Maluku – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tenggara memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya lokal dengan memasukkan Bahasa Kei serta nilai-nilai adat ke dalam sistem pembelajaran di sekolah.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga identitas budaya generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan arus modernisasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Bin Raudha Arif Hanoeboen mengatakan, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya menitikberatkan pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter yang berlandaskan budaya daerah.
“Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, emosional, dan spiritual, namun tetap menjunjung tinggi nilai budaya Kei sebagai identitas daerah,” ujarnya di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, Selasa (26/5).
Menurutnya, Pemkab Maluku Tenggara saat ini tengah menyesuaikan kurikulum muatan lokal agar pembelajaran Bahasa Kei dan budaya daerah dapat diterapkan secara seragam mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.
Selain penguatan kurikulum, Dinas Pendidikan juga mengintegrasikan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dengan nilai budaya lokal sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.
Sebagai bentuk pelestarian budaya, Dinas Pendidikan Maluku Tenggara turut mengadakan lomba bertutur dan stand-up comedy menggunakan Bahasa Kei dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.
“Kami ingin anak-anak mencintai budayanya sendiri dan bangga menggunakan Bahasa Kei dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa daerah harus tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” katanya.
Pemkab Maluku Tenggara menilai pendidikan berbasis budaya lokal menjadi langkah strategis untuk menjaga jati diri daerah sekaligus menciptakan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan akar budaya mereka.

