31.7 C
Jakarta
Jumat, Oktober 16, 2026
BerandaKATA EKBISEKONOMI dan KINERJATemuan Xendit: 51 Persen Konsumen Indonesia Batal Belanja Online Gara-Gara Pembayaran

Temuan Xendit: 51 Persen Konsumen Indonesia Batal Belanja Online Gara-Gara Pembayaran

katafoto, Jakarta – Ketersediaan metode pembayaran menjadi salah satu faktor penting dalam transaksi perdagangan elektronik atau e-commerce di Indonesia. Laporan terbaru Xendit bersama Cube mengungkapkan, sebanyak 51 persen konsumen Indonesia pernah membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara enam negara Asia Tenggara yang masuk dalam survei. Temuan ini dipublikasikan melalui Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026, yang menggabungkan data transaksi Xendit dengan survei terhadap 6.000 konsumen, termasuk 1.000 responden dari Indonesia.

Presiden Xendit Nazim Ali mengatakan, perubahan perilaku konsumen dalam bertransaksi menuntut pelaku usaha untuk menyesuaikan pilihan pembayaran yang tersedia.

“Konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mampu mengimbangi perubahan ini dengan menyediakan pilihan pembayaran yang sesuai? Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan,” ujar Nazim.

Ia menambahkan, pelaku usaha perlu memahami perkembangan penggunaan setiap metode pembayaran agar dapat mengidentifikasi peluang bisnis sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan.

“Kuncinya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan pertumbuhan metode pembayaran, serta peluang bisnis yang mengiringinya,” katanya.

Transaksi QRIS Melonjak 142 Persen

Pembayaran digital secara real-time semakin diminati konsumen Indonesia. Dalam laporan tersebut, QRIS menjadi metode pembayaran dengan pertumbuhan transaksi tercepat di platform Xendit.

Nilai pertumbuhan transaksi QRIS mencapai 142 persen selama periode Januari 2025 hingga April 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan transaksi kartu kredit yang tercatat sebesar 83 persen.

Sementara itu, transfer bank diperkirakan digunakan untuk 52 persen dari seluruh pembelian yang dilakukan responden survei. Metode ini juga menjadi salah satu pilihan pembayaran real-time yang banyak digunakan.

Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya minat pelaku usaha terhadap sistem pembayaran yang terhubung langsung dengan jaringan pemrosesan transaksi atau direct-to-rail. Integrasi ini dapat membantu meningkatkan visibilitas data transaksi, menyederhanakan rekonsiliasi dan pengembalian dana, serta mempermudah pengelolaan pembayaran sehari-hari.

Selain itu, sistem pembayaran yang terintegrasi dapat membantu pelaku usaha memitigasi risiko penipuan. QRIS juga mendukung transaksi lintas negara melalui konektivitas dengan PromptPay di Thailand dan DuitNow di Malaysia.

Laporan Xendit memperkirakan sistem pembayaran real-time di Asia Tenggara akan semakin berkembang menuju jaringan regional pada 2027.

Dompet Digital Digunakan dalam 60 Persen Pembelian

Selain QRIS dan transfer bank, dompet digital masih menjadi pilihan utama konsumen Indonesia dalam berbelanja online.

Sekitar 60 persen pembelian responden dilakukan menggunakan dompet digital. Bahkan, 70 persen responden menyatakan memakai metode tersebut untuk sedikitnya separuh dari seluruh transaksi pembelian mereka.

Tingkat penggunaan tersebut merupakan yang tertinggi di antara enam negara yang diteliti. Sejumlah penyedia dompet digital yang menjadi pemain utama di Indonesia antara lain GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay.

Meski demikian, pasar dompet digital tidak didominasi oleh satu merek saja.

Preferensi pembayaran juga berbeda menurut wilayah. Megatix, platform penjualan tiket yang bermitra dengan Xendit, mencatat konsumen di Jakarta lebih banyak menggunakan virtual account. Sementara itu, pembayaran dengan kartu internasional lebih dominan dalam transaksi di Bali.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa strategi pembayaran pelaku usaha perlu disesuaikan dengan karakteristik konsumen dan lokasi pasar yang dilayani.

Penggunaan COD Mulai Berkurang

Pergeseran menuju pembayaran digital turut memengaruhi penggunaan metode cash on delivery (COD), yakni pembayaran tunai ketika barang diterima.

Sebanyak 40 persen responden Indonesia mengatakan mereka kini jauh lebih jarang menggunakan COD dibandingkan setahun sebelumnya. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand, dengan 45 persen responden.

Walaupun penggunaannya mulai berkurang, COD masih mencakup sekitar 40 persen dari total pembelian responden. Namun, kontribusinya terhadap keseluruhan nilai transaksi e-commerce relatif lebih kecil.

Di enam negara yang disurvei, potongan harga dan cashback menjadi alasan utama konsumen bersedia beralih ke metode pembayaran lain. Faktor insentif tersebut dinilai lebih berpengaruh dibandingkan kecepatan pengembalian dana maupun keamanan pembayaran.

Penjualan E-Commerce Naik 33 Persen

Di sisi lain, aktivitas perdagangan elektronik di Asia Tenggara kembali menunjukkan pertumbuhan. Penjualan di Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, tiga platform e-commerce terbesar di kawasan tersebut, meningkat sekitar 33 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan itu terjadi setelah pertumbuhan penjualan melambat pada 2024. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha, tetapi sekaligus meningkatkan kebutuhan untuk menyediakan pengalaman transaksi yang sesuai dengan preferensi konsumen.

Laporan tersebut mengingatkan bahwa bisnis berpotensi kehilangan penjualan apabila tidak menyediakan metode pembayaran yang dibutuhkan pelanggan.

Perubahan juga terlihat dalam kebiasaan konsumen mencari informasi sebelum membeli produk. Di Asia Tenggara, sebanyak 53 persen konsumen menggunakan kecerdasan buatan generatif atau AI generatif untuk menemukan produk. Sementara itu, 78 persen memanfaatkan teknologi tersebut untuk mencari informasi dan membandingkan produk sebelum melakukan pembelian.

Angka penggunaan AI generatif untuk mencari informasi dan membandingkan produk itu melampaui mesin pencari yang digunakan 74 persen responden serta situs ulasan produk sebesar 72 persen.

Baca Juga

Radar Maritim di Aceh, Data Arus Laut Bisa Jadi Pendukung Deteksi Tsunami

katafoto, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)...

Pemerintah Perketat Pemberantasan Penyelundupan Benih Lobster, Ini Strateginya

katafoto, Jakarta - Potensi benih bening lobster (BBL) yang...

Bawa Uang Ringgit Hampir Rp400 Juta, Pelintas Batas Terjaring Bea Cukai

katafoto, Sintete - Bea Cukai Sintete menindak seorang pelintas...

Pungli hingga Dugaan Penyiksaan di Lapas, Ini Aduan yang Diterima Komnas HAM

katafoto, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas...

Karhutla Belum Berstatus Bencana Nasional, Dudung Ungkap Kondisi Terkini

katafoto, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto belum menetapkan kebakaran...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini