Kawasan situs arkeologi Bumiayu kini menjadi sorotan setelah ditemukannya fosil yang diperkirakan berusia sekitar 1,8 juta tahun. Temuan ini dinilai membuka peluang besar untuk menelusuri jejak kehidupan purba di wilayah Jawa bagian barat, bahkan diduga lebih tua dibandingkan temuan di Sangiran.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Herry Yogaswara, menyampaikan bahwa kawasan ini memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dari berbagai disiplin ilmu.
“Kawasan ini memiliki nilai penting dari berbagai aspek, mulai dari geologi, paleontologi, paleoantropologi, hingga arkeologi,” ungkap Herry saat pembukaan program magang Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) batch 3 di Kawasan Stasiun Lapang (KSL) Bumiayu, Rabu (1/4) lalu.
Dari hasil ekskavasi yang dilakukan, para peneliti menemukan beragam fosil hewan purba seperti gajah, kuda nil, buaya, kura-kura, ikan, hingga moluska. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini pada masa lampau merupakan lingkungan perairan dangkal yang kemudian mengalami perubahan menjadi daratan.
Selain fosil hewan, tim peneliti juga menemukan artefak berupa alat dari batu dan tulang yang diduga digunakan oleh manusia purba dalam aktivitas sehari-hari. Temuan ini semakin memperkuat dugaan adanya kehidupan manusia purba di kawasan tersebut pada masa lampau.
Melalui penguatan riset, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi dalam penyebarluasan hasil penelitian, BRIN optimistis Situs Bumiayu dapat berkembang menjadi kawasan unggulan di bidang arkeologi sekaligus destinasi edukasi yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

