Aceh – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh melaporkan enam ruas jalan nasional terputus akibat banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh sejak Rabu (26/11). Kerusakan tersebut terjadi terutama karena ambruknya beberapa jembatan serta amblesnya badan jalan di sejumlah titik penting.
Kepala BPJN Aceh, Heri Yugiantoro, dalam keterangan tertulis via berita satu di Banda Aceh, Rabu (3/12), mengungkapkan salah satu ruas yang terdampak parah adalah Jalan Banda Aceh–Medan. Akses pada jalur ini terputus akibat runtuhnya oprit Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya. Penanganan darurat telah berjalan dan ditargetkan akses bisa pulih kembali pada 12 Desember 2025.
Ruas kedua di jalur Banda Aceh–Medan juga terputus setelah satu bentang Jembatan Krueng Tingkeum atau Kuta Blang, Bireuen, runtuh. Untuk sementara, arus lalu lintas dialihkan melalui jembatan di Awe Geutah, yang saat ini sedang dipasang jembatan bailey dengan target selesai 16 Desember 2025.
Kerusakan serupa terjadi di Jalan Bireuen–Takengon. Oprit Jembatan Teupin Mane runtuh, membuat jalur tersebut lumpuh total. Proses penimbunan dan pemasangan jembatan bailey kini dikebut dan ditargetkan rampung 10 Desember 2025. Pemulihan jalur Bireuen–Takengon baru dapat dilakukan setelah jembatan ini berfungsi kembali, disusul mobilisasi bailey tambahan pada 11 Desember 2025 karena masih terdapat lima jembatan lain yang putus serta longsor di beberapa segmen jalan.
Jalur Gayo Lues–Kutacane juga masih terputus akibat kerusakan dua jembatan dan longsoran badan jalan. Upaya penimbunan oprit telah dilakukan, sementara pengiriman jembatan bailey diperkirakan tiba dari Medan pada 8 Desember 2025.
Masalah serupa juga terjadi di ruas Aceh Tengah–Nagan Raya atau Lhok Seumot–Jeuram, yang masih belum bisa dilalui karena Jembatan Krueng Beutong putus dan badan jalan longsor. Akses darurat melalui jalan kebun kini dibuka untuk menghubungkan jalur pendekat ke oprit jembatan, dengan target penyelesaian 17 Desember 2025.
Meski enam ruas jalan nasional masih terisolasi, BPJN Aceh menyatakan beberapa akses darat lainnya sudah kembali bisa dilewati. Jalur Banda Aceh menuju Meureudu sudah kembali terhubung, begitu pula jalur Lhokseumawe–Langsa dan Langsa–Kuala Simpang setelah dilakukan pembersihan sedimen yang ditargetkan selesai pada 10 Desember 2025.
Akses Kuala Simpang menuju perbatasan Sumatera Utara juga telah dibuka kembali. Dengan surutnya ketinggian air, kendaraan berat termasuk truk kini dapat melintas. Proses pembersihan terus dilakukan menggunakan tiga unit backhoe dan dua loader dengan target selesai 10 Desember 2025.
Sementara itu, jalur Simpang Uning (batas Takengon)–Uwaq (KM 379)–batas Aceh Tengah/Gayo Lues–Blangkejeren sudah dapat dilewati sepeda motor. Pembukaan jalur bagi kendaraan roda empat ditargetkan tuntas 15 Desember 2025. “Ruas Jalan Kota Kutacane–perbatasan Sumatera Utara sudah dapat dilalui,” terang Heri.
Ruas Genting Gerbang–Celala–batas Aceh Tengah dan Nagan Raya juga kembali terhubung, meski sementara ini hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Akses dari arah Nagan Raya masih dikerjakan, terutama penghubung menuju Jembatan Krueng Beutong, yang ditargetkan selesai 17 Desember 2025.

