Jakarta – Bank DBS Indonesia menggelar acara bertajuk “Unlocking Indonesia’s Wealth Potential: DBS Guides Through Indonesia’s Resilient Economy with Unparalleled Wealth Insights and Tailored Solutions” sebagai wujud komitmen dalam menghadirkan wawasan strategis bagi nasabah prioritas DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client. Kegiatan ini bertujuan membantu nasabah memahami risiko global serta mengidentifikasi peluang investasi agar portofolio tetap seimbang dan berdaya tahan di tengah dinamika pasar yang dipengaruhi kebijakan ekonomi global dan kondisi geopolitik.
Acara tersebut menghadirkan jajaran pakar DBS, antara lain Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook, Indonesia’s Head of Research DBS Group Research William Simadiputra, serta Head of Segmentation, Liabilities, and Secured Lending PT Bank DBS Indonesia Natalina Syabana.
Di tengah ketidakpastian fiskal dan tingginya volatilitas pasar, sejumlah sektor justru menunjukkan potensi sebagai motor pertumbuhan baru. Sektor teknologi, khususnya di Amerika Serikat, menjadi salah satu pendorong utama investasi global, ditandai dengan peningkatan signifikan pada pembangunan pusat data dan perangkat keras untuk mendukung pengembangan large language models (LLM). Namun, kondisi ini juga diiringi perhatian investor terhadap keseimbangan antara belanja modal dan pertumbuhan pendapatan, yang menjadi tantangan bagi keberlanjutan ekspansi sektor tersebut.
Seiring derasnya arus investasi ke teknologi dan kecerdasan buatan (AI), risiko juga mulai muncul. Ekspektasi pertumbuhan yang melampaui fundamental berpotensi memicu terbentuknya “gelembung AI” di sejumlah segmen pasar. Oleh karena itu, investor perlu menyesuaikan strategi dengan lebih menitikberatkan pada perusahaan yang mampu mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan nilai operasional, dibandingkan hanya berfokus pada perusahaan AI murni.

Kuatnya perdagangan intra-kawasan serta kemampuan adaptasi menjadi penopang utama keberlanjutan pertumbuhan regional, membuka ruang bagi investor yang mampu mengelola portofolio secara strategis.
Sementara itu, pasar komoditas diperkirakan memasuki fase yang lebih positif menjelang 2026, didukung oleh harapan gencatan dagang dan potensi penurunan suku bunga yang memperbaiki sentimen makro. Meski demikian, keberlanjutan tarif membuat investor tetap perlu bersikap selektif. Logam industri seperti tembaga dan rare earth elements dinilai memiliki posisi strategis karena peran strukturalnya dalam perekonomian global. Di sisi lain, prospek jangka panjang emas tetap solid sebagai aset lindung nilai, ditopang oleh tekanan monetisasi, ketidakpastian global, serta strategi diversifikasi cadangan bank sentral.
Ketahanan Ekonomi Indonesia Dukung Peluang Investasi Domestik
Di tengah tekanan ekonomi global, Indonesia dinilai tetap memiliki fundamental yang relatif kuat sehingga memberikan ruang bagi investor untuk mengelola portofolio secara terukur. Permintaan domestik yang solid terus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, sementara inflasi yang terjaga membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneter yang mendukung stabilitas dan aktivitas ekonomi. Dari sisi fiskal, upaya konsolidasi yang berkelanjutan turut memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dalam jangka menengah.
“Bagi investor, kondisi ini membuka peluang pada sektor-sektor yang ditopang oleh konsumsi domestik, seperti ritel dan e-commerce, seiring meningkatnya adopsi digital masyarakat. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor energi terbarukan, juga menghadirkan peluang investasi jangka panjang yang sejalan dengan agenda transisi energi nasional,” ujar William Simadiputra.
Daya tarik investasi Indonesia juga diperkuat oleh posisinya dalam perekonomian regional dan global. Peran strategis Indonesia dalam kerja sama kawasan seperti ASEAN mendukung diversifikasi arus perdagangan dan investasi, sehingga membantu meredam risiko eksternal. Di sisi lain, reformasi regulasi, transformasi digital, serta pengembangan kerangka keuangan berkelanjutan yang terus dilakukan pemerintah turut memperluas pilihan investasi. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko global, dinamika kebijakan domestik, serta tantangan lingkungan dan perubahan iklim dalam merancang strategi investasi yang berkelanjutan.

Solusi Investasi DBS untuk Portofolio yang Tangguh
“Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan global, kami berfokus menghadirkan layanan advisory yang relevan dan terstruktur agar nasabah mampu menavigasi ketidakpastian global sekaligus memanfaatkan peluang domestik. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap tren pasar, nasabah dapat mengambil keputusan secara selektif dan menjaga portofolio tetap tangguh di tengah volatilitas,” ujar Natalina Syabana.
Melalui DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client, Bank DBS Indonesia mengombinasikan keahlian global dari Chief Investment Office DBS dengan strategi investasi yang dipersonalisasi. Layanan ini mencakup solusi portofolio sesuai profil risiko nasabah, termasuk akses ke kelas aset alternatif dan saham Asia ex-Japan, guna memperkuat daya tahan portofolio.
Untuk nasabah dengan kebutuhan yang lebih kompleks, DBS Treasures Private Client juga menyediakan layanan advisory yang lebih komprehensif melalui solusi yang sangat disesuaikan, seperti Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan dana kelolaan mulai dari Rp5 miliar. Melalui skema ini, nasabah dapat menentukan underlying asset sesuai tujuan keuangan dan profil risiko, dengan pendampingan Relationship Manager, product expert, serta manajer investasi.

