Penggunaan kontrasepsi dinilai berperan penting dalam membangun keluarga berkualitas sekaligus menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.
President Elect Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI), dr. Herbert Situmorang, SpOG Subsp. FER, menyampaikan hal tersebut dalam seminar Peran Kontrasepsi dalam Mewujudkan Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045 yang digelar Kementerian Pembangunan dan BKKBN, Selasa (16/9), bertepatan dengan rangkaian Hari Kontrasepsi Sedunia.
Menurut Herbert, pengalaman Tiongkok bisa menjadi pelajaran penting dalam pengendalian penduduk. Pada 1979, negara itu menerapkan kebijakan satu anak (one child policy) untuk menekan laju pertumbuhan yang kala itu melampaui 1 miliar jiwa. Kebijakan tersebut berhasil menahan lonjakan populasi, meski berimbas pada turunnya tingkat fertilitas di bawah angka ideal.
“Pada 2016 kebijakan berubah menjadi dua anak, lalu tiga anak pada 2021 karena jumlah penduduk usia muda semakin menurun. Ini membuktikan bahwa pengelolaan pertumbuhan penduduk sangat menentukan keberlanjutan pembangunan,” jelasnya dikutip dari laman infopublik.
Ia menegaskan, kualitas manusia jauh lebih penting dibandingkan kekayaan alam atau posisi geopolitik. “Anak-anak Indonesia hari ini akan menentukan apakah bangsa ini mampu menjadi Indonesia Emas atau tidak. Jika mereka sehat, terdidik, dan produktif, bonus demografi bisa menjadi peluang besar. Tapi bila sebaliknya, justru berpotensi menjadi beban,” ujarnya.
Herbert juga menekankan bahwa kontrasepsi merupakan bagian sentral dalam siklus reproduksi perempuan. Dalam rentang usia produktif, seorang perempuan memiliki sekitar 480 kali peluang untuk hamil. Karena itu, akses dan pemahaman kontrasepsi sangat dibutuhkan agar kehamilan bisa direncanakan dengan matang.
“Kehamilan adalah perayaan kehidupan, namun tetap harus dipersiapkan dengan baik. Kehamilan yang tidak direncanakan justru bisa mengganggu kualitas keluarga,” tambahnya.
Pentingnya Edukasi Sejak Remaja
Herbert juga menyoroti perlunya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini. Remaja, katanya, perlu mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan seksual, gizi, hingga pencegahan penyakit agar siap memasuki fase berkeluarga.
Pemerintah telah menyiapkan berbagai program, mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis bagi calon pengantin, edukasi perencanaan kehamilan, hingga imunisasi HPV untuk remaja putri sebagai upaya pencegahan kanker serviks.
“Jika remaja kita sehat dan siap, maka generasi yang lahir kelak akan lebih kuat. Itulah modal besar menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Menutup paparannya, Herbert mengajak masyarakat luas untuk terus mendukung program keluarga berencana dan penggunaan kontrasepsi. “Mari kita rencanakan keluarga yang berkualitas agar setiap anak Indonesia bisa tumbuh optimal dan siap menjadi SDM unggul di masa depan,” pungkasnya.

