26.5 C
Jakarta
Minggu, Maret 8, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKULINERApem Beras, Jajanan Legendaris Jogja yang Sarat Makna dan Sejarah

Apem Beras, Jajanan Legendaris Jogja yang Sarat Makna dan Sejarah

Yogyakarta – Apem beras merupakan salah satu jajanan tradisional yang mampu bertahan melintasi zaman. Kudapan ini telah dikenal sejak ratusan tahun silam dan menyimpan nilai sejarah serta makna budaya yang kuat, khususnya dalam tradisi masyarakat Jawa. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, apem beras masih lestari dan kerap hadir dalam berbagai ritual keagamaan maupun adat.

Kue tradisional ini menjadi bagian penting dalam sejumlah tradisi Keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah Tradisi Ngapem yang diselenggarakan setahun sekali sebagai rangkaian peringatan Tingalan Jumenengan Dalem atau hari penobatan Sultan. Selain itu, apem juga hadir dalam Tradisi Ruwahan Apem yang umumnya dilaksanakan menjelang datangnya bulan Ramadan.

Melansir dari laman jogjaprov, secara etimologis, kata apem diyakini berakar dari bahasa Arab, yakni “afuum” atau “affuwun” yang bermakna permohonan ampun. Makna tersebut kemudian diadopsi dalam falsafah Jawa, di mana apem dipahami sebagai simbol permohonan maaf dan pengharapan ampunan kepada Sang Pencipta. Tidak heran jika apem kerap dihadirkan dalam berbagai upacara adat, mulai dari selamatan, prosesi kehamilan, khitanan, pernikahan, hingga ritual kematian.

Hingga kini, jajanan bercita rasa manis dan gurih ini masih mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, salah satunya di Pasar Ngasem, Yogyakarta. Di pasar ini, apem beras bahkan telah menjadi kuliner khas yang banyak diburu wisatawan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya di Kota Gudeg.

Salah satu pelaku usaha yang konsisten menjaga keberadaan apem beras di Pasar Ngasem adalah Apem Beras Bu Wanti. Usaha yang dirintis sejak era 1990-an tersebut kini dilanjutkan oleh generasi kedua, pasangan Ade Purwantiningsih dan Doni, yang tetap mempertahankan resep serta teknik pembuatan secara tradisional.

Proses produksi apem beras masih menggunakan tungku berbahan bakar arang, metode yang dipercaya mampu menghadirkan aroma dan tekstur khas yang sulit ditiru oleh cara modern. Soal harga, jajanan tradisional ini juga ramah di kantong, dengan banderol sekitar Rp4.000 per buah.

Baca Juga

Siap Mudik Lewat Laut? 841 Kapal Disiagakan untuk Lebaran 2026

Jakarta - Kementerian Perhubungan menyiapkan sebanyak 841 kapal dengan...

Menag Soroti Kualitas Speaker di Masjid, ITS Tawarkan Bantuan Teknologi

Surabaya -  Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti kualitas pengeras...

Konflik Global Memanas, Pemprov DKI Antisipasi Lonjakan Harga

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti potensi...

Punya THR? Begini Cara Cerdas Mengubahnya Jadi Investasi Emas

Jakarta - Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para pekerja...

Jakarta Perkuat Identitas Budaya, 10 Warisan Takbenda Baru Resmi Ditetapkan

Jakarta - DKI Jakarta kini tercatat memiliki 95 Warisan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini