hidup manusia meningkat signifikan, dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini. Peningkatan ini mendorong lonjakan kebutuhan layanan kesehatan serta sistem pensiun yang lebih kuat dan berkelanjutan. Di sisi lain, tren tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan silver economy, yakni aktivitas ekonomi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan sekaligus pemberdayaan kelompok lansia.

Ekosistem ekonomi lansia mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, dan transportasi, hingga teknologi dan gaya hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup usia lanjut. Dengan dukungan kemajuan teknologi medis, meningkatnya aliran investasi, serta tren penuaan penduduk yang kian nyata, silver economy kini berada pada titik emas. Berpotensi bernilai triliunan dolar, sektor ini menawarkan peluang investasi yang semakin strategis, relevan, dan menjanjikan di masa depan.

Baca Juga

Kota Tua Jakarta Diserbu 2,4 Juta Pengunjung Sepanjang 2025

Jakarta - Kawasan Kota Tua Jakarta mencatat tingkat kunjungan...

Pesisir Muara Baru Dikepung Sampah, DLH DKI Angkut 137 Ton dalam Tiga Hari

Jakarta - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui...

Intip Sirkuit All-Terrain BYD, Mobil Listrik Diuji Ditanjakan hingga Pasir

Build Your Dreams (BYD), menghadirkan pengalaman berkendara yang menantang...

Sumbang 14 Persen Investasi Nasional, Ekonomi Jakarta Tetap Ngebut di 2025

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan kinerja...

Ubah Masa Depan Kendaraan Listrik, Pabrik Baterai Raksasa Siap Dibangun di Karawang

Jakarta - MIND ID melalui perusahaan patungannya, PT Contemporary...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini