29.2 C
Jakarta
Kamis, Juni 11, 2026
BerandaKATA EKBISKEUANGANRupiah Terkoreksi, Pengusaha Mulai Siapkan Strategi Darurat

Rupiah Terkoreksi, Pengusaha Mulai Siapkan Strategi Darurat

Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menyebut pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan serius terhadap dunia usaha. Kondisi tersebut membuat pelaku industri harus menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas bisnis.

Melemahnya kurs rupiah dinilai berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi, khususnya bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, tekanan nilai tukar juga memengaruhi kewajiban pembayaran utang perusahaan dalam denominasi dolar AS serta keputusan investasi di berbagai sektor.

Shinta mengatakan para pengusaha kini mulai memperkuat strategi mitigasi risiko untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

“Dari sisi antisipasi, memperkuat strategi manajemen risiko lebih komprehensif. Penggunaan instrumen lindung nilai terhadap fluktuasi nilai tukar ditingkatkan, disertai penataan struktur utang agar lebih seimbang,” ungkap Shinta kepada Beritasatu Jumat (15/5).

Selain memperkuat pengelolaan risiko keuangan, sejumlah perusahaan juga mulai melakukan efisiensi operasional. Langkah tersebut dilakukan melalui pengendalian belanja modal serta optimalisasi modal kerja guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

Menurut Shinta, pelaku usaha juga mulai melakukan diversifikasi pemasok dan mendorong penggunaan bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Namun demikian, ia mengakui kemampuan substitusi produk domestik di berbagai sektor industri masih terbatas sehingga belum sepenuhnya mampu menggantikan kebutuhan impor.

Shinta menilai dunia usaha sebenarnya masih memiliki ruang untuk beradaptasi di tengah tekanan ekonomi. Akan tetapi, kuatnya tekanan eksternal membuat proses penyesuaian bisnis tidak berjalan optimal.

Karena itu, Apindo menilai koordinasi kebijakan antara pemerintah, otoritas moneter, dan sektor riil menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Dalam situasi tekanan eksternal cukup kuat dan ruang pelonggaran kebijakan relatif terbatas, sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat krusial,” pungkas Shinta.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot pada Jumat (15/5) ditutup melemah 67 poin atau 0,39 persen ke level Rp17.596 per dolar Amerika Serikat.

Baca Juga

Jangan Terkecoh Label BPA Free, BPOM Minta Konsumen Lebih Cermat

Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan...

Belanja Makin Seru, Festival Jakarta Great Sale Targetkan Transaksi Rp16 Triliun

Jakarta - Ajang pesta diskon tahunan Festival Jakarta Great...

BMKG Ungkap Musim Kemarau Datang, Hujan Lebat Masih Mengintai

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan...

Rupiah Melemah, Peritel Wanti-Wanti Harga Fesyen di Mal Bakal Melonjak

Jakarta - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia...

Data Geospasial Dinilai Jadi Kunci Penyelesaian Sengketa Lahan Pasuruan

Jakarta - Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Bina Adwil)...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini