26.8 C
Jakarta
Jumat, Januari 23, 2026
BerandaKATA EKBISCSR dan ESGPSEL Danantara Butuh 1.000 Ton Sampah per Hari, Ini Kata Guru Besar...

PSEL Danantara Butuh 1.000 Ton Sampah per Hari, Ini Kata Guru Besar IPB

Jakarta – Program pengolahan sampah menjadi energi listrik (Waste to Energy) yang tengah digagas Danantara dinilai sudah berada di jalur yang tepat. Penilaian tersebut disampaikan Guru Besar IPB University, Arief Sabdo Yuwono, yang menilai teknologi insinerator sebagai solusi yang telah teruji di berbagai negara maju.

Menurut Arief, pemanfaatan insinerator untuk mengonversi sampah menjadi energi bukanlah hal baru. Jepang, Jerman, serta sejumlah negara Eropa telah lama mengadopsi teknologi ini untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus menghasilkan energi.

“Jepang memang cukup aktif menawarkan teknologi tersebut. Di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, insinerator sudah digunakan sebagai solusi pengolahan sampah di kota-kota besar. Teknologi ini efektif karena mampu mengurangi volume sampah dalam waktu singkat,” ujar Arief saat dihubungi melalui sambungan telepon dari Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Meski demikian, Arief mengaku belum mengetahui secara rinci sejauh mana perencanaan yang telah disusun Danantara, termasuk detail teknologi yang akan diterapkan dalam program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Ia menegaskan, inisiatif tersebut idealnya mampu menghadirkan manfaat yang seimbang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Kebutuhan mendesak akan pengelolaan sampah di Indonesia tercermin dari data resmi pemerintah. Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, dari 343 kabupaten/kota di Indonesia pada 2024, timbulan sampah tercatat mencapai 38,2 juta ton. Namun, baru sekitar 34,74 persen yang berhasil dikelola.

Sementara itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melalui Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 memproyeksikan volume sampah nasional pada 2025 mencapai 63 juta ton dan terus meningkat hingga 82,2 juta ton pada 2045.

Arief menilai, secara regulasi Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Aturan tersebut akan semakin efektif apabila dikombinasikan dengan penerapan treatment at the source atau pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.

Pendekatan tersebut, kata Arief, berpotensi menekan aliran sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga 40–60 persen. Selain itu, metode ini juga dapat mengurangi beban anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang selama ini tersedot untuk biaya pengangkutan dan pengelolaan sampah.

“Selama ini pengelolaan sampah masih bertumpu pada sistem kumpul-angkut. Padahal, jika pengolahan dilakukan sejak dari sumber, manfaatnya sangat besar. Masalah sampah bisa diselesaikan di tingkat RT hingga kelurahan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan penerapan treatment at the source, tidak semua sampah harus diangkut seperti kondisi saat ini. Arief mengaku telah menghitung potensi penurunan volume sampah secara signifikan, bahkan telah mempraktikkannya langsung di lingkungan tempat tinggalnya.

Arief juga membagikan pengalamannya mengelola sampah selama lebih dari 15 tahun di kawasan Kota Bogor, Jawa Barat. Sampah rumah tangga diolah menjadi kompos, sementara sebagian lainnya dimanfaatkan untuk produksi energi dalam skala kecil, meski belum bersifat komersial.

Atas upaya tersebut, Arief meraih penghargaan Best Practices Award dalam ajang inovasi tingkat ASEAN. Ia juga mengungkapkan pengalamannya mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar seperti minyak tanah dan solar, serta keterlibatannya dalam riset bersama perusahaan semen multinasional untuk meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan kadar air pada bahan bakar alternatif.

Terkait pengembangan PSEL di Indonesia, Arief menilai masih terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah memastikan ketersediaan pasokan sampah dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pengolahan. Ia menyebut fasilitas PSEL yang direncanakan Danantara diperkirakan membutuhkan pasokan hingga 1.000 ton sampah per hari.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan sistem pengumpulan yang terintegrasi serta dukungan masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber. Menurutnya, perubahan perilaku dan keterlibatan publik menjadi kunci agar pasokan sampah terpilah dapat memenuhi kapasitas fasilitas PSEL.

“Tantangan lainnya juga berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap teknologi pengolahan sampah,” ujarnya.

Sebagai informasi, Danantara Indonesia telah menyampaikan rencana pengembangan program PSEL dengan melibatkan pihak ketiga. Dalam pelaksanaannya, Danantara membuka proses tender bagi perusahaan dalam maupun luar negeri untuk terlibat dalam pembangunan proyek PSEL tahap awal yang direncanakan berlokasi di tujuh wilayah aglomerasi.

Baca Juga

Bukan Sekadar Estetika, Ini Alasan Baja Jadi Masa Depan Arsitektur Indonesia

Jakarta - Indonesia yang berada di jalur Cincin Api...

Indonesia Hasilkan Sampah 56 Juta Ton per Tahun, Mampukah WtE Menjadi Jawaban?

Jakarta - Penanganan krisis sampah nasional melalui kebijakan Waste-to-Energy...

Trofi Piala Dunia FIFA 2026 Mendarat di Indonesia

Jakarta - Coca-Cola Indonesia mengajak pecinta sepak bola di...

Meski Investor Baru Turun, Investasi di Rembang Tembus Rp15,47 Triliun

Rembang - Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat kinerja positif dalam...

Pasar Bergejolak, AllianzGI dan DBS Tawarkan Jurus Investasi Global Berbasis USD

Jakarta - Di tengah ketidakpastian pasar global dan domestik,...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini