katafoto, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat 620 anak berusia 11 hingga 18 tahun di 34 provinsi teridentifikasi terpapar ekstremisme dan ideologi kekerasan melalui ruang digital selama Januari hingga Agustus 2026.
Temuan tersebut menjadi perhatian BNPT untuk memperkuat upaya pencegahan sejak usia dini. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan generasi muda dalam menghadapi berbagai bentuk paparan ekstremisme berbasis kekerasan, terutama yang berkembang melalui platform dan komunitas digital.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan perkembangan teknologi dan ekosistem digital membuat pencegahan ekstremisme tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan generasi muda dan mempunyai kapasitas akademik untuk memahami perubahan sosial serta pola ancaman yang berkembang di ruang digital.
“620 anak ini menunjukkan bahwa kita harus bergerak lebih awal. Mari kita jaga Jogja, jangan sampai anak-anak kita terpapar. Generasi mereka aktif di ruang digital ini perlu kita jaga bersama melalui kolaborasi dan sumbang pikir para rektor agar langkah mitigasi ini berjalan efektif dan tidak sia-sia,” tegas Eddy di Jakarta, Sabtu (3/10).

Paparan Ditemukan di Komunitas Digital
BNPT menyebut paparan ekstremisme pada anak dan remaja ditemukan melalui sejumlah forum serta komunitas di dunia maya. Salah satunya berkaitan dengan ekosistem True Crime Community (TCC).
Namun, BNPT menegaskan bahwa TCC pada dasarnya bukan merupakan jaringan terorisme. Perhatian diperlukan ketika anak mulai menunjukkan perubahan perilaku, seperti menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan mengagungkannya.
Eddy mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlunya intervensi sedini mungkin. Langkah pencegahan diperlukan sebelum paparan berkembang lebih jauh menjadi perilaku yang mengarah pada kekerasan.
Penanganan terhadap anak yang terpapar juga tidak cukup dilakukan secara individual. Lingkungan terdekat, mulai dari keluarga hingga sekolah dan masyarakat, dinilai mempunyai peran penting dalam proses pemulihan dan pencegahan.
“Anak-anak ini kita sentuh dengan rehabilitasi dulu dengan pendekatan mikroekologi anak. Artinya melibatkan lingkungan terdekat anak yang mencakup orang tua, sekolah/kampus, serta masyarakat sekitar,” ujarnya.
Gandeng 13 Perguruan Tinggi
Melalui kerja sama dengan 13 perguruan tinggi di DIY, BNPT mendorong institusi pendidikan tinggi mengambil peran lebih luas dalam pencegahan ekstremisme.
Kampus diharapkan tidak hanya menjadi tempat memperoleh pendidikan, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk berdialog, mengembangkan pola pikir kritis, memahami perbedaan, serta menyaring informasi yang mereka temui di ruang digital.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, Lilik Andi Aryanto, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kemampuan masyarakat dalam menghadapi perbedaan dan perubahan sosial.
Menurut Lilik, kampus menjadi tempat bertemunya berbagai pengetahuan, sudut pandang, dan argumentasi. Karena itu, pendidikan karakter serta kemampuan berpikir kritis perlu terus diperkuat sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan generasi muda.
“Semoga dari perguruan tinggi di D.I. Yogyakarta tumbuh generasi yang bukan hanya cerdas dalam ilmu, tetapi juga jernih dalam nalar, luas dalam kemanusiaan, dan kukuh dalam menjaga kehidupan bersama,” katanya.

