31.3 C
Jakarta
Selasa, Februari 24, 2026
BerandaKATA EKBISKEUANGANOJK Bongkar Fakta Mengejutkan: Korban Penipuan Digital Meroket, Rp4,6 Triliun

OJK Bongkar Fakta Mengejutkan: Korban Penipuan Digital Meroket, Rp4,6 Triliun

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan kerugian masyarakat akibat penipuan keuangan digital mencapai Rp4,6 triliun hanya dalam waktu 10 bulan sejak beroperasinya Indonesia Anti-Scam Center (IASC) pada November 2024.

“Sejak IASC dibuka, total kerugian yang dilaporkan masyarakat sudah Rp4,6 triliun. Angka ini melonjak drastis, mengingat sebelumnya dalam studi 1,5 tahun kerugiannya hanya sekitar Rp2 triliun,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, di Jakarta, Selasa (19/8).

Selain nilainya yang besar, tingkat pelaporan juga mencatat angka mengkhawatirkan. IASC menerima 700–800 aduan per hari, jauh di atas Singapura yang rata-rata hanya 140–150 laporan per hari. Hingga kini, sudah terkumpul 225 ribu laporan, dengan 72 ribu rekening diblokir serta 359 ribu rekening dilaporkan.

Menurut Friderica, korban penipuan digital bukan hanya masyarakat dengan literasi rendah, melainkan juga pengguna layanan keuangan resmi seperti bank dan fintech berizin. Modus yang digunakan pun beragam, mulai dari love scam, penipuan lowongan kerja palsu, hingga transaksi perdagangan online fiktif.

“Scam ini bisa menimpa siapa saja. Bukan cuma orang awam, bahkan pejabat atau orang yang berpendidikan tinggi bisa jadi korban kalau lengah,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu faktor besarnya kerugian adalah keterlambatan laporan. Di negara maju, korban rata-rata melapor dalam waktu 15 menit sehingga dana masih bisa dilacak. Sementara di Indonesia, laporan biasanya baru masuk sekitar 12 jam setelah kejadian, sehingga peluang penyelamatan dana semakin kecil.

“Banyak korban bahkan tidak sadar uangnya sudah hilang, ada yang karena memiliki banyak rekening atau bingung harus melapor ke mana,” kata Friderica.

OJK pun mengajak industri jasa keuangan untuk lebih aktif mengampanyekan literasi keuangan digital. Menurut Friderica, meski masyarakat sudah terbiasa menggunakan layanan digital, pemahaman mereka terkait risiko dan cara penggunaan yang aman masih rendah.

“Masyarakat kita sudah go digital, tetapi literasi finansial digitalnya belum memadai. Itu yang perlu terus ditingkatkan agar mereka tidak menjadi korban,” pungkasnya.

Baca Juga

Sakit Siang atau Malam? Puskesmas 24 Jam di Bandung Diserbu Warga

Bandung - Pemerintah Kota Bandung menghadirkan layanan Puskesmas 24...

Bank Jakarta Gandeng Persija dan Jakmania Dorong Inklusi Keuangan

Jakarta - Bank Jakarta menggelar kegiatan inklusi keuangan bertajuk...

Lahan di Delapan Kecamatan di Siak Terbakar, Suhu Panas Jadi Pemicu

Siak - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)...

Lampung Makin Hits Brand Viral Bakal Serbu Lippo Mall

Lampung - Lippo Malls terus mempercepat transformasi Lippo Mall...

Pajak Januari Melonjak 30,7 Persen, Sinyal Ekonomi Makin Menguat

Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini