26.9 C
Jakarta
Senin, Februari 23, 2026
BerandaKATA EKBISEKONOMI dan KINERJATak Sekadar Status, Hutan Adat Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Berkelanjutan

Tak Sekadar Status, Hutan Adat Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Berkelanjutan

Jakarta – Menindaklanjuti komitmen Indonesia dalam forum COP30 di Belém, Brasil, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menggelar Lokakarya Nasional Pasca COP30 dengan fokus mempercepat pencapaian target nasional penetapan 1,4 juta hektare Hutan Adat.

Dalam forum tersebut, Kemenhut memaparkan Peta Jalan Percepatan Penetapan Status Hutan Adat yang dirancang untuk memperkuat peran Masyarakat Hukum Adat (MHA), tidak hanya sebagai penjaga ekosistem hutan, tetapi juga sebagai pelaku utama ekonomi berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.

Arah kebijakan ini sejalan dengan komitmen Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) yang mendorong terciptanya keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian alam, salah satunya melalui penguatan rantai nilai bioekonomi yang bertanggung jawab.

KEM menilai percepatan penetapan Hutan Adat harus dibarengi dengan penguatan aspek ekonomi. Pengakuan wilayah kelola masyarakat adat dinilai tidak cukup berhenti pada aspek legal administratif, tetapi perlu memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan hutan.

“Peningkatan kesejahteraan Masyarakat Hukum Adat mensyaratkan keterhubungan yang lebih kuat dengan rantai nilai ekonomi, baik nasional maupun global. Dengan begitu, masyarakat adat tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah atau produsen tanpa kepastian pasar, melainkan memiliki posisi tawar yang setara dalam tata niaga komoditas dan jasa berbasis hutan,” ujar Direktur Eksekutif KEM, Fito Rahdianto dikutip dari laman liputan6.com Minggu (21/12).

Saat ini, MHA masih berada pada posisi yang rentan dalam rantai nilai ekonomi. Keterbatasan kapasitas produksi dan pengolahan, minimnya akses pembiayaan, serta ketergantungan pada tengkulak dan mekanisme pasar yang tidak adil menjadi tantangan utama di berbagai daerah.

Di banyak wilayah, potensi ekonomi Hutan Adat—baik dari hasil hutan bukan kayu, agroforestri, jasa lingkungan, maupun pengetahuan lokal—belum sepenuhnya memberikan nilai tambah yang adil bagi masyarakat di tingkat tapak.

Peserta lokakarya juga mengidentifikasi sejumlah risiko sosial dan ekologis yang perlu diantisipasi, seperti potensi konflik batas wilayah, tergerusnya kearifan lokal, ketimpangan gender, hingga risiko eksploitasi berlebihan ketika suatu komoditas menunjukkan keberhasilan ekonomi.

Karena itu, penerapan prinsip safeguard sosial dan ekologis yang adil, transparan, dan sesuai konteks dinilai menjadi prasyarat penting dalam setiap bentuk kemitraan dengan sektor swasta maupun pemangku kepentingan lainnya.

Penguatan rantai nilai ekonomi Hutan Adat perlu dirancang sebagai proses transformasi jangka panjang menuju kemandirian MHA, melalui pengembangan usaha perhutanan sosial (social forestry enterprise) yang dikelola secara profesional, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan berkelanjutan. Pendekatan ini diyakini mampu memperkuat posisi masyarakat adat dalam sistem ekonomi.

Dalam diskusi panel yang membahas pengembangan rantai nilai Hutan Adat dan Perhutanan Sosial, CEO EcoNusa yang juga anggota KEM, Bustar Maitar, menekankan pentingnya menempatkan masyarakat adat sebagai aktor utama, khususnya di wilayah rentan seperti Papua dan Maluku.

“Wilayah Indonesia Timur memiliki tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur yang tidak memungkinkan pendekatan bisnis konvensional. Melalui KOBUMI, kami membangun mekanisme jaminan pasar dan harga yang berkeadilan, termasuk kepastian pembelian, pembayaran tunai, serta kepemilikan masyarakat adat dalam rantai nilai. Pengalaman ini menunjukkan bahwa dengan akses pasar, pendampingan, dan prinsip keadilan yang konsisten, ekonomi berbasis hutan adat dapat tumbuh secara berkelanjutan,” jelas Bustar.

Direktur PT Sosial Bisnis Indonesia (SOBI), Matt Danalan Saragih, turut menyoroti pentingnya perancangan kemitraan jangka panjang untuk menjawab persoalan konsistensi kualitas, pasokan, dan keterlacakan produk dari smallholders dan MHA.

“Masalah utama dalam pengembangan rantai nilai berbasis masyarakat bersifat struktural, mulai dari ketidakstabilan pasokan hingga mutu produk. Melalui peran SOBI sebagai bagian dari KEM Companies Network, kami mendorong model agroforestry hub yang mengintegrasikan pendampingan teknis, kemitraan transparan, serta digitalisasi sistem traceability berstandar global agar produk MHA dapat menembus pasar yang lebih luas,” kata Matt.

Ia menilai, sinergi antara pendekatan berbasis praktik yang dijalankan EcoNusa dan KOBUMI dengan penguatan kapasitas serta model pembelajaran yang dikembangkan SOBI menjadi peluang strategis untuk mendorong perhutanan sosial secara lebih sistemik dan berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menegaskan bahwa penetapan Hutan Adat bukanlah tujuan akhir.

“Penetapan Hutan Adat merupakan langkah awal untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi Masyarakat Hukum Adat yang selaras dengan kearifan lokal, sebagai bagian dari cita-cita bangsa yang harus diwujudkan bersama,” ujarnya saat menutup lokakarya.

Sebagai tindak lanjut, KEM menginisiasi pemetaan awal terhadap potensi produk dan jasa Hutan Adat, tantangan utama MHA, kebutuhan intervensi prioritas, serta risiko sosial dan ekologis yang perlu diantisipasi melalui prinsip kemitraan yang adil. Upaya ini diharapkan mendorong kolaborasi lintas pihak guna memperkuat rantai nilai ekonomi Hutan Adat yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi Masyarakat Hukum Adat.

Baca Juga

Transjakarta Longgarkan Aturan Buka Puasa Saat Ramadan, Ini Batas Waktunya

Jakarta - Selama bulan suci Ramadan PT Transportasi Jakarta...

Sambut Ramadan, Warga Babakan Keramas Bareng di Sungai Cisadane

Tangerang - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, ratusan warga...

Viral Video Protes Suara Tadarus, Aturan Speaker Masjid Kembali Disorot

Jakarta - Kementerian Agama memberikan tanggapan atas insiden seorang...

Bank Jakarta Gandeng Persija dan Jakmania Dorong Inklusi Keuangan

Jakarta - Bank Jakarta menggelar kegiatan inklusi keuangan bertajuk...

Bandara Djalaluddin Siap Naik Kelas Jadi Embarkasi Haji

Gorontalo - Pemerintah Provinsi Gorontalo resmi memulai proyek pengembangan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini