30.2 C
Jakarta
Jumat, Oktober 9, 2026
BerandaKATA EKBISKEUANGANUang Gaji Cepat Habis Sebelum Akhir Bulan? Bisa Jadi Kamu Terjebak Fenomena...

Uang Gaji Cepat Habis Sebelum Akhir Bulan? Bisa Jadi Kamu Terjebak Fenomena Mantab

katafoto, Jakarta – Belum menerima gaji, tetapi uang di rekening sudah banyak terpakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi ini dikenal dengan istilah “mantab” atau makan tabungan. Fenomena tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat menengah ke bawah yang memiliki simpanan terbatas.

Data Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026 menunjukkan, porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 72,7 persen menjadi 74,2 persen dalam satu bulan. Sebaliknya, alokasi pendapatan untuk tabungan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen. Adapun porsi untuk membayar cicilan atau utang berkurang dari 10,5 persen menjadi 10 persen.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan masyarakat terserap untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Dari setiap Rp1 juta pendapatan, rata-rata Rp742 ribu digunakan untuk belanja, Rp100 ribu untuk membayar cicilan, dan hanya Rp158 ribu yang dapat disimpan sebagai tabungan.

Tekanan terhadap simpanan masyarakat juga tercermin dalam data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Meski total simpanan nasabah dengan saldo di bawah Rp100 juta masih mengalami pertumbuhan, rata-rata saldo setiap rekening justru terus menyusut.

Pada 2018, rata-rata saldo rekening kelompok tersebut mencapai Rp3,1 juta. Namun, pada Mei 2026, angkanya turun menjadi Rp1,7 juta. Artinya, dalam kurun waktu sekitar delapan tahun, rata-rata saldo rekening menyusut sekitar 45 persen.

Head of Investment & Insurance DANA Group, Ivan Kusuma, menilai berkurangnya tabungan tidak selalu disebabkan oleh pengeluaran untuk gaya hidup atau hiburan. Persoalan juga dapat muncul ketika dana untuk kebutuhan rutin, keadaan darurat, dan rencana masa depan tidak dipisahkan dengan jelas.

“Saldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat. Ketika semuanya terlihat bisa dibelanjakan, tabungan akan selalu menjadi pos pertama yang dikorbankan,” ujar Ivan Kusuma.

Menurut Ivan, menjaga kondisi keuangan tidak cukup hanya dengan memangkas pengeluaran. Masyarakat juga perlu membangun kebiasaan mengelola uang secara lebih terencana, salah satunya melalui pendekatan conscious spending atau belanja secara sadar.

Pendekatan ini menekankan pentingnya menentukan tujuan penggunaan uang sebelum melakukan transaksi, sehingga kebutuhan saat ini tidak terus menggerus simpanan untuk masa depan.

“Conscious spending intinya adalah menentukan dulu untuk apa uang akan dipakai, sebelum uang itu dibelanjakan. Tanpa rencana, pengeluaran sehari-hari akan terus terasa lebih penting, sehingga tabungan untuk masa depan selalu dikorbankan,” ujar Ivan.

5 Cara Mencegah Tabungan Terus Terkuras

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga agar uang tabungan tidak terus digunakan untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

1. Periksa kembali aliran pengeluaran

Pengeluaran kecil, seperti membeli camilan, membayar parkir, hingga berlangganan aplikasi, kerap luput dari perhatian. Jika dilakukan berulang kali, nominalnya dapat menumpuk dan membebani anggaran bulanan.

Karena itu, penting untuk mengevaluasi riwayat transaksi secara berkala. Fitur Activity Tracker di DANA, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk membantu pengguna melihat pola pengeluaran dan menilai transaksi mana yang masih diperlukan atau bisa dikurangi.

Dengan mengetahui ke mana uang digunakan, pengeluaran dapat dikendalikan tanpa harus menghilangkan seluruh kebutuhan yang menunjang kenyamanan sehari-hari.

2. Tentukan prioritas dan buat alokasi anggaran

Mengelola uang secara sadar juga berarti menyusun anggaran berdasarkan kebutuhan dan tujuan keuangan. Penghasilan sebaiknya dibagi secara terencana untuk kebutuhan rutin, tabungan, dana darurat, dan tujuan lainnya.

Sejumlah fitur keuangan digital dapat membantu pengguna mengatur alokasi tersebut. DANA menyediakan DANA Goals untuk membantu pengguna merencanakan pencapaian tujuan keuangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain itu, DANA eMAS menawarkan layanan emas digital dengan nominal yang terjangkau. Pengguna juga dapat memanfaatkan DANA+ untuk menempatkan dana pada reksa dana pasar uang, dengan potensi imbal hasil yang dihitung setiap hari bursa.

Meski demikian, setiap pilihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan, dan profil risiko masing-masing pengguna.

Ivan mengingatkan bahwa tidak ada metode penganggaran yang cocok untuk semua orang. Hal terpenting adalah memastikan kemudahan transaksi digital tidak membuat seseorang kehilangan kendali atas pengeluarannya.

“Tidak ada satu cara budgeting yang cocok untuk semua orang, karena kebutuhan dan tujuan tiap orang berbeda. Yang penting, kemudahan bayar digital perlu diimbangi dengan kesadaran finansial supaya kita tidak jadi lebih impulsif,” ujar Ivan.

3. Beri jeda sebelum membeli sesuatu

Keinginan membeli barang yang bukan kebutuhan mendesak tidak harus langsung dituruti. Salah satu cara sederhana untuk mengendalikan belanja impulsif adalah menerapkan prinsip pause, bukan pantang.

Caranya, beri waktu sekitar 24 jam sebelum memutuskan membeli barang yang diinginkan. Jeda tersebut dapat membantu seseorang mempertimbangkan kembali apakah pembelian memang diperlukan atau hanya didorong keinginan sesaat.

Metode ini bukan berarti melarang diri sendiri menikmati sesuatu, melainkan memberikan kesempatan untuk mengambil keputusan yang lebih rasional dan sesuai anggaran.

4. Gunakan cicilan sesuai kemampuan

Cicilan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengatur pembayaran, tetapi penggunaannya perlu mempertimbangkan kondisi keuangan secara menyeluruh.

Sebelum mengambil cicilan, pastikan jumlah pembayaran rutin tidak mengganggu kebutuhan pokok, tabungan, maupun dana darurat. Pengguna juga perlu memahami biaya, bunga atau biaya layanan, tenor, dan kewajiban pembayaran yang berlaku.

Bagi pengguna yang memenuhi persyaratan, DANA Cicil dapat menjadi salah satu pilihan pembayaran bertahap. Namun, fasilitas tersebut sebaiknya digunakan secara terukur dan bukan untuk menutupi kekurangan anggaran yang terus berulang.

5. Sisihkan anggaran untuk menikmati hidup

Menjaga kesehatan keuangan bukan berarti harus menghilangkan semua pengeluaran untuk hiburan, liburan, atau aktivitas yang disukai.

Sebaliknya, anggaran untuk bersenang-senang dapat dimasukkan ke dalam perencanaan keuangan agar pengguna tetap bisa menikmati hasil kerja tanpa mengorbankan kebutuhan utama.

Kuncinya adalah menentukan batas pengeluaran yang realistis dan tetap memprioritaskan kewajiban rutin, tabungan, serta dana darurat.

Ketika porsi pendapatan yang dapat disisihkan semakin kecil, pengelolaan keuangan yang terencana menjadi semakin penting. Mengatasi fenomena makan tabungan bukan semata-mata dengan menghentikan belanja, melainkan dengan memastikan setiap pengeluaran memiliki tujuan dan tidak terus mengurangi keamanan finansial pada masa mendatang.

Baca Juga

Penasaran dengan Kopi Shanghai? M Stand Kini Buka di Jakarta

katafoto, Jakarta - PT Foods Beverages Indonesia (F&B ID)...

BNPT Temukan 620 Anak Terpapar Ekstremisme Lewat Ruang Digital

katafoto, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat...

Dana Cadangan DKI Tembus Rp5,6 Triliun, Ada Proyek LRT hingga Pengendalian Banjir

katafoto, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengusulkan...

Biaya Haji 2027 Ditetapkan Rp98,4 Juta, Ini Rincian yang Harus Dibayar Jemaah

katafoto, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama...

MUI Tegaskan Sex Toy Haram, Usulan Fasilitas di Lapas Diminta Dicabut

katafoto, Jakarta - Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini