Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan keseriusannya dalam menanggulangi persoalan polusi udara yang hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi ibu kota.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Townhall Meeting yang membahas isu serta langkah penanganan polusi udara di Melting Pop, M Bloc, Kebayoran Baru, Selasa (10/2). Dalam kesempatan itu, Pramono menyebut sejumlah persoalan Jakarta seperti banjir dan pengelolaan sampah mulai menunjukkan perbaikan, namun kualitas udara masih membutuhkan penanganan lebih intensif.
Ia mengakui, masalah polusi merupakan persoalan lama yang belum tertangani secara optimal. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan tiga strategi utama untuk memperbaiki kualitas udara.
Langkah pertama adalah memperluas cakupan layanan Transjabodetabek guna menekan penggunaan kendaraan pribadi. Beberapa rute yang telah beroperasi antara lain Blok M–Alam Sutera dan Blok M–PIK 2, serta rencana pembukaan jalur baru Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Pramono juga mengajak masyarakat beralih ke transportasi umum yang telah disediakan. Pemprov DKI bahkan telah menerapkan kebijakan tarif gratis bagi 15 kelompok masyarakat tertentu. Saat ini, tingkat konektivitas transportasi di Jakarta telah mencapai 92 persen, menempatkannya di peringkat ke-17 dunia dan kedua di ASEAN setelah Singapura.
Ia menambahkan, sektor transportasi menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Jakarta. Untuk itu, Pemprov menargetkan pengoperasian 10.000 unit bus listrik Transjakarta pada 2030 sebagai upaya signifikan menekan emisi.
Di samping pembenahan transportasi, pengelolaan sampah juga menjadi fokus. Pemprov mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis ITF (Intermediate Treatment Facility) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini.
Menurut Pramono, jika seluruh langkah tersebut berjalan sesuai rencana, kontribusi emisi di Jakarta dapat ditekan secara signifikan.

