Jakarta – Transformasi pembelajaran digital semakin terasa hingga ke daerah. Melalui Program Digitalisasi Pembelajaran sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMA Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran, pemerintah mendorong percepatan modernisasi ruang kelas, termasuk di kawasan timur Indonesia.
Program yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini menyalurkan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP), laptop, serta perangkat penyimpanan materi ajar. Fasilitas tersebut dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, kolaboratif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi.
Mengacu pada data per 17 Februari 2026 dari Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, capaian di jenjang SMA menunjukkan hasil menggembirakan. Dari total alokasi 14.829 unit IFP, seluruhnya telah terealisasi 100 persen dan sudah diterima sekolah penerima.
Distribusi laptop dan media penyimpanan pun hampir tuntas. Dari 14.660 unit yang disiapkan, sebanyak 14.578 unit atau 99,44 persen telah diterima satuan pendidikan, sementara 82 unit lainnya masih dalam tahap pengiriman.
Untuk mendukung pemanfaatan perangkat, layanan internet telah aktif di 166 SMA. Sementara itu, dari 49 usulan pemenuhan listrik, 27 sekolah sudah menikmati aliran listrik, dan 17 lainnya sedang dalam proses intervensi dengan realisasi pembayaran mencapai Rp57 juta.
Salah satu penerima manfaat program ini adalah SMASK Bhaktyarsa Maumere di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Kehadiran PID di sekolah tersebut membawa perubahan signifikan dari metode konvensional berbasis papan tulis menjadi pembelajaran yang lebih dinamis dan partisipatif.
Kepala sekolah, Sr. Marcelina Lidi, menilai perangkat tersebut memacu inovasi sekaligus profesionalisme tenaga pendidik. “Kehadiran PID sangat membantu guru untuk terus berinovasi agar pembelajaran tidak monoton. Secara tidak langsung, ini juga mendorong peningkatan profesionalisme guru dalam memanfaatkan teknologi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/2).
Dalam penerapannya, guru dapat memanfaatkan tampilan multimedia, simulasi interaktif, hingga integrasi bahan ajar digital. Siswa pun tidak lagi sekadar menyimak, melainkan terlibat melalui diskusi, presentasi, dan latihan visual interaktif.
Guru Pendidikan Kewarganegaraan, Makrina Liliosa Elmi, merasakan kemudahan dalam menjelaskan materi. Fitur layar sentuh dan akses cepat ke sumber belajar digital membantu penyampaian konsep menjadi lebih runtut dan mudah dipahami. “Anak-anak sangat antusias menggunakan PID. Perangkat ini menambah referensi dan variasi metode mengajar saya,” ungkapnya.
Antusiasme serupa datang dari siswa, salah satunya Venansius Juliano Gesiraja, yang menyebut materi pelajaran lebih mudah dipahami berkat dukungan video dan animasi. “Kami juga bisa mengerjakan LKPD dengan lebih praktis,” katanya.
Transformasi ini menegaskan bahwa teknologi berperan sebagai penguat, bukan pengganti guru. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menekankan pentingnya optimalisasi perangkat sebagai sarana pendukung. “Tetap guru yang menjadi kunci. PID ini adalah media pembelajarannya,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemanfaatan platform Rumah Pendidikan sebagai ekosistem pembelajaran digital terpadu yang menyediakan video interaktif, artikel, laboratorium virtual, gim edukasi, hingga latihan soal.

