Yogyakarta – Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia, status gizi menjadi indikator penting untuk menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh. Dari berbagai kategori status gizi, obesitas termasuk kondisi yang paling berisiko karena tidak sekadar mencerminkan kelebihan berat badan, tetapi juga berkaitan erat dengan munculnya beragam penyakit serius.
Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, menjelaskan bahwa obesitas tidak selalu memiliki karakter yang sama pada setiap individu. Risiko kesehatan justru sangat dipengaruhi oleh pola penumpukan lemak dalam tubuh, salah satunya ketika lemak menumpuk di area perut atau yang dikenal sebagai obesitas sentral.
Menurut Mirza, pemahaman mengenai obesitas sentral perlu diawali dengan mengenal konsep status gizi. Penilaian status gizi umumnya menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), yakni perbandingan antara berat badan dan tinggi badan. Berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), status gizi dibagi menjadi kurus, normal, kelebihan berat badan (overweight), hingga obesitas. Namun, IMT hanya menggambarkan jumlah lemak tubuh secara keseluruhan, bukan lokasi penumpukannya.
“Jika mengacu standar WHO, IMT normal berada pada kisaran 18 sampai 23, overweight 23 sampai 25, dan di atas 25 sudah masuk obesitas. Risiko paling tinggi terjadi ketika IMT mencapai angka di atas 30,” ujar Mirza dikutip dari laman ugm, Rabu (17/12).
Perbedaan lokasi penumpukan lemak inilah yang membedakan obesitas sentral dengan jenis obesitas lainnya. Oleh karena itu, pengukuran obesitas sentral tidak cukup hanya mengandalkan IMT. Lingkar perut menjadi indikator penting, terutama jika melebihi 90 sentimeter. Pada perempuan, pengaruh hormon estrogen membuat lemak cenderung tersebar ke berbagai area tubuh seperti lengan, paha, pinggul, dada, dan perut. Sebaliknya, pada laki-laki, ketiadaan estrogen membuat lemak lebih mudah menumpuk di bagian perut sehingga obesitas sentral lebih sering terjadi.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berkaitan erat dengan sindrom metabolik, yakni kumpulan gangguan metabolisme akibat penumpukan lemak di perut. Sindrom ini ditandai dengan peningkatan kadar gula darah, tekanan darah tinggi, serta gangguan profil kolesterol. Jika berlangsung dalam jangka panjang, risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan hipertensi akan meningkat.
“Ketika kondisi biokimia dalam darah sudah terganggu, berbagai penyakit tidak menular bisa muncul dan pada akhirnya meningkatkan risiko kematian,” jelasnya.
Secara alami, obesitas sentral lebih sering muncul pada usia di atas 40 tahun akibat perubahan hormonal. Faktor hormon berperan besar dalam penumpukan lemak, terutama pada perempuan. Meski demikian, obesitas sentral juga dapat muncul lebih dini akibat pola hidup yang tidak sehat sejak usia muda. Kurangnya aktivitas fisik serta pola makan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi pemicu utama. Asupan berlebih ini akan disimpan tubuh sebagai lemak dan berdampak pada perubahan metabolisme.
Dalam upaya mengatasi obesitas, Mirza menekankan bahwa perubahan pola pikir menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum menjalani diet. Penurunan berat badan harus dipahami sebagai proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Setelah itu, pola makan perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan tubuh, dengan membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak serta meningkatkan asupan buah dan sayur.
“Mindset yang harus dibangun adalah menjadikan ini sebagai titik balik untuk berubah. Tanpa itu, sebaik apa pun programnya tidak akan berjalan,” tegas Mirza.
Ia menambahkan, pada usia muda, metabolisme yang masih optimal memungkinkan penurunan berat badan berlangsung lebih cepat ketika pola makan dan aktivitas fisik diperbaiki. Namun, memasuki usia di atas 40 tahun, metabolisme cenderung melambat sehingga dibutuhkan strategi tambahan seperti pengaturan waktu makan atau intermittent fasting (IF). Meski demikian, setiap metode harus disesuaikan dengan kondisi individu dan sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional.

