Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja keuangan terbaik sepanjang sejarah pada tahun buku 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,07 triliun. Pencapaian tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar secara hybrid pada Senin (29/6), sekaligus menetapkan jajaran direksi baru untuk masa jabatan 2026-2030.
Kinerja positif tersebut tercermin dari pertumbuhan laba bersih sebesar 59,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan konsolidasi meningkat 29,8 persen menjadi Rp3,66 triliun, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia.
Lonjakan pendapatan didorong oleh rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham yang mencapai Rp18,1 triliun. Kondisi tersebut membuat pendapatan dari jasa transaksi efek naik 41 persen, sedangkan pendapatan jasa kliring tumbuh 41,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca keuangan, total aset BEI hingga akhir 2025 meningkat 32 persen menjadi Rp14,78 triliun. Adapun nilai ekuitas tercatat mencapai Rp9,45 triliun.
Meski sempat menghadapi tekanan pada semester pertama 2025 akibat perang dagang, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tingginya volatilitas pasar global yang memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level 5.996 pada April 2025, kondisi pasar berhasil pulih secara bertahap pada paruh kedua tahun tersebut.
Pemulihan pasar didukung berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO). Kebijakan tersebut antara lain berupa relaksasi buyback saham tanpa persetujuan RUPS serta penyesuaian batas Auto Rejection Bawah (ARB) guna menjaga stabilitas perdagangan.
Berbagai kebijakan tersebut berdampak positif terhadap kinerja pasar modal. IHSG berhasil mencetak 24 kali rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) hingga mencapai level 8.711. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI juga menembus rekor baru sebesar Rp16.004 triliun pada 8 Desember 2025.
Dari sisi penghimpunan dana, sepanjang 2025 BEI berhasil mengantarkan 26 perusahaan melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp18,1 triliun atau meningkat 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor basic materials, keuangan, dan infrastruktur menjadi penyumbang terbesar aktivitas IPO sepanjang 2025. Di saat yang sama, jumlah investor ritel juga terus bertambah hingga mencapai 20,3 juta single investor identification (SID), meningkat 37 persen dibandingkan akhir 2024.
Selain mengesahkan laporan keuangan, RUPST juga menetapkan susunan direksi baru setelah memperoleh persetujuan dari OJK. Jeffrey Hendrik resmi ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia untuk periode 2026-2030.
Dalam kesempatan tersebut, Jeffrey menegaskan komitmennya untuk melanjutkan transformasi pasar modal Indonesia agar semakin modern, transparan, dan mampu bersaing di tingkat global.
“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat integritas, meningkatkan daya saing, serta mempercepat digitalisasi demi mendorong inklusi pasar modal Indonesia yang lebih luas,” ujar Jeffrey Hendrik.
Berikut susunan Direksi PT Bursa Efek Indonesia periode 2026-2030:
- Direktur Utama: Jeffrey Hendrik
- Direktur Penilaian Perusahaan: Saidu Solihin
- Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa: Irvan Susandy
- Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan: Yulianto Aji Sadono
- Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko: Abdul Munim
- Direktur Pengembangan: Iding Pardi
- Direktur Keuangan, SDM, dan Umum: Umi Kulsum
Dengan kepengurusan baru tersebut, BEI menargetkan transformasi pasar modal Indonesia terus berlanjut melalui penguatan tata kelola perusahaan, percepatan digitalisasi layanan, peningkatan likuiditas pasar, serta perluasan basis investor domestik maupun global.

