36.2 C
Jakarta
Sabtu, Oktober 10, 2026
BerandaKATA EKBISENERGIBukan Cuma Kurangi Impor Solar, B50 Diproyeksikan Serap 2,1 Juta Tenaga Kerja

Bukan Cuma Kurangi Impor Solar, B50 Diproyeksikan Serap 2,1 Juta Tenaga Kerja

katafoto, Jakarta – PT Pertamina (Persero) memperkuat upaya diversifikasi energi dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Salah satu langkah yang ditempuh adalah penerapan biodiesel B50 untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Senior Vice President Business Development Pertamina, Ary Kurniawan, mengatakan Indonesia memiliki beragam potensi energi yang tersebar di berbagai daerah. Pemanfaatan sumber daya tersebut dinilai penting untuk menjaga pasokan energi sekaligus memenuhi kebutuhan nasional.

“Untuk menjaga ketahanan energi, kita perlu melakukan diversifikasi. Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya minyak dan gas, tetapi juga memiliki sumber daya perkebunan seperti sawit yang dapat diolah menjadi energi,” kata Ary dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).

Menurut Ary, penerapan B50 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya domestik untuk mendukung kemandirian energi. Program pengembangan biodiesel di Indonesia terus berlanjut hingga mencapai tahap implementasi B50.

Program tersebut diperkirakan berpotensi mengurangi kebutuhan impor solar sekitar 18 juta kiloliter. Selain itu, B50 diproyeksikan menekan emisi hingga 44 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) dan menghemat devisa negara sampai Rp170 triliun pada 2026.

Dari sisi ekonomi, program ini juga diperkirakan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja serta meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah hingga Rp20,9 triliun.

Pertamina Kembangkan Biogasoline hingga Bioavtur

Ary menjelaskan, diversifikasi energi Pertamina tidak hanya berfokus pada biodiesel. Perusahaan juga mengembangkan biogasoline berbahan dasar sawit yang direncanakan menjalani pengujian di dua kilang.

Selain itu, Pertamina mengembangkan bioetanol dengan memanfaatkan molase atau tetes tebu sebagai bahan baku. Inisiatif ini ditujukan untuk memperluas penggunaan sumber daya dalam negeri sebagai bahan baku energi alternatif.

“Ini bagian dari bagaimana kita melakukan diversifikasi sumber energi yang kita miliki,” ujar Ary.

Pertamina turut mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF), yang juga dikenal sebagai bioavtur, dengan memanfaatkan used cooking oil atau minyak jelantah.

Pengembangan bahan bakar alternatif tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung kebutuhan energi sektor transportasi sekaligus menekan emisi.

Ary menegaskan, Indonesia memiliki potensi bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi beragam produk energi. Tantangannya adalah mengoptimalkan potensi tersebut agar memberikan manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional.

“Dengan sumber daya yang kita punya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dikembangkan menjadi energi. Tantangannya adalah bagaimana kita mengoptimalkan sumber daya tersebut sehingga dapat mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Ary.

Baca Juga

Ada 750 SPKLU di Jakarta, Baru 27 Penuhi Syarat untuk Peneraan

katafoto, Jakarta - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil...

BRIN dan Kementerian PANRB Siapkan AI untuk Deteksi Masalah dari Aduan Warga

katafoto, Jakarta - Data pengaduan masyarakat kini diarahkan tidak...

Biaya Haji 2027 Ditetapkan Rp98,4 Juta, Ini Rincian yang Harus Dibayar Jemaah

katafoto, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama...

Mentan Amran Sebut 102 Tersangka Mafia Pangan Dipenjara, Bakal Ada Tambahan Lagi?

katafoto, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman...

Penasaran dengan Kopi Shanghai? M Stand Kini Buka di Jakarta

katafoto, Jakarta - PT Foods Beverages Indonesia (F&B ID)...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini