28.2 C
Jakarta
Kamis, Maret 5, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANPendampingan Intensif Berbuah Hasil, Strategi Cegah Stunting Ini Terbukti Efektif

Pendampingan Intensif Berbuah Hasil, Strategi Cegah Stunting Ini Terbukti Efektif

Jakarta – Nestlé Indonesia resmi menutup rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 bersama para mitra lintas sektor yang terlibat dalam pelaksanaannya, yakni Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers sebagai mitra field officer. Penutupan program ini kembali menegaskan pentingnya intervensi gizi anak usia dini yang dilakukan secara konsisten, terukur, dan berbasis kolaborasi untuk mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Program yang berlangsung selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader. Selain itu, sebanyak 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan turut memperoleh edukasi. Hasil pemantauan bersama mitra akademisi menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5%, diikuti perbaikan indikator pertumbuhan anak serta meningkatnya pemahaman keluarga dalam memenuhi kebutuhan energi dan gizi harian.

Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Yuni Hastutiningsih menegaskan bahwa sinergi multipihak menjadi kunci penguatan upaya pencegahan stunting. 

“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan oleh PT Nestlé Indonesia, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program. Oleh karena itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia.”

Pendampingan Intensif Berbuah Hasil, Strategi Cegah Stunting Ini Terbukti Efektif

Tak hanya berdampak pada indikator pertumbuhan, program ini juga memperkuat kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang secara berkala. Pendampingan yang dilakukan secara rutin memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan makan yang lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari pencegahan masalah gizi anak.

Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menyampaikan bahwa capaian program tidak semata diukur dari angka, melainkan dari perubahan perilaku yang berkelanjutan. 

“Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek. Program ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor. Bagi kami, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas. Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, kami melihat perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga.”

Program Pendampingan Gizi 2025 menitikberatkan pada langkah preventif melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit meningkat. Intervensi dilakukan dengan kombinasi pemenuhan energi dan zat gizi esensial berupa satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak. Model pendampingan keluarga ini memungkinkan pendekatan yang berkelanjutan, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Pendampingan Intensif Berbuah Hasil, Strategi Cegah Stunting Ini Terbukti Efektif

Dari sisi akademis, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, menyebut pendekatan sederhana yang dijalankan konsisten dapat menghasilkan dampak signifikan. 

“Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5%. Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting.”

Di tingkat lapangan, peningkatan literasi gizi keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik yang telah dibangun. Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja, menjelaskan bahwa sebagian keluarga masih menghadapi kendala dalam pemenuhan energi dan variasi konsumsi anak. 

“Temuan baseline menunjukkan adanya kesenjangan pada pemenuhan energi dan zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium. Karena itu, intervensi difokuskan pada solusi yang realistis dan mudah diterapkan sehari-hari. Melalui edukasi, pendampingan kader, dan monitoring rutin, keluarga menjadi lebih percaya diri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan praktik makan yang lebih baik di rumah.”

Ketua TP PKK Kabupaten Batang, Faelasufa, turut memaparkan pengalaman pelaksanaan program di daerahnya. Ia menilai pendekatan edukasi dan pendampingan di tingkat desa menjadi faktor penentu keberhasilan intervensi. 

Pendampingan Intensif Berbuah Hasil, Strategi Cegah Stunting Ini Terbukti Efektif

“Pada program GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) TP PKK tahun kemarin, kami menjadi orang tua asuh bagi 272 anak (di Kabupaten Batang). Kami ukur berat badan mereka sebelum program mulai, kemudian setiap bulan kita juga kerjasama dengan posyandu untuk menarik data berat badan mereka. Alhamdulillah, 98 persen dari anak-anak tersebut berat badannya naik selama kita memberikan intervensi GENTING. Satu hal yang saya sangat suka dari program pendampingan gizinya Nestlé adalah Nestlé memberi tahu caranya ke ibu-ibu di desa-desa di Batang. Jadi knowledge gap di desa itu nyata dan yang saya suka adalah Nestlé itu ngajarin, gak cuma ngasih makan, tapi juga ada program pendampingannya untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu di desa bahwa makanan yang bergizi itu gak perlu mahal.”

Manfaat program juga dirasakan langsung oleh keluarga penerima di Pasuruan. Perwakilan orang tua penerima manfaat, Himmatul Ulya, menyampaikan bahwa pendampingan dan edukasi membantu keluarga memahami pentingnya gizi seimbang serta pemantauan tumbuh kembang anak. “Setelah mengikuti Program Pendampingan Gizi, kami lebih memahami kebutuhan gizi anak dan cara memantau pertumbuhannya. Anak kami yang sebelumnya berat badannya sulit naik mulai menunjukkan perbaikan, lebih aktif, dan nafsu makannya meningkat secara bertahap setelah mengikuti program dan pemantauan rutin bersama kader. Kami juga mulai menerapkan pola makan yang lebih sehat untuk seluruh keluarga.”

Baca Juga

Indonesia Berkabung, Bendera Setengah Tiang 3 Hari untuk Wapres Try Sutrisno

Jakarta - Pemerintah menetapkan pengibaran Bendera Merah Putih setengah...

Konflik Global Memanas, Pemprov DKI Antisipasi Lonjakan Harga

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti potensi...

Siap Mudik Lewat Laut? 841 Kapal Disiagakan untuk Lebaran 2026

Jakarta - Kementerian Perhubungan menyiapkan sebanyak 841 kapal dengan...

Pesona Masjid Al-Fajri Tampil Bak Blue Mosque Istanbul Turki

Jakarta - Bangunan seluas sekitar 1.000 meter persegi di...

Login Tak Bisa, Apa yang Terjadi pada Wikimedia di Indonesia?

Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memberlakukan pembatasan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini