Jakarta – Kementerian Agama menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi 100 calon fasilitator Program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Para peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Jakarta.
Melalui kegiatan ini, para calon fasilitator didorong untuk membangun kerja sama lintas sektor, mulai dari dinas pendidikan, perguruan tinggi, hingga satuan pendidikan sekolah. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperkuat pembinaan remaja melalui program BRUS agar berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa kolaborasi antarinstansi menjadi kunci keberhasilan pembinaan remaja yang terstruktur dan berdampak luas.
“Fasilitator BRUS diharapkan mampu menjalin kerja sama dengan dinas pendidikan, kampus, sekolah, serta para pemangku kepentingan lainnya. Sinergi ini merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang dimulai dari penguatan ketahanan keluarga,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Rabu (4/2).
Ia menilai, keterlibatan institusi pendidikan akan membuat implementasi BRUS lebih terencana dan sistematis. Remaja usia sekolah perlu mendapatkan pendampingan sejak dini sebagai bekal pembentukan karakter sebelum memasuki kehidupan berkeluarga di masa mendatang.
Abu Rokhmad juga menyoroti pentingnya pemberian edukasi yang komprehensif bagi remaja untuk merespons tantangan sosial yang kian kompleks, terutama di tengah perkembangan teknologi dan media digital.
“Remaja harus dibekali pemahaman yang menyeluruh agar tidak mudah terjerumus dalam berbagai persoalan, seperti pergaulan bebas, tindak kekerasan, penyalahgunaan media sosial, hingga masalah kesehatan reproduksi. Program BRUS hadir untuk membantu remaja mengenali diri, mengelola emosi dan konflik, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan dinas pendidikan dan sekolah akan membuat materi BRUS semakin relevan dengan kebutuhan remaja saat ini, sekaligus memperkuat peran fasilitator sebagai pendamping utama di lingkungan pendidikan.
“Ketika fasilitator bekerja bersama sekolah dan pihak terkait lainnya, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu remaja, tetapi juga oleh keluarga, lingkungan, dan masyarakat secara lebih luas,” tegasnya.

