28 C
Jakarta
Rabu, April 8, 2026
BerandaKATA EKBISKEUANGANJangan Sampai Boncos! Ini Batas Aman Utang dan Tabungan Menurut Pakar

Jangan Sampai Boncos! Ini Batas Aman Utang dan Tabungan Menurut Pakar

Yogyakarta – Pola konsumsi masyarakat umumnya meningkat cukup tinggi menjelang lebaran. Kondisi ini memicu lonjakan pengeluaran, mulai dari kebutuhan mudik hingga tradisi berbagi parsel. Bahkan, kebiasaan belanja kerap berlanjut setelah hari raya, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan keuangan. 

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa tingginya konsumsi tidak lepas dari euforia Lebaran. Ia menyebut, secara psikologis kebiasaan belanja bisa terus berlanjut karena suasana kebahagiaan yang masih terbawa. “Sehingga pengeluaran secara tidak tersadari mungkin akan di atas normal,” ujarnya, Selasa (7/4).

Untuk menghindari pemborosan, setiap individu perlu memiliki kesadaran atau semacam “alarm” bahwa masa perayaan telah berakhir. Dengan begitu, pengelolaan keuangan bisa kembali dilakukan secara disiplin dan terencana.

Melansir dari laman ugm, sejumlah riset menunjukkan bahwa porsi ideal untuk tabungan atau investasi berada di kisaran 10–20 persen dari pendapatan bersih (take-home pay). Sementara itu, rasio cicilan utang (debt service ratio), di luar cicilan KPR, sebaiknya tidak melampaui 35 persen dari pendapatan. “Debt service ratio adalah rasio pembayaran cicilan terhadap take-home pay,” jelasnya.

Lebih lanjut, Eddy mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mulai mengenal dan mempraktikkan investasi sejak dini. Hal ini bisa dilakukan melalui pembelajaran manajemen keuangan, teori portofolio, serta memanfaatkan berbagai platform investasi yang tersedia. Dalam praktiknya, analisis dapat dilakukan melalui pendekatan fundamental maupun teknikal.

Selain investasi, ia juga menekankan pentingnya asuransi sebagai bentuk perlindungan finansial. Asuransi kesehatan, kendaraan, dan lainnya berfungsi sebagai mekanisme berbagi risiko (risk sharing), sehingga beban keuangan dapat ditekan ketika terjadi hal tak terduga. 

“Jika ada peristiwa risiko, seseorang ditanggung hingga persentase tertentu, misalnya sampai 80 persen. Jadi, ini merupakan suatu praktik yang lumrah dan penting,” ungkapnya.

Eddy juga mengingatkan bahwa kondisi global saat ini berada dalam situasi penuh ketidakpastian atau dikenal sebagai VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous). Oleh sebab itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam mengelola keuangan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun usaha, dengan memastikan pengeluaran tidak melebihi pendapatan kecuali untuk investasi.

Ia juga menyarankan agar strategi investasi saat ini lebih fleksibel dan tidak semata berorientasi jangka panjang, mengingat perubahan ekonomi dan instrumen investasi yang sangat cepat. Fokus sebaiknya diarahkan pada kebutuhan yang bersifat penting dan strategis. “Pupuk persatuan di dalam komunitas, kurangi perdebatan atau konflik yang tidak konstruktif,” pesannya.

Baca Juga

Bahlil Buka Suara, Harga Avtur Naik Tapi Tetap Kompetitif di ASEAN

Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),...

Jakarta dan Tiongkok Bersatu, Peluang Besar UMKM Masuk Rantai Pasok Global

Jakarta - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan...

WFH ASN Jakarta Berlaku! Tapi Tak Semua Pegawai Bisa Ikut

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi menerbitkan...

Bikin Resah Warga, Baliho Promosi Film Horor Ditertibkan

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat...

Perjalanan Dinas Dipotong Besar-Besaran, Kemenag Fokus Layanan Publik

Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) melakukan berbagai langkah menghadapi...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini