Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menanggapi polemik kenaikan harga beras di Indonesia yang belakangan menuai kritik publik. Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi di dalam negeri masih relatif kecil bila dibandingkan dengan kondisi di Jepang.
Pernyataan tersebut sempat memicu pro dan kontra, karena dianggap menunjukkan pemerintah kurang peka terhadap keresahan masyarakat. Namun, Amran menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya keras menstabilkan harga beras di berbagai daerah.
“Kami sejak awal sudah melakukan operasi pasar bersama Bulog di seluruh Indonesia, menyalurkan 1,3 juta ton beras dengan harga Rp 12.500 per kilogram,” ujar Amran dikutip dari laman berita satu.
Ia menambahkan, pemerintah tidak hanya fokus menjaga stabilitas harga, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan petani. Salah satunya melalui kebijakan kenaikan Harga Pokok Pembelian (HPP) yang berdampak positif pada Nilai Tukar Petani (NTP).
“Dengan langkah itu, kesejahteraan petani meningkat. Selain itu, kita tidak melakukan impor beras lagi. Stok nasional saat ini mencapai 4 juta ton,” jelasnya.
Amran menjelaskan bahwa perbandingan dengan Jepang dimaksudkan sebagai gambaran tantangan yang dihadapi, bukan untuk meremehkan kondisi di Indonesia. Ia menyebut, harga beras sudah menunjukkan tren penurunan di 13 provinsi.
“Ini menunjukkan arah yang baik, dan kami yakin harga akan terus turun ke depan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Amran menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadapi praktik kecurangan yang merugikan petani maupun konsumen. “Kami sangat peduli. Kalau ada pengusaha yang mempermainkan harga dan merugikan petani, kami siap berhadapan demi kepentingan rakyat Indonesia,” tegasnya.

