Malang – Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan sedikitnya 30 hingga 50 pabrik etanol sebagai langkah mempercepat penerapan bahan bakar bensin campuran bioetanol 20 persen (E20). Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri panen raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7).
Menurut Prabowo, Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam pengembangan energi berbasis bahan bakar nabati. Salah satu pencapaian yang dinilai berhasil adalah implementasi biodiesel B50 yang mampu menekan impor solar sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani kelapa sawit.
Selanjutnya, pemerintah akan memfokuskan pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin. Bahan bakar ramah lingkungan tersebut dapat diproduksi dari berbagai komoditas pertanian, seperti tebu, singkong, jagung, sorgum, hingga biomassa lainnya.
Prabowo menyebut Indonesia saat ini tengah bersiap menuju implementasi bensin E10 atau campuran 10 persen bioetanol. Namun, pemerintah menargetkan peningkatan lebih cepat hingga mencapai E20.
“Hari ini kita dipaparkan, saya melihat pameran, sudah mampu menuju E10, etanol 10 persen. Jadi nanti bensin bisa dicampur etanol. Kita bisa sampai E20,” kata Prabowo.
Bangun Hingga 50 Pabrik Etanol
Untuk merealisasikan target tersebut, Prabowo menilai kapasitas industri pengolahan etanol harus diperkuat. Saat ini Indonesia baru memiliki satu pabrik etanol berskala besar, sehingga pembangunan fasilitas baru menjadi kebutuhan mendesak.
Karena itu, pemerintah memutuskan mempercepat pembangunan pabrik etanol di berbagai daerah.
“Butuh pabrik. Tadi pabriknya yang kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik,” ujarnya.
Prabowo optimistis target tersebut dapat diwujudkan mengingat sejumlah negara telah sukses mengembangkan bahan bakar berbasis etanol dalam skala besar.
Ia mencontohkan India yang telah menerapkan bensin E20, sementara Brasil bahkan mampu menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol hingga E100.
“India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia enggak bisa? Indonesia bisa, kan? Bisa?” tegasnya.
Implementasi E20 Dilakukan Bertahap
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan penerapan bioetanol akan dilakukan secara bertahap.
Pemerintah menargetkan implementasi bensin E5 atau campuran lima persen bioetanol mulai Juli 2026. Selanjutnya, kadar campuran ditingkatkan menjadi E10 pada 2027, sebelum mencapai target E20 pada periode 2028 hingga 2029.
Dengan ketersediaan bahan baku bioetanol yang melimpah serta percepatan pembangunan industri pengolahan, pemerintah optimistis program E20 dapat terealisasi sesuai target. Selain meningkatkan ketahanan energi nasional, kebijakan ini juga diharapkan mampu mengurangi impor bahan bakar fosil sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan industri bioenergi dalam negeri.

