Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai humas pemerintah perlu memahami cara kerja algoritma media sosial agar komunikasi kebijakan dapat berjalan lebih efektif sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat di era digital.
Pernyataan tersebut disampaikan Nezar saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Komunikasi Kebijakan di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Jakarta Rabu (15/7).
Menurut Nezar, peran humas pemerintah saat ini tidak lagi sebatas menyampaikan informasi kepada publik. Lebih dari itu, humas harus mampu membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat melalui komunikasi yang transparan, akurat, serta berpihak pada kepentingan publik.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama komunikasi pemerintah adalah mempertahankan kepercayaan publik dengan menunjukkan bahwa pemerintah bekerja secara profesional, jujur, adil, dan bertanggung jawab.
“Tujuan utama government public relations adalah menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Karena itu, komunikasi yang dibangun harus mampu menunjukkan bahwa pemerintah kompeten, jujur, adil, dan benar-benar memperjuangkan kepentingan publik,” ujar Nezar.
Algoritma Bentuk Cara Publik Menerima Informasi
Nezar menjelaskan, algoritma media sosial berperan besar dalam membentuk pola konsumsi informasi masyarakat melalui fenomena filter bubble dan echo chamber.
Kondisi tersebut membuat setiap pengguna cenderung menerima informasi yang sejalan dengan pandangan atau preferensi mereka, sehingga memengaruhi cara publik memahami suatu isu.
Menurutnya, pemerintah memang tidak dapat mengendalikan algoritma yang dimiliki platform digital. Namun, humas pemerintah perlu memahami logika kerja media sosial agar mampu menyusun strategi komunikasi yang lebih efektif.
“Algoritma tidak bisa kita ubah karena bukan kita yang mengendalikannya. Yang dapat dilakukan adalah memahami bagaimana logika media sosial bekerja sehingga kita mampu membangun narasi secara bertahap,” jelasnya.
Strategi Komunikasi Harus Berbasis Data
Selain memahami karakter media sosial, Nezar menilai keberhasilan komunikasi pemerintah juga ditentukan oleh kemampuan memilih juru bicara yang tepat, menyusun pesan dengan bahasa yang mudah dipahami, serta memanfaatkan momentum agar informasi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Ia juga mendorong humas pemerintah meningkatkan kemampuan analisis data untuk memetakan aktor, pola penyebaran isu, hingga perkembangan narasi yang beredar di ruang digital.
Menurutnya, pemanfaatan ilmu data (data science) akan membantu humas menyusun strategi komunikasi yang lebih terukur dan tepat sasaran.
“Yang terpenting saat ini adalah kemampuan membaca data. Data science sangat membantu pekerjaan humas. Jika kita tidak terus belajar, kita akan tertinggal dalam persaingan narasi di ruang digital,” kata Nezar.
Nezar menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan aset terpenting dalam komunikasi pemerintahan. Oleh karena itu, setiap informasi yang disampaikan kepada publik harus mengedepankan prinsip akurat, jujur, adil, dan bertanggung jawab.

