27.8 C
Jakarta
Senin, Februari 16, 2026
BerandaKATA BERITANASIONALBRIN Temukan 51 Spesies Baru, KOBI Satukan Data Keanekaragaman Hayati

BRIN Temukan 51 Spesies Baru, KOBI Satukan Data Keanekaragaman Hayati

Yogyakarta – Sepanjang 2025, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat keberhasilan mengidentifikasi 51 spesies baru. Temuan tersebut meliputi 32 fauna, 16 flora, serta tiga mikroba. Dari jumlah itu, 49 spesies ditemukan di Indonesia, sementara satu mikroalga berasal dari Kaledonia Baru dan satu krustasea dari Vietnam.

Sebagian besar spesies yang ditemukan di Indonesia merupakan organisme endemik yang hanya hidup di habitat tertentu. Hal ini menegaskan arti penting temuan tersebut bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus penguatan konservasi. Capaian ini juga kembali mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia dengan potensi biodiversitas yang belum sepenuhnya terungkap.

Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Budi Setiadi Daryono, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, pengumpulan data primer menjadi fondasi penting dalam eksplorasi lingkungan dan perlindungan ekosistem.

“Nah ini yang membuat kita senang, bahwa penentuan spesies itu sudah semakin presisi, datanya semakin valid dan terverifikasi. Jadi sebagai orang yang berkecimpung di bidang biodiversitas, justru ini yang harus didorong oleh pemerintah melalui kegiatan-kegiatan eksplorasi,” ujarnya dikutip dari laman ugm, Jumat (13/2).

Ia menekankan, karakter endemik pada banyak spesies baru tersebut menjadikannya bernilai strategis dalam agenda konservasi nasional. Pendataan yang berkelanjutan dinilai krusial agar kekayaan hayati tidak hilang sebelum sempat teridentifikasi.

“Bahayanya kalau kita belum bisa mendata sementara ekosistemnya sudah rusak, kita tidak bisa mengetahui apakah spesies tersebut sudah punah atau belum karena kita tidak punya data,” ujarnya.

Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada ini juga menyoroti bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia tidak hanya berada di daratan, tetapi dominan di wilayah laut. Dengan luas perairan yang sangat besar, pendataan biodiversitas laut menurutnya perlu menjadi prioritas karena masih minim data dan belum tergarap optimal.

“Biodiversitas di laut adalah emas tersembunyi. Jika data sudah lengkap, harus didorong untuk konservasi berkelanjutan dan melihat potensinya yang ke depan dapat bermanfaat bagi pengembangan industri,” ujarnya.

Di tengah ancaman degradasi lingkungan, temuan 51 spesies baru menjadi kabar positif bagi riset dan pelestarian hayati. Dalam penyusunan Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI), Budi menjelaskan setidaknya dibutuhkan delapan indikator utama, seperti sensus populasi, estimasi dan kelengkapan populasi, indeks populasi, biomassa, catch per unit effort, serta indikator pendukung lainnya.

“Data tersebut digunakan untuk melihat status spesies, apakah terancam atau sudah punah. Selain itu, indeks ini juga dapat menunjukkan tren jumlah populasi sehingga dapat diketahui langkah penanganan yang tepat,” tuturnya.

Ia menambahkan, data biodiversitas sebenarnya telah tersebar di berbagai kementerian, lembaga riset, dan perguruan tinggi, namun belum terintegrasi secara menyeluruh. Kehadiran KOBI bertujuan menghimpun serta mengelola data tersebut agar menjadi indeks biodiversitas nasional yang dapat memantau kondisi dan tren keanekaragaman hayati Indonesia.

Dalam rentang 2020–2024, tercatat 16.312 data keanekaragaman hayati berhasil dihimpun, terdiri atas 1.912 famili, 4.606 genus, dan 7.904 spesies. Kolaborasi KOBI bersama UGM dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat basis data nasional.

“Data biodiversitas Indonesia itu sebenarnya sudah ada di berbagai lembaga, tetapi belum terintegrasi. Melalui KOBI bersama UGM, kita mencoba menghimpun dan mengelola data tersebut agar bisa menjadi indeks biodiversitas nasional,” ucapnya.

Budi berharap dukungan pemerintah terhadap eksplorasi dan pendataan, terutama di wilayah yang masih minim informasi seperti kawasan laut, dapat terus ditingkatkan.

“Kita berharap data-data biodiversitas yang sudah ada terus dilengkapi, baik melalui data sekunder maupun data primer dari hasil eksplorasi. Negara perlu mensupport para ilmuwan dan pemerhati lingkungan agar kekayaan hayati Indonesia dapat terungkap dan tetap terjaga,” pungkas Budi.

Baca Juga

Berdiri di Tepi Laut, Masjid Pantai Bali Tawarkan Sunset dan Miniatur Ka’bah

Bali - Pembangunan Masjid Pantai Bali di Kabupaten Jembrana...

ARTOTEL Living World Grand Wisata Jadi Destinasi Lifestyle Baru Bekasi

Bekasi - ARTOTEL Living World Grand Wisata Bekasi, hotel...

Perpustakaan Kemenag Siap Jadi Tempat Favorit Ngabuburit Produktif

Jakarta - Menjelang datangnya Ramadan, kebutuhan masyarakat terhadap referensi...

Pemprov DKI Kantongi 3.922 Sertifikat Aset, Nilainya Tembus Rp102 Triliun

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerima sebanyak...

Mentan Amran Tegas Tidak Boleh Ada Harga Naik, GPM Serentak di 1.546 titik

Jakarta - Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini