Jakarta – Menjelang datangnya Ramadan, kebutuhan masyarakat terhadap referensi keagamaan umumnya meningkat. Mulai dari materi ceramah, bahan kajian moderasi beragama, riset akademik, hingga bacaan ringan untuk menemani waktu berbuka puasa. Salah satu tempat yang dapat dimanfaatkan adalah Perpustakaan Kementerian Agama.
Berlokasi di kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin lantai 2, Perpustakaan Kemenag menjadi salah satu pusat literasi keagamaan di jantung ibu kota. Tidak sekadar menyimpan koleksi buku, perpustakaan ini berkembang sebagai ruang belajar yang tenang, relevan, dan nyaman untuk membaca maupun berdiskusi.
“Perpustakaan Kemenag kami arahkan sebagai pusat rujukan dan ruang belajar yang kondusif,” ujar Hariyah, Ketua Tim Perpustakaan, Humas, dan Sistem Informasi Kemenag, di Jakarta, Minggu (15/2).
Ia menjelaskan, selama Ramadan perpustakaan kerap menjadi pilihan tempat singgah yang produktif, baik bagi pegawai maupun masyarakat yang membutuhkan suasana lebih hening. “Perpustakaan Kemenag juga menyediakan ruang baca yang nyaman, dan lokasinya strategis karena ada di pusat kota,” tutur Hariyah.

Sepanjang bulan Ramadan, layanan perpustakaan dibuka setiap Senin hingga Kamis, pukul 08.00–15.00 WIB. Penyesuaian jam operasional ini dilakukan agar pengunjung tetap bisa memanfaatkan fasilitas secara optimal selama menjalankan ibadah puasa.
Beragam koleksi tersedia, mulai dari literatur keagamaan, kebijakan publik, pendidikan agama, hingga kajian sosial-keagamaan dalam format cetak maupun digital. Untuk memperluas akses, Kemenag juga menguatkan layanan digital sehingga masyarakat dapat lebih mudah menelusuri referensi.
Salah satu fasilitas yang ditawarkan adalah layanan penelusuran referensi digital, yakni bantuan pencarian informasi sesuai kebutuhan pemustaka. Layanan ini dapat diakses secara luas tanpa harus hadir langsung ke lokasi perpustakaan.
Tak hanya menghadirkan koleksi dan layanan rujukan, perpustakaan juga menggelar kegiatan literasi yang interaktif seperti diskusi serta bedah buku guna memperkuat literasi keagamaan dan moderasi beragama.
Selain itu, tersedia pula teater mini yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas literasi. Fasilitas ini kerap digunakan untuk nonton bareng dan diskusi film, termasuk pemutaran film pendek bertema literasi dan penguatan moderasi beragama.
“Literasi itu tidak selalu harus lewat teks. Kadang lewat film, lalu dibicarakan bersama. Itu juga cara belajar yang efektif,” kata Hariyah.

