Jakarta – PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kawasan Manggarai sebagai pusat integrasi transportasi antarmoda yang strategis.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembangunan Stasiun LRT Jakarta Fase 1B lintas Velodrome–Manggarai. Proyek ini menjadi bagian dari dukungan Jakpro terhadap program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjadikan Manggarai sebagai simpul transportasi terpadu yang mendukung mobilitas warga secara efisien.
Stasiun Manggarai LRT Jakarta dirancang terhubung langsung dengan sejumlah moda transportasi utama, seperti KRL Commuter Line, Kereta Api Bandara, serta layanan Transjakarta. Integrasi ini diharapkan dapat menghadirkan perpindahan antarmoda yang lebih praktis, cepat, dan nyaman bagi pengguna transportasi publik.
Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro, Dian Takdir, menyampaikan bahwa pengembangan kawasan Manggarai tidak hanya berorientasi pada pembangunan sarana transportasi, tetapi juga mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD) yang terintegrasi, inklusif, serta berfokus pada peningkatan aktivitas dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, kehadiran Stasiun Manggarai LRT Jakarta diyakini akan memberikan manfaat langsung bagi warga di sekitarnya.
“Melalui integrasi antarmoda ini, kami berharap mobilitas masyarakat semakin mudah dan pada saat yang sama mampu mendorong peningkatan aktivitas serta nilai ekonomi warga Manggarai dan sekitarnya,” ujar Dian dikutip dari laman berita jakarta, Senin (9/2).
Dian juga mengungkapkan bahwa pada Desember 2025, Jakpro telah melakukan penjajakan kerja sama dengan PT Pasaraya Tosersajaya sebagai bagian dari pengembangan kawasan berbasis TOD. Saat ini, proses tersebut masih berada pada tahap awal, meliputi pemetaan potensi, penyusunan kajian, serta perumusan skema kolaborasi yang paling optimal.
“Sejalan dengan arah pembangunan di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, pengembangan Stasiun Manggarai LRT Jakarta menjadi bagian dari upaya mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang terkoneksi, berkelanjutan, dan inklusif, serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat,” jelasnya.
Integrasi antarmoda tersebut diharapkan mampu mendorong pergerakan masyarakat sekaligus mengoptimalkan aktivitas ekonomi lokal.
“Akses yang semakin baik diyakini dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat nilai ekonomi kawasan Manggarai tanpa menghilangkan karakter sosial dan aktivitas warganya,” tandas Dian.
Selain mendukung mobilitas perkotaan, LRT Jakarta yang beroperasi menggunakan tenaga listrik juga berkontribusi terhadap agenda pengurangan emisi karbon di wilayah perkotaan.
Secara kumulatif, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diproyeksikan mampu menekan emisi hingga 2.927.250 ton CO2e, seiring berkurangnya emisi karbon per penumpang per kilometer dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi.

