Yogyakarta – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih terpantau tinggi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadi 30 kali guguran lava selama periode pengamatan Jumat (17/7) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, dengan jarak luncur terjauh mencapai 1,9 kilometer.
Data pemantauan tersebut mengindikasikan suplai magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih terus berlangsung. Kondisi itu berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas guguran sehingga masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan, guguran lava terpantau mengarah ke sejumlah alur sungai di lereng barat daya Merapi.
“Teramati 30 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1.900 meter,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Sabtu (18/7/2026).
Aktivitas Gempa Vulkanik Masih Tinggi
Selain guguran lava, aktivitas kegempaan Gunung Merapi juga masih cukup intens. Dalam 24 jam terakhir, BPPTKG merekam 110 kali gempa guguran, 63 gempa hybrid atau fase banyak, dua gempa vulkanik dangkal, serta satu gempa tektonik jauh.
Berdasarkan hasil pengamatan visual, puncak Gunung Merapi terlihat jelas karena kondisi cuaca cerah. Selama periode pengamatan, tidak terpantau adanya asap yang keluar dari kawah.
Sementara itu, suhu udara di kawasan Gunung Merapi berkisar antara 15,1 hingga 26,4 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan mencapai 68,9 hingga 93 persen.
Meski kondisi permukaan gunung relatif stabil, BPPTKG menegaskan aktivitas di dalam tubuh Merapi masih harus diwaspadai karena pasokan magma belum berhenti.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” kata Agus.
Status Siaga, Masyarakat Diminta Tidak Beraktivitas di Zona Bahaya
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya. Ancaman utama saat ini berasal dari guguran lava dan awan panas guguran, terutama di sektor selatan hingga barat daya.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi aliran Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jangkauan hingga 7 kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga radius 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer dari puncak. Jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau area dalam radius 3 kilometer dari kawah.
BPPTKG juga mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar dan awan panas guguran saat hujan turun di kawasan Merapi. Selain itu, masyarakat diminta mengantisipasi kemungkinan hujan abu apabila sewaktu-waktu terjadi erupsi.
Warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi diimbau terus memantau informasi resmi dari BPPTKG maupun pemerintah daerah sebagai acuan dalam beraktivitas dan mengantisipasi perkembangan aktivitas vulkanik.

