32.2 C
Jakarta
Senin, April 13, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANPes Belum Hilang, Peneliti Ungkap Penyakit Ini Masih “Tertidur” dan Bisa Muncul...

Pes Belum Hilang, Peneliti Ungkap Penyakit Ini Masih “Tertidur” dan Bisa Muncul Kapan Saja

Jakarta – Indonesia pernah menghadapi wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Penyakit yang dipicu oleh bakteri Yersinia pestis ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia, dengan penularan melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.

Dalam beberapa tahun terakhir memang tidak ditemukan kasus pada manusia. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya terbebas dari penyakit ini.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menjelaskan adanya fenomena silent period, yakni masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi masih berpotensi muncul kembali.

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto, pada Kamis (9/4).

Ia menilai, pes kemungkinan masih berada dalam fase tersebut. Hal ini diperkuat oleh temuan bahwa bakteri penyebabnya, beserta vektor dan reservoir seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Pes Belum Hilang, Peneliti Ungkap Penyakit Ini Masih “Tertidur” dan Bisa Muncul Kapan Saja
Bakteri Yersinia pestis. (Humas BRIN)

Ristiyanto menambahkan, perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit ini. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia.

“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat. Ia menyebut perubahan iklim turut berperan dalam meningkatkan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada hewan tersebut.

Meski lebih dari satu dekade tidak ada kasus pada manusia, beberapa wilayah di Pulau Jawa masih tergolong sebagai daerah fokus, seperti Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.

Choirul mengingatkan agar kondisi ini tidak dianggap remeh. Menurutnya, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit tersebut telah benar-benar hilang.

Sebagai langkah pencegahan, ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, serta vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pengawasan di wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.

“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali,” pungkasnya.

Baca Juga

Siap Jadi Destinasi Aman, Pemprov DKI Latih Balawista Demi Keselamatan Wisatawan

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Pusat...

Bahlil Buka Suara, Harga Avtur Naik Tapi Tetap Kompetitif di ASEAN

Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),...

Pemkot Tangerang Gaspol, 100 RTLH Prioritas Segera Diperbaiki

Tangerang - Sebagai upaya nyata meningkatkan kualitas tempat tinggal...

Jangan Sampai Boncos! Ini Batas Aman Utang dan Tabungan Menurut Pakar

Yogyakarta - Pola konsumsi masyarakat umumnya meningkat cukup tinggi...

Penjualan Melejit, Suzuki New Carry Jadi Andalan UMKM di Awal 2026

Jakarta - Segmen kendaraan niaga di Indonesia masih memperlihatkan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini