Fenomena child grooming merupakan bentuk manipulasi yang umumnya berlangsung secara perlahan, terselubung, dan kerap sulit dikenali pada tahap awal. Polanya sering diawali dari hubungan yang tampak positif dan penuh perhatian, namun secara bertahap memasuki fase yang dikenal sebagai zona abu-abu, saat batas antara kepedulian wajar dan eksploitasi mulai kabur.
Psikolog anak dan remaja, Ferlita Sari, menjelaskan bahwa child grooming tidak semata-mata ditentukan oleh perbedaan usia, melainkan berkaitan erat dengan ketimpangan kuasa serta kontrol emosional yang dibangun secara sistematis.
“Pelaku biasanya memposisikan diri sebagai sosok yang dianggap paling memahami, mendukung, dan memberikan rasa aman bagi anak atau remaja,” ujarnya dalam Kelas Orang Tua Bersahaja Kemendukbangga di Jakarta, Rabu (28/1).
Ferlita menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap zona abu-abu. Relasi semacam ini kerap terlihat suportif dan penuh perhatian, namun sebenarnya memunculkan rasa tidak nyaman yang sulit diungkapkan anak.
“Dalam banyak kasus, sinyal awal tersebut sering diabaikan karena dianggap sebagai bentuk kedekatan yang normal,” jelasnya.
Hubungan yang tampak baik tidak selalu berarti aman. Ferlita mencontohkan, relasi mentor dan siswa yang terlalu eksklusif, pujian berlebihan dari figur guru favorit, hingga komunikasi privat antara tokoh publik dan penggemar dapat menjadi celah terjadinya child grooming. Bahkan, hubungan romantis dengan perbedaan usia yang sah secara hukum tetap berpotensi berisiko apabila terdapat ketimpangan pengalaman dan kendali emosional.
Dampak child grooming juga kerap berlanjut meski relasi tersebut telah berakhir. Anak yang menjadi korban dapat mengalami trauma relasional jangka panjang, seperti kebingungan memahami hubungan yang sehat, rasa bersalah, hingga kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain di kemudian hari.
“Orang tua pun dapat terdampak secara psikologis. Trauma sekunder sering muncul dalam bentuk perasaan gagal melindungi anak, kemarahan pada diri sendiri, bahkan konflik dalam rumah tangga. Pada kondisi ini, pendampingan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dianjurkan untuk membantu proses pemulihan keluarga,” saran Ferlita.
Kewaspadaan bagi Orang Tua dan Remaja
Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, defensif secara berlebihan, atau sangat menjaga privasi gawai karena adanya rahasia tertentu. Sementara itu, remaja juga perlu mengevaluasi relasi yang dijalani, apakah masih memiliki kebebasan untuk berkata “tidak”, atau justru merasa tertekan, takut, dan bergantung secara emosional.
Upaya pencegahan child grooming tidak cukup dilakukan melalui larangan yang kaku, melainkan dengan membangun ikatan emosional yang kuat sejak dini. Orang tua perlu menciptakan ruang yang aman agar anak berani bercerita tanpa rasa takut atau dihakimi.
Dialog terbuka mengenai seksualitas juga penting agar anak memahami batasan tubuh serta konsep relasi yang sehat. Pendampingan digital pun perlu dilakukan secara bijak dengan menyeimbangkan kepercayaan, privasi, dan edukasi mengenai risiko di dunia maya.
Kedekatan emosional yang terjaga akan membantu orang tua mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini, sebelum manipulasi berkembang lebih jauh.
“Relasi yang hangat, aman, dan terbuka menjadi kunci utama untuk melindungi anak dari praktik manipulasi psikologis child grooming yang dapat mengancam masa depan mereka,” pungkas Ferlita.

