katafoto, Palangka Raya – Kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih mengkhawatirkan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Konsentrasi partikel halus PM2.5 dilaporkan mencapai 465 mikrogram per meter kubik, meski secara visual kabut asap terlihat sedikit menipis dibandingkan hari sebelumnya.
Data pada laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tingginya konsentrasi PM2.5 di wilayah tersebut. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di tengah pencemaran udara.
Tingginya polusi udara terjadi seiring kebakaran hutan dan lahan yang masih meluas. Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, luas area yang terbakar telah melampaui 1.500 hektare. Sementara itu, jumlah titik panas atau hotspot mencapai 353 titik.
Titik panas tersebut tersebar di lima kecamatan, yakni Sebangau, Jekan Raya, Bukit Batu, Pahandut, dan Rakumpit. Tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman melalui jalur darat maupun udara untuk mengendalikan kebakaran di sejumlah lokasi.
Warga Diminta Batasi Aktivitas di Luar Rumah
Di tengah memburuknya kualitas udara, Pemerintah Kota Palangka Raya melalui dinas kesehatan mengimbau masyarakat mengurangi paparan asap dengan membatasi kegiatan di luar rumah.
Langkah pencegahan ini dilakukan untuk menekan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang dapat meningkat akibat paparan asap kebakaran.
Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami keluhan pernapasan atau gangguan kesehatan lainnya agar memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis.
Warga diharapkan tetap waspada selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Palangka Raya, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

