Yogyakarta – Buah salak kini tak lagi sekadar komoditas lokal. Melalui Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo, Salak Pondoh Super asal Sleman berhasil menembus pasar internasional dan memperkuat posisi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu sentra salak unggulan nasional.
Ketua paguyuban, Suroto, menjelaskan organisasi yang menaungi 12 kelompok tani di Kabupaten Sleman ini berperan dalam pemasaran hasil panen. Sepanjang 2025, paguyuban berhasil menghimpun sekitar 300 ton salak untuk dipasarkan, baik ke pasar domestik maupun ekspor. Sejumlah negara tujuan antara lain China, Kamboja, dan Rusia, sementara distribusi dalam negeri telah menjangkau ritel modern.
“Permintaan terbesar datang dari China. Mereka menyukai salak dengan tingkat kematangan medium, masih terasa renyah (crunchy),” ujar Suroto.
Ia menambahkan, frekuensi pengiriman ekspor sepanjang 2025 mencapai hampir 90 kali dengan total volume sekitar 700 ton. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 400–500 ton. Untuk 2026, paguyuban menargetkan ekspor meningkat hingga 800–900 ton.
Peningkatan produksi didorong oleh inovasi peremajaan tanaman berbasis dukungan Dana Keistimewaan (Danais). Jika sebelumnya petani menggunakan metode cangkok anakan dengan masa tunggu 4–5 tahun, kini beralih ke teknik cangkok induk yang mampu mempercepat masa berbuah menjadi sekitar satu tahun. “Ini lompatan besar. Produksi bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat,” jelasnya.
Langkah peremajaan tersebut dinilai penting mengingat produktivitas tanaman salak umumnya menurun setelah berusia 17 tahun. Dengan metode baru, tanaman dapat kembali produktif. Dalam satu rumpun yang terdiri dari dua pohon, rata-rata produksi mencapai 8–15 kilogram per tahun. Masa panen utama terjadi dua kali, yakni November–Desember dan April–Mei, sementara di luar periode tersebut tanaman tetap berbuah.
Untuk menjaga kualitas ekspor, paguyuban menetapkan standar ketat bersama kelompok tani, mulai dari ukuran, rasa, hingga tingkat kematangan. Produk yang dipasarkan adalah Salak Pondoh Super grade B yang tersedia sepanjang tahun. Sistem ini memastikan kontinuitas pasokan sekaligus menjaga kepercayaan pasar global.
Di sisi lain, paguyuban juga memberikan kepastian harga bagi petani melalui skema berbasis kesepakatan, tidak sepenuhnya mengikuti fluktuasi pasar. Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) sekitar Rp3.500 per kilogram, harga beli minimal ditetapkan Rp6.000 per kilogram di tingkat petani. “Yang penting petani dan paguyuban sama-sama diuntungkan. Ini untuk menjaga semangat petani agar tetap berproduksi,” tegas Suroto.
Ke depan, pasar ekspor terus diperluas ke sejumlah negara baru seperti Vietnam dan Australia. Untuk memenuhi permintaan yang meningkat, paguyuban juga menggandeng kelompok tani di luar DIY, termasuk dari Magelang dan Wonosobo. Langkah ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi petani untuk meningkatkan kualitas produk hingga memenuhi standar ekspor.
Salah satu petani dari Kelompok Tani Sumbermulyo, Bambang Haryanto, mengaku merasakan manfaat sejak bergabung dengan paguyuban pada 2020. Menurutnya, kepastian pasar dan stabilitas harga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
“Kalau di pasar harga bisa anjlok, tapi di paguyuban lebih stabil. Peremajaan dengan cangkok induk juga membuat produksi meningkat hingga dua kali lipat,” ungkapnya.
Meski demikian, tantangan regenerasi petani masih menjadi perhatian. Paguyuban terus mendorong model usaha yang lebih menarik agar generasi muda tertarik kembali ke sektor pertanian. “Bertani bukan pilihan terakhir. Kalau dikelola dengan baik, hasilnya sangat menjanjikan,” imbuh Suroto.

