katafoto, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melayani hampir 400 juta penumpang selama periode Januari hingga September 2026. Secara nasional, jumlah pengguna kereta api meningkat sekitar 7%-8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Vice President Corporate Communications KAI, Anne Purba, menyebut kenaikan tersebut mencerminkan pertumbuhan volume penumpang di berbagai wilayah. Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang mencatat peningkatan, khususnya pada layanan kereta api jarak jauh.
“Untuk pertumbuhan kinerja KAI, khususnya volume penumpang secara KAI Group, ada kenaikan sekitar 7%-8%. Dari Januari sampai September, hampir 400 juta penumpang yang kami layani selama sembilan bulan,” kata Anne, Jumat (9/10).
Di wilayah operasional KAI Daop 6 Yogyakarta, jumlah pelanggan kereta api jarak jauh selama Januari-September 2026 mencapai 10.595.662 orang. Angka ini naik 7,86% dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang tercatat sebanyak 9.823.695 penumpang.
Dari total tersebut, sebanyak 5.303.898 penumpang berangkat dari stasiun-stasiun di wilayah Daop 6. Sementara itu, jumlah penumpang yang tiba di wilayah tersebut mencapai 5.291.764 orang.
Stasiun Yogyakarta menjadi stasiun tersibuk di wilayah Daop 6 berdasarkan volume penumpang. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tercatat 2.533.488 penumpang berangkat dan 2.492.080 penumpang tiba di stasiun tersebut.
Stasiun Lempuyangan dan Solo Balapan juga masuk dalam jajaran stasiun dengan jumlah penumpang tinggi di wilayah operasional tersebut.
KAI Siapkan Pengembangan Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan
Meningkatnya jumlah pengguna kereta api mendorong KAI merencanakan pengembangan Stasiun Yogyakarta dan Stasiun Lempuyangan. Pengembangan ini mencakup peningkatan konektivitas, integrasi transportasi antarmoda, pembenahan fasilitas stasiun, hingga penataan kawasan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).
Anne menjelaskan, keterhubungan stasiun dengan layanan transportasi publik menjadi salah satu aspek penting dalam rencana tersebut. Integrasi antarmoda diharapkan mempermudah mobilitas penumpang sekaligus mengurangi potensi kemacetan.
“Dengan bertumbuhnya volume penumpang kereta api, kita harus terintegrasi dengan transportasi publik untuk menghindari kemacetan,” ujarnya.
Sejumlah aspek yang masuk dalam rencana pengembangan antara lain penataan layanan kereta komuter dan antarkota, area parkir, akses naik-turun penumpang, serta fasilitas pendukung di stasiun.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, KAI juga menjalin koordinasi dengan kementerian, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan terkait.
“Dalam pengembangan kawasan, KAI tidak sendiri. Kita harus bekerja sama dengan berbagai pihak,” kata Anne.
KAI menyatakan akan terus memantau perkembangan jumlah penumpang dan kebutuhan layanan di berbagai daerah. Peningkatan kapasitas serta integrasi transportasi diharapkan dapat mendukung kelancaran mobilitas masyarakat seiring meningkatnya penggunaan kereta api.

