Jakarta – Indonesia pernah menghadapi wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Penyakit yang dipicu oleh bakteri Yersinia pestis ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia, dengan penularan melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.
Dalam beberapa tahun terakhir memang tidak ditemukan kasus pada manusia. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya terbebas dari penyakit ini.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menjelaskan adanya fenomena silent period, yakni masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi masih berpotensi muncul kembali.
“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto, pada Kamis (9/4).
Ia menilai, pes kemungkinan masih berada dalam fase tersebut. Hal ini diperkuat oleh temuan bahwa bakteri penyebabnya, beserta vektor dan reservoir seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Ristiyanto menambahkan, perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit ini. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia.
“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat. Ia menyebut perubahan iklim turut berperan dalam meningkatkan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada hewan tersebut.
Meski lebih dari satu dekade tidak ada kasus pada manusia, beberapa wilayah di Pulau Jawa masih tergolong sebagai daerah fokus, seperti Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.
Choirul mengingatkan agar kondisi ini tidak dianggap remeh. Menurutnya, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit tersebut telah benar-benar hilang.
Sebagai langkah pencegahan, ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, serta vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pengawasan di wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.
“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali,” pungkasnya.

